Tuesday, 22 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Jangan Jadi Antek!

Kalau sampai saat ini SBY menunjukkan respon terkejut atas ditangkapnya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, maka publik sudah sulit percaya. Apalagi karena reputasi SBY selama ini dikenal sangat tunduk pada AS.

Oleh: Lathifah Musa

Ramadhan tahun ini diawali dengan kesedihan umat Islam. Persoalan masyarakat kecil kian membelit. Belum selesai soal maraknya ledakan bom elpiji, masyarakat diresahkan oleh naiknya TDL yang memicu kenaikan harga-harga barang-barang kebutuhan pokok. Belum selesai dicekam resah karena maraknya penculikan anak dan bayi-bayi, masyarakat dikejutkan oleh penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88. Isu yang banyak beredar adalah Indonesia makin tunduk pada Amerika. Karena banyak kebijakan publik yang dilatari oleh kesepakatan-kesepakatan Indonesia  dengan AS, baik melalui Bank Dunia, IMF, UNDP, ADB atau langsung dengan pemerintahnya. Termasuk yang terakhir ini penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, seorang Ustadz sepuh yang sangat gigih memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah..

Sejak awal banyak kalangan umat Islam yang memandang bahwa kasus ini adalah bagian dari pesanan Asing. Sejak masa presiden-presiden sebelumnya, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir memang selalu menjadi incaran AS untuk ditangkap. Bahkan AS menginginkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dikirim langsung ke Guantanamo. Namun sampai saat itu, belum ada delik aduan yang tepat sehingga Ust. Abu Bakar Ba’asyir  bisa dituduh teroris. Presiden-presiden sebelumnya pun masih ketar-ketir dengan amarah rakyat bila Ustadz Abu diperlakukan dengan kasar.

Hingga terjadilah kasus penangkapan orang-orang yang terbukti melakukan pelatihan militer di Aceh. Menurut sumber Kompas, pernyataan dari kepolisian sendiri, salah satu yang ditangkap adalah Sufyan Tsauri, anggota Polres Depok yang pernah bertugas di Aceh dan menikahi seorang wanita Aceh. Sufyan desersi dan dipecat Mei 2009. Setelah berhenti dari Polri, Sofyan direkrut Oman Abdurrahman yang juga merekrut Yuli Harsono saat di LP. Oman, menurut Edward Aritonang , mencari bekas anggota TNI/ Polri untuk diangkat sebagai pelatih. Beberapa bekas anggota TNI/Polri terekrut dan mereka diminta mempersiapkan sukarelawan ke Gaza. Walaupun setelah latihan mereka belum jadi ke Gaza, tetapi inti dari pelatihan-pelatihan militer adalah untuk mempersiapkan sukarelawan ke Gaza. Saat itu masyarakat Indonesia sedang geram dan marah terhadap kebiadaban Israel.

Kalau sampai saat ini SBY menunjukkan respon terkejut atas ditangkapnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, maka publik sudah sulit percaya. Apalagi karena reputasi SBY selama ini dikenal sangat tunduk pada AS. Dalam salah satu pernyataan yang beredar di internet, SBY mengatakan: “Tidak usah takut dengan tetangga-tetangga atau ancaman dan semacamnya karena mata Amerika selalu mengawasi kawasan ini dan mereka ada di belakang saya. Kecil atau besar anggaran militer tidak ada pengaruhnya karena Amerika sudah janji untuk backup saya”.

Pernyataan ini sangat mengejutkan, mengenaskan, memalukan dan memilukan bila demikian adanya. Karena sama saja dengan menyerahkan kedaulatan bangsa sendiri kepada bangsa lain, yang nota bene adalah Negara Teror No 1 di dunia. Akhirnya masyarakat pun paham, mengapa banyak kapal-kapal AS bebas berkeliaran di perairan Indonesia. Kerjasama OKEANOS di perairan Sulawesi Utara, melibatkan kapal-kapal selam AS yang canggih. Di perairan Wakatobi, Bunaken, semuanya sudah seperti wilayah internasional. Bahkan dikapling-kapling sehingga nelayan lokal menjadi korban karena tidak bebas melaut. Dalam Sail Banda yang juga dipromosikan oleh SBY, perahu yang datang pertama kali adalah perahu AS. Tidak aneh karena memang banyak yang berkeliaran.

Betapa  menyedihkan bahwa kini Indonesia sudah di bawah keamanan AS. Bahkan warga negara yang latihan militer mandiri, dalam rangka –bisa jadi niatnya untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dari penjajahan Asing– langsung dituduh teroris. Betapa pecundangnya pemimpin negeri ini.

Jangan jadi Antek! Karena siapapun antek AS akan berhadapan dengan ratusan juta penduduk Indonesia, yang insya Allah semakin lama semakin bertambah, baik dari sisi jumlah, keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Jangan jadi Antek! Karena hanya memupuk kebencian dan kemarahan dari seluruh masyarakat yang selama ini sudah sangat bersabar dengan penderitaan-penderitaan akibat kelalaian penguasanya. Di bulan Ramadhan ini, doa orang-orang terzhalimi sangat mudah diijabah. Ya Allah, jangan masukkan surga orang-orang yang menipu rakyatnya. Sengsarakanlah mereka di dunia dan di akhirat.

Selagi maut belum menjemput, masih ada peluang untuk bertaubat! Makanya jangan jadi Antek.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya; jangan pula kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui. (QS al-Anfal [8]: 27)

You may have missed