Jadi Direktur Bank Dunia Kok Bangga?

Oleh Umar Abdullah

Presiden Bank Dunia Robert Zoellick bersama Sri Mulyani Indrawati | Foto: getty images

Bagi sebagian orang, menjadi pegawai bank adalah kebanggaan. Apalagi jadi direkturnya. Akhir era 80-an banyak sarjana yang jadi pegawai bank. Tapi sejak banyak bank yang bangkrut akibat salah urus, ditambah tak sedikit bank yang menipu nasabahnya, kebanggaan itu semakin surut.

Belum lagi setelah kita sadar bahwa praktek riba yang dikenal dengan istilah ”bunga bank” adalah haram, maka pupus sudah kebanggaan menjadi pegawai bank. Walau bagi sebagian orang, perbankan membantu urusan mereka dalam permodalan usaha, namun karena prakteknya tidak diridhai Allah, maka urusan pinjam meminjam dengan perbankan jauh dari berkah dan dekat dengan siksa. Menolak hadiah dari kerabat yang kerja sebagai direktur bank pun menjadi lebih tentram daripada menerimanya.

Tanggal 5 Mei 2010 kita mendengar berita bahwa Sri Mulyani, Menkeu yang diduga menjadi pelindung kejahatan Bank Century ini, diangkat jadi Managing Director Bank Dunia. Sebenarnya berita itu tidak mengagetkan. Karena sebelum jadi Menkeu, Sri Mulyani pernah jadi Directur IMF untuk kawasan Pasifik. Orang pun mengenalnya sebagai salah satu pengusung neoliberalisme di Indonesia.

Yang mengagetkan adalah ketika sebagian media massa yang selama ini seolah-olah anti neolib, tiba-tiba bangga dengan diangkatnya Sri Mulyani menjadi pejabat di bank yang menjadi alat neolib internasional. Lupakah mereka bagaimana peran World Bank (Bank Dunia) dalam privatisasi sumber daya air di Indonesia? Bank yang kelahirannya direkayasa oleh AS ini tidak sekedar sebagai bank yang mempraktekkan riba, tetapi juga sebagai alat para kapitalis (khususnya kapitalis AS) untuk meliberalkan sebuah negara melalui privatisasi, memerasnya, dan membuatnya selalu tergantung dengan pinjaman darinya. Jahat benar bank ini!

Lebih mengagetkan lagi, ternyata SBY juga bangga dengan ditunjuknya Sri Mulyani jadi direktur bank jahat ini. SBY berharap Sri Mulyani bisa membantu bank jahat ini menolong negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Itu berarti SBY ingin campur tangan Bank Dunia semakin dalam di Indonesia? Wow, teringat saya perang opini menjelang Pilpres 8 Juli 2009. Saat itu banyak yang menuding SBY sebagai neolib.  Serta merta SBY dan tim kampanyenya mencak-mencak tak mau dibilang neolib. Mungkin takut tak terpilih jadi presiden. Tapi sekarang, betapa mudahnya SBY membuka topeng sendiri. Ya Allah, tanda-tanda apa ini?[]

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

2 Responses

  1. author

    budi9 years ago

    ulasan yang gak menarik

    Mohon agar admin memberikan ulasan yang memang permasalahan dari segi yang bijak. Bangga menjadi pimpinan itu harus. Bunga bank yang riba dan dosa itu masalah lain.

    Kalo urusan dunia dan akhirat bisa dipisah dengan baik, Insya Allah, cara pandang kita dengan masalah pasti juga akan obyektif…..

    Thankyou…

    Reply
  2. author

    Wenny9 years ago

    Komentar Budi adalah komentar seorang Sekuler sejati, yang memisahkan urusan di dunia dengan akibat di akhirat. Karena seorang yang beriman akan menyakini bahwa apa yang diperbuatnya di dunia punya balasan di akhirat, sehingga ia selalu berhati-hati dalam berbuat, jangan sampai ia berbuat jahat apalagi menjadi pemimpin kejahatan.

    Tulisan “Jadi Direktur Bank Dunia Kok bangga” justru sangat bijak karena mendudukkan persoalan pada fakta yang sebenarnya, menjelaskan siapa sebenarnya Bank Dunia, dan betapa buruknya menjadi pimpinan Bank Dunia. Karena lebih baik menjadi ekor kebajikan daripada menjadi kepala kejahatan. Sebaiknya Admin tidak mengupload komentar Budi yang tidak objektif sekaligus tidak berbudi.

    WENNY

    Reply

Leave a Reply