Friday, 18 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Mencari Madzhab yang Benar

Sebagai umat muslim saya kadang-kadang masih bingung tentang cara-cara shalat yang benar. karena banyak perbedaan dalam setiap mahzab yang ada. Pertanyaan saya "sebenarnya cara-cara shalat yang benar itu dari mahzab yang mana, karena terkadang saya bimbang akan hal ini?

Tanya:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Sebagai umat muslim saya kadang-kadang masih bingung tentang cara-cara shalat yang benar. karena banyak perbedaan dalam setiap mahzab yang ada. Pertanyaan saya “sebenarnya cara-cara shalat yang benar itu dari mahzab yang mana, karena terkadang saya bimbang akan hal ini?
Wahid (via e-mail)

Jawab:

‘Alaykum salam wr. wb.

Adik Wahid, perbedaan pendapat dalam Islam itu boleh saja selama tidak dalam dua hal; masalah akidah dan hukum syara’ yang telah qath’iy. Maka tidak boleh ada beda pendapat mengenai sifat Allah, keberadaan Allah, Nabi terakhir, kesucian Al Quran, dsb. Demikian pula tidak boleh ada perbedaan dalam kewajiban shalat 5 waktu, puasa Ramadlan, haji, jihad, melaksanakan potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, dsb.

Tetapi dalam sejumlah hukum syara’ memang dimungkinkan terjadinya perbedaan, Hal ini sudah terjadi semenjak jaman Nabi saw dan para sahabat. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Rasulullah bersabda kepada kami ketika pulang dari (Perang) Ahzab, ‘Janganlah sekali-kali seseorang shalat Ashar kecuali di bani Quraizhah.’ Sebagian dari mereka melaksanakan shalat Ashar di jalan, dan sebagian lagi berkata, ‘Kami tidak shalat sehingga sampai di sana.’ Sebagian dari mereka berkata, ‘Bahkan, kami shalat, karena bukan itu yang dimaksudkan terhadap kami.’ Lalu, mereka menyebutkan kepada Nabi, maka beliau tidak memaki salah seorang pun dari mereka.”

Artinya, masalah khilafiyah/perbedaan pendapat selama dalam hal yang dimungkinkan adalah sah. Misalnya soal batal wudlu, berqunut/tidak, jumlah rakaat shalat tarawih, dsb.

Lalu sikap kita bagaimana? Sebagai orang awam/muqallid/pengikut, kita harus belajar untuk memahami dalil-dalil masalah itu dari para ulama dan mengikuti pendapat yang kita anggap benar sambil menghormati pendapat yang lainnya. Semoga tidak bingung lagi ya. [M. Iwan Januar]

You may have missed