Anak Belajar dari Kehidupannya

O. Solihin

Bro en Sis, mungkin kamu tahu berita tentang anak umur 4 tahunan yang udah lihai merokok dan terbiasa bicara cabul. Aduh, pas tahu ada berita ini, saya sedih banget. Terus jadi inget deh waktu saya nulis di buku Jangan Jadi Bebek (2002). Pada bagian akhir buku ini membahas tentang perilaku orang tua yang akan dicontek oleh anak-anaknya. Baik orang tuanya, insya Allah baik anaknya. Buruk orang tuanya, buruk pula anaknya. So, emang kudu ati-ati memberikan contoh perilaku kepada anak kecil. Memang sih, nggak murni salah orang tua kandungnya aja. Orang dewasa di sekitar kehidupan anak kecil juga akan turut mempengaruhi lho.

Ada pepatah/peribahasa lama, “Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga”. Yup, pepatah ini pernah menjadi judul tulisan di buku saya, Jangan Jadi Bebek. Dengan indah peribahasa itu mengumpamakan orang tua sebagai atap, bagian paling atas dari rumah. Posisi yang memberikan perlindungan kepada seluruh anggota keluarga. Atap jugalah yang kemudian meneteskan air ke pelimbahan, yakni anak-anak kita. Dan air, adalah karakter yang diwariskan kepada anak-anak, meluncur deras – sesuai sunatullah — dari atap menuju pelimbahan.

So, disadari atau nggak tingkah laku dan kebiasaan para orang tua, sebenarnya menjadi cerminan bagi anak-anak di rumah. Memang benar ada karakter yang diwariskan secara genetis kepada anak-anak, seperti yang diuraikan berbab-bab oleh para ahli biologi. Tetapi sebenarnya jauh lebih banyak karakter yang diperoleh anak-anak dari hasil didikan kita.

Anak-anak belajar dari orang tua mereka dengan cara mendengarkan, mengamati dan memikirkan tingkah laku orang tua. Ayah dan ibunya mengajak anak-anak untuk sholat, akan direkamnya, kebiasaan ibunya membuatkan secangkir kopi bagi ayahnya, kebiasaan ayahnya berpamitan kepada ibunya saat berangkat ke tempat kerja, kebiasaan mereka berdua mencurahkan kasih sayang pada mereka, anak-anaknya, menjadi pelajaran-pelajaran yang lebih berkesan ketimbang duduk mendengarkan ceramah berjam-jam. Bahkan kebiasaan ‘sepele’ seperti jam berapa menyalakan televisi dan acara apa yang biasa kita saksikan, seluruhnya terekam baik dalam ingatan anak.

Anak-anak adalah cermin bagi orang tua. Bagaimana orang tuanya, begitulah anaknya. Like father, like sons. Saat para orang tua menatap mata anaknya, mengamati bentuk hidungnya, cara berjalannya dan gaya bicaranya, pasti mereka akan temukan diri mereka pada anak-anaknya. Maka bila kita tidak ingin dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti kita pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri. Setuju kan, Bro?

Salah asuhan

Ini bukan judul cerita roman karya Abdoel Moeis, lho. Meski mungkin saja kisah di dalamnya mirip dengan kondisi masyarakat kita saat ini. Silakan dibaca aja novelnya. Yup, Salah Asuhan bukan sekadar novel biasa, ia juga merupakan pandangan kritis pengarangnya, Abdoel Moeis, terhadap dampak politik etis (Etische Politiek) yang dilancarkan pemerintah Hindia Belanda sejak awal abad ke-20. Moeis menyiratkan pesan, pendidikan Barat yang dinikmati sebagian kaum bumiputra seharusnya tak membuat mereka tercabut dari akar budayanya. “Orang Timur jangan sekali-kali menjadi sepuhan Barat,” ujar Mariam, ibu dari tokoh utama novel ini, Hanafi.

Ok, kisah hidup di novel itu mirip-mirip dikitlah dengan kondisi kehidupan kita sekarang. Sekularisme, hedonisme, permisifisme, liberalism menjadi bagian dari hidup kita. Jelas ini salah asuhan. Sebab masyarakat Indonesia, khususnya yang muslim seharusnya menjadikan Islam sebagai pilihan dan bagian dalam hidupnya. Seluruh hidupnya adalah cerminan dari ajaran Islam. Kalo boleh menggunakan istilah full time muslim, maka seorang muslim dalam seluruh hidupnya harus senantiasa menjadi muslim dan mengamalkan ajaran Islam. Nah, kalo pengen lengkap gimana itu model Full Time Muslim, insya Allah penjelasan detilnya ada di buku yang sedang saya garap tersebut (hehehe.. jadi promosi deh gue!).

Bro en Sis, Kak Seto Mulyadi dari Komnas Perlindungan Anak bilang bahwa kasus serupa Sandi (bocah 4 tahun yang merokok dan videonya udah tayang di Youtube itu), saat ini di Indonesia ada 12 kasus. Walah, banyak amat! Kirain cuma anak itu aja. Ckckck… kasihan juga ya. Waktu mencoba searching di mbah google, saya ngeri banget membaca berita yang bertebaran di sana, plus yang bikin penasaran adalah di sebuah blog ditampilkan juga video berdurasi 3:29 menit yang merekam aktivitas Sandi yang lagi ngerokok dan berkata cabul.

Kalo diperhatiin emang itu ada peran orang dewasa di sekitarnya. Dia menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan orang dewasa (yang tidak diperlihatkan batang hidungnya) seputar kata-kata cabul. Setelah Sandi menjawab, terdengar tertawa ngakak dari sejumlah orang dewasa di sekitarnya. Astaghfirullah. Udah deh, haqqul yakin kalo ini memang ada peran orang dewasa dalam membentuk perilaku anak itu. Bener-bener salah asuhan. Kasihan dia. Oya, update terakhir bocah itu udah mulai berkurang aktivitas merokoknya sejak publik tahu kasus dia dan banyak yang merhatiin serta mau bantu menyelesaikan masalahnya. Syukurlah kalo memang begitu. Mudah-mudahan bisa dibina dengan cara yang benar dan baik.

Bro en Sis, orang tua memang paling bertanggung jawab, tapi tentu saja lingkungan sekitarnya juga harus ikut mencontohkan perilaku yang baik. Bukan perilaku yang malah memberikan efek negatif, apalagi kepada anak-anak kecil yang memang mudah untuk meniru.

Tanggung jawab bersama

Sobat muda muslim, benar banget bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang, tentu tidak muncul begitu saja. Para orang tua dan orang-orang dewasa di sekitarnyalah yang merekayasa semuanya. Jadi waspadalah!

Maka tidak ada ‘horor’ yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. James Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai communicable disease (penyakit menular). Karena itu Islam sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,” kata Rasulullah saw. Bahkan Allah Swt. berfirman: “Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (QS an-Nisâ’ [4]: 1).

Tidak ada tempat yang lebih aman bagi seorang anak selain di dalam pelukan orang tuanya. Karena anak-anak senantiasa membutuhkan kekuatan untuk bersandar, dada untuk menangis dan contoh untuk belajar. Bila kita memberikan itu semua pada mereka, maka lebih dari sekadar perwujudan kasih sayang, tapi bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

Ada sebuah riwayat menarik mengenai hal itu. Diriwayatkan bahwa ada seorang seorang perempuan miskin datang menemui Aisyah r.a. “Ia membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda; “Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Selain itu anak-anak juga memiliki hak untuk mendapatkan harta dan pendidikan. Tanpa keduanya, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lemah. Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS an-Nisâ’ [4]: 9).

Bukanlah orang tua yang baik yang meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah. Baik iman, ilmu dan harta. Anak-anak membutuhkan semuanya.

Suatu  ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. “Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?”

“Agama,” jawab Luqman.

“Kalau dua?”

“Agama dan harta.”

“Kalau tiga?”

“Agama, harta dan rasa malu.”

“Bila empat?”

“Agama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia.”

“Jika lima?”

Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia dan dermawan.”

Anaknya bertanya lagi, “Jika enam?”

Luqman menjawab, “Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba maka dia adalah orang yang bertakwa, dan Allah akan menolong orang yang menjauhi syetan.”

Yuk, kita jaga bersama masa depan generasi muslim. Agar mereka tumbuh dengan benar dan baik. Kalo bocah usia 4 tahun itu fasih berkata-kata cabul dan lihai merokok, itu membuktikan bahwa dia memang belajar dari kehidupannya. Pastilah, itu karena dia melihat faktanya dan bisa jadi di-create oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Apalagi kasus serupa lainnya, bocah umur 3 tahun merokok karena kakek dan kakaknya merokok dan si bocah melihat kenyataan itu. Waduh, ngeri deh. Saya kepikiran juga, kalo bocah-bocah itu dengan mudah bisa merokok, seharusnya dia bisa juga diarahkan untuk hal positif. Karena anak-anak memang relatif lebih mudah dibentuk karakternya ketimbang yang udah bangkotan. Semoga ini menjadi pelajaran kita semua dan mulai berpikir serius untuk menyelamatkan generasi ini dari pengaruh buruk. Yuk dakwah yuk! [solihin: osolihin@gaulislam.com | dimuat di buletin remaja gaulislam edisi 129/tahun ke-3, 12 April 2010]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *