Saturday, 26 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Terorisme, Islam dan Operasi Intelijen

Tulisan ini sekedar memberi gambaran awal tentang keterkaitan fenomena dunia intelijen dengan upaya stigmatisasi Islam di balik isu terorisme. Gambaran awal yang dimaksud adalah karena dalam informasi terkait dunia intelijen sangat dekat dengan kondisi politik (nasional dan internasional), sehingga memerlukan pengamatan-penelusuran-penelaahan (mutaba'ah) yang senantiasa berlanjut, tidak pernah boleh terputus.

Oleh: Lathifah Musa

Tulisan ini sekedar memberi gambaran awal tentang keterkaitan fenomena dunia intelijen dengan upaya stigmatisasi Islam di balik isu terorisme. Gambaran awal yang dimaksud adalah karena dalam informasi terkait dunia intelijen sangat dekat dengan kondisi politik (nasional dan internasional), sehingga memerlukan pengamatan-penelusuran-penelaahan (mutaba’ah) yang senantiasa berlanjut, tidak pernah boleh terputus. Apalagi informasi dunia intelijen pada dasarnya bersifat tertutup dan rahasia. Terungkapnya suatu berita dunia intelijen bisa berarti: (1) kebocoran atau (2) rekayasa yang disengaja untuk membentuk opini publik agar menyimpang dari fakta sebenarnya.

Namun dengan memahami kerja intelijen dan fakta dunia intelijen saat ini, akan memudahkan kita untuk menarik garis-garis informasi yang mendekati kebenaran. Informasi ini penting untuk mengambil sikap atau cara-cara yang tepat dalam menyikapi peristiwa aktual, khususnya terkait dengan isu terorisme saat ini.

Intelijen dan Dunia Intelijen

Intelijen  secara bahasa adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detil dan keakuratannya, berbeda dengan “data“, yang berupa informasi yang akurat, atau “fakta” yang merupakan informasi yang telah diverifikasi. Intelijen kadang disebut “data aktif” atau “intelijen aktif”, informasi ini biasanya mengenai rencana, keputusan, dan kegiatan suatu pihak, yang penting untuk ditindak-lanjuti atau dianggap berharga dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen. Pada dinas intelijen dan dinas terkait lainnya, intelijen merupakan data aktif, ditambah dengan proses dan hasil dari pengumpulan dan analisa data tersebut, yang terbentuk oleh jaringan yang kohesif. Kata intelijen juga sering digunakan untuk menyebut pelaku pengumpul informasi ini, baik sebuah dinas intelijen maupun seorang agen.1

Pada dasarnya, intelijen bersifat mengumpulkan informasi, terutama yang berurusan dengan masalah negara, juga ditambah dengan usaha sejauh mana menyelesaikan setiap ancaman yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya yang dikenal dengan operasi intelijen. Sebagai contoh di Amerika Serikat terdapat undang-undang intelijen yang isinya “..serta usaha usaha yang dilaksanakan untuk menghadapi ancaman terhadap kepentingan nasional”. Maka muncullah operasi-operasi seperti usaha penggulingan terhadap Presiden Soekarno dengan memberikan bantuan senjata kepada kaum pemberontak pada dekade 1950-an, Invasi Teluk Babi di Kuba tahun 1960-an, usaha pembunuhan Presiden Saddam Hussein dan lain-lain. 1

Dalam dunia intelijen saat ini, dikenal:

  1. Intelijen pemerintah, yang biasanya diserahkan pada dinas intelijen, yang umumnya diberikan dana besar yang dirahasiakan. Dinas-dinas ini mengumpulkan informasi dengan berbagai cara, dari penggunaan agen rahasia, menyadap saluran komunikasi, sampai penggunaan satelit pengintai.
  2. Intelijen militer adalah kegiatan dalam perang yang melakukan pengumpulan, analisa, dan tindak lanjut atas informasi tentang musuh di lapangan. Kegiatan ini memakai mata-mata, pengintai, peralatan pengamatan yang canggih, serta agen rahasia.
  3. Intelijen bisnis merupakan informasi rahasia yang didapatkan suatu perusahaan mengenai saingannya dan pasar.

Prinsip kerja intelijen juga digunakan untuk mengatasi kriminalitas dan kejahatan yang terjadi di masyarakat. Umumnya digunakan oleh kepolisian dengan menggunakan unit-unit reserse atau kejaksaan seperti di Amerika Serikat (FBI), detektif bahkan wartawan untuk mencari sumber berita. Masing masing memiliki kode etik tersendiri. 1

Di dalam Islam, aktivitas intelijen menjadi bagian dari tanggung jawab Negara dalam rangka mengetahui kekuatan, strategi, tujuan, serta tempat-tempat strategis musuh yang sedang memerangi negara. Kerja intelijen ini berada di bawah wewenang Departemen Peperangan (Dairah Harbiyah). Sementara terkait dengan stabilitas keamanan dalam negeri, aktivitas intelijen ditangani oleh Departemen Dalam Negeri (Dairah Amnid Dakhili). Pelaksanaan aktivitas intelijen dalam Islam, terikat dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan syara’ .2

Fenomena Dunia Intelijen

Dewasa ini, umumnya setiap negara memiliki badan-badan atau lembaga intelijen intelijen baik yang berdiri sendiri ataupun dibawah institusi lain. Ada badan intelijen yang keberadaannya diketahui publik atau ada yang rahasia. Beberapa badan Intelijen yang dikenal di dunia antara lain :

  1. CIA ( Amerika Serikat)
  2. KGB ( Uni Soviet)
  3. FSB ( Rusia)
  4. MI6 ( Britania Raya)
  5. Mossad ( Israel)
  6. BIN ( Indonesia)
  7. STASI (Jerman Timur)
  8. ASIO ( Australia)
  9. DIE ( Rumania)

Beberapa fenomena yang pernah terjadi dalam dunia intelijen yang bisa menjadi informasi untuk mengenal karakter intelijen negara-negara di dunia saat ini antara lain:

  1. Presiden Uni Soviet, Yuri Andropov adalah seorang direktur KGB
  2. Asisten khusus Presiden Franklin D. Roosevelt, Lauchin Currie adalah mata-mata Uni Soviet sekalipun dia membantah, tetapi dokumen-dokumen mebuktikan hal tersebut.
  3. Diduga, dua-pertiga staf di kedutaan Uni Soviet adalah agen KGB.
  4. Presiden Rusia Vladimir Putin pernah menjadi agen KGB yang bertugas di Jerman Timur.
  5. Agen KGB dapat mengetahui berapa jumlah anggota FBI dan letak kendaraan mereka diparkir. 1
  6. Mossad bergerak di Indonesia dengan pusat komando berada di Singapura. Agen yang bergerak tidak banyak, tetapi mampu melakukan infiltrasi ke dalam instansi pemerintahan.

Operasi Intelijen Asing dan Stigmatisasi Islam sebagai Teroris

Pemaparan berikut dari Letjen (Purn) ZA Maulani, seorang Mantan Kabakin di Indonesia, semakin menunjukkan hubungan yang tegas bahwa terjadi operasi intelijen asing di Indonesia  dalam rangka stigmatisasi negatif terhadap Islam:

Makin meningkatnya operasi intelijen asing, terutama intelijen Barat di Indonesia, terlihat dengan munculnya propaganda hitam di situs internet TIME.com edisi 17 September 2002, yang menurunkan berita menarik tentang Omar Al-Farouq, sebagai awal dari suatu operasi intelijen yang sistemik untuk mengubah Indonesia tidak lagi menjadi “Mata rantai paling lemah di Asia Pasifik dalam rangka upaya memerangi jaringan terorisme international”. Amunisinya adalah tentang hadirnya gerakan islam fundamentalis yang digerakkan oleh suatu organisasi, Jama’ah Islamiyah, yang gerakannya oleh kaum fundamentalis muslim warga negara Indonesia untuk mendirikan “super-state” Islam di Asia Tenggara. Tujuan akhir dari kampanye intelijen ini adalah untuk menguasai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kampanye anti-terorisme Amerika Serikat di Indonesia seluruhnya hanya didasarkan pada pengakuan Al-Farouq segera diikuti dengan pernyataan-pernyataan yang sifatnya menekan Indonesia dari para proxy Amerika, seperti “sheriff Amerika” John Howard dari Australia, “jurubicara” menteri senior Singapura Lee Kuan Yew, yang menuduh melalui majalah the Far Eastern Economic Review Hongkong, bahwa ada “ratusan gerakan Islam radikal di Indonesia yang berpotensi sebagai organisasi teroris.” Pernyataan Lee Kuan Yew itu menggebyah-uyah semua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia adalah organisasi teroris.3

Konon menurut CIA Al-Faruq adalah tokoh kakap Al Qaedah di Asia Tenggara yang berhasil diciduk, dikesankan sebagai prestasi terpenting CIA di Asia Tenggara. Mengapa? Karena ia dinyatakan sebagai tangan kanan Usamah bin Ladin, yang mendapat tugas untuk mengkoordinasikan gerakan Islam radikal di Asia Tenggara. Ia tokoh penting terutama dengan kegiatan untuk mendirikan sebuah “super-state” Islam di Asia Tenggara. Ia disebutkan banyak menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh Islam radikal Indonesia, antara lain dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin pondok pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini adalah Amir Majelis Mujahidin Indonesia, yang dituduh sebagai “sayap” Al Qaedah di Indonesia. 3

Dalam dokumen CIA itu ada banyak nama Arab tokoh-tokoh Al-Qaedah yang berada dalam jaringan korespondensi Al Farouq. Antara lain, ada nama-nama Dr. Ayman Al Zawayhiri dan Mohammad Atef. Kedua tokoh puncak Al Qaedah itu dilaporkan pernah mengujungi Poso dan Ambon pada tahun 2000, dua tempat bergolak yang oleh CIA dituduh akan dijadikan sebagai basis baru Al Qaedah, sebagai Afghanistan kedua. 3

Dari laporan-laporan CIA yang dibocorkan melalui media massa, Amerika Serikat ingin membangun kesan bahwa jaringan Al Qaedah di Indonesia merupakan serius. Laporan itu juga mengatakan Al Qaedah berhasil membangun sebuah “kamp latihan militer” di Poso. Selain Poso ada tiga buah lagi di Kalimantan, antara lain sebuah di Balikpapan. Tanggal 18 Januari 2002 melalui juru bicara BIN Muchyar Mara mengulang kembali bahwa di Poso ada pusat kamp pelatihan teroris Islam meski berkali-kali dibantah oleh pejabat setempat. 3

Sekedar sebagai contoh, pusat latihan militer kaum Islam radikal di Kalimantan yang disebut-sebut dalam laporan CIA itu ternyata pondok pesantren Hidayatullah, yang ada di Desa Gunung Tembak, Balikpapan. Kampus pondok pesantren Hidayatullah itu terdiri dari suatu hamparan seluas 30 hektar dengan bangunan masjid, gedung pertemuan unum, ruang belajar, bedeng-bedeng perbengkelan mesin dan alat-alat pertanian, hamparan lahan ladang tempat para santri praktek bertani, sebuah danau buatan yang asri sebagai reservoir air bagi kawasan Desa Gunung Tembak, dan asrama bagi santri putra maupun putri serta kawasan perumahan para ustadz. kawasan ini, karena design lengkapnya, pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru karena jasa-jasa Hidayatullah mengubah tanah gersang di sana menjadi lahan subur. 3

Bertetangga dengan pesantren Hidayahtullah di desa Mandar berdiri tegak pangkalan Yonif 600 Lintas-Udara, pasukan cadangan pemukul dari Kodam VI/ Tanjungpura, dan agak ke selatan lagi berdiri basis kompi Kopasgat TNI AU yang bertugas mengamankan kawasan bandara internasional Sepinggan, Balikpapan. Di antara pangkalan-pangkalan ini dengan pesantren, yang dahulunya hanyalah hutan dan semak belukar, berkat bimbingan pesantren Hidayatullah, itulah “pusat latihan militer” di Balikpapan menurut versi CIA.3

Fakta terakhir adalah kasus Bom Mega Kuningan 2009. Banyak pengamat dunia intelijen menilai perkembangan kasus ini mengarah pada stigmatisasi terorisme dalam Islam. Hal ini menyangkut berbagai kepentingan, mulai dari Internasional hingga nasional. Berbagai analisa masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun arus dugaan mengarah pada upaya-upaya mendiskreditkan Islam dan menjauhkan dakwah penegakan syariat Islam dari umatnya.

Panduan Bersikap Menghadapi isu terorisme dan Infiltrasi Asing ke Dalam Gerakan-Gerakan Islam

Operasi Intelijen asing tidak hanya berhenti pada sebuah peristiwa “terror” untuk memicu langkah operasional selanjutnya. Namun yang lebih menghancurkan adalah infiltrasi ke dalam kelompok-kelompok dakwah dalam rangka untuk menyimpangkan dari metode dakwah yang lurus, selanjutnya melemahkan, memecah belah  dan menghancurkannya, hingga tidak ada lagi langkah progresif untuk menyegerakan kebangkitan Islam.

Beberapa point berikut menjadi panduan penting dalam bersikap

  1. Sebuah kelompok dakwah harus senantiasa menjaga kemurnian mabda’ yang diembannya. Mabda` Islam ini terwujud dalam pemikiran-pemikiran dan metode (fikrah dan thariqah) yang ditabanni sebagai sebuah pemikiran tertinggi yang senantiasa dimurnikan dan dibersihkan dari kotoran-kotoran pemikiran selain Islam
  2. Mengintegrasikan mabda Islam (yatajassad) ke dalam jiwa pengembannya yang menjadi bagian dari kelompok dakwah ini.
  3. Upaya sistemik dalam kelompok dakwah ini untuk melakukan pembinaan intensif dalam hal mabda` (dalam bentuk tsaqofah-tsaqofah Islam mutabannat) kemudian melakukan pengawasan terhadap proses integrasi  mabda’ dalam kepribadian (syakhsiyah) anggota-anggotanya akan menjadi tanur (tempat peleburan) tersendiri yang akan membersihkan kotoran-kotoran yang menyelinap dalam kelompok dakwah ini.
  4. Proses integrasi mabda ke dalam kelompok dakwah juga harus memperhatikan apakah integrasi tersebut telah menumbuhkan kebeningan hati dan jiwa pengembannya (sifat naqiy) sehingga selamat dari kecintaan terhadap dunia (hubuddunya) dan kecintaan terhadap kedudukan (hubbussiyadah).
  5. Pembinaan intensif dalam kelompok dakwah ini harus memperhatikan apakah telah terjadi kristalisasi (tabalwara) mabda` dalam kerangka berfikir anggota-anggota kelompok, sehingga tsaqofah Islam satu sama lain akan membentuk pemahaman Islam yang kuat, menyeluruh dan menjadi solusi sempurna persoalan kehidupan manusia.  Dengan demikian, setiap solusi yang diambil senantiasa memiliki landasan hukum syara’ yang terkuat. Inilah yang akan menghapuskan cara-cara teror dalam menuju penerapan Islam secara kaffah. Karena Rasulullah Saw meneladankan perjuangan dakwah Islam menuju penegakan Daulah Islamiyah tanpa kekerasan
  6. Proses integrasi mabda’ ke dalam anggota-anggota kelompok dakwah ini akan memunculkan cara-cara kreatif dan inovatif yang sejalan dengan metode perjuangan penegakan mabda` Islam, sehingga dakwah Islam akan mudah disambut, diterima dan selanjutnya juga diperjuangkan oleh masyarakat. Inilah yang akan membuat peleburan kelompok dakwah ini ke dalam masyarakatnya bersifat alami dan  terjadi secara cepat.

PENUTUP

Demikianlah, sehingga sebagaimana yang terjadi pada sahabat Rasulullah yang bernama Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i yang sebelum masuk Islam menjadi  intelijen negara kufur (Mekkah saat menjelang Perang Badar) justru tercerahkan dalam interaksinya dengan mabda` Islam ketika menjalankan misi intelijennya. Saat itu Nu’aim diutus oleh Abu Sufyan, Pimpinan Quraisy Mekah, untuk menemui Rasulullah Saw dan menyarankan agar sebaiknya menghindari peperangan dengan kaum musyrikin Mekkah. Namun Nu’aim kembali datang kedua kalinya untuk masuk Islam. Rasulullah Saw memanfaatkan kecakapannya dalam dunia intelijen untuk melemahkan dan memecah belah kekuatan musuh (Bani Quraidhah, Suku Quraisy, dan Gathfan) pada Perang Ahzab (Sekutu) atau dikenal juga dengan nama Perang Khandaq (Parit).4

Sesungguhnya keteladanan dalam melakukan analisa-analisa politik dan memahami cara kerja intelijen Islam telah diteladankan oleh Rasulullah Saw dan menjadi kewajiban kita untuk mengikutinya.

“Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun…

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian…” (TQS. Al-Ahzab: 21)

Wallaahu A’lamu bish Showab.

RUJUKAN

  1. Wikipedia Bahasa Indonesia. www.wikipedia.org
  2. Struktur Negara Khilafah, Bab Keamanan Dalam Negeri. HTI Press. 2005.
  3. Dasar-dasar Intelijen. Letjen (Purn) ZA Maulani (Mantan Kabakin). 2006
  4. Siroh nabawiyah; Sisi Politik Perjuangan Rasulullah Saw. Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji. Al-Azhar Press. 2006.

You may have missed