Mengolok-olok dan Mencemooh Sesama Muslim

RADIO TALKSCRIPT

Progra: Voice of Islam | Rubrik: Konsultasi Surat| Narasumber   : Usth. Ir. Lathifah Musa (Konsultan Klinik Anak Muda untuk Pergaulan Islami) | TOPIK: MENGOLOK-OLOK DAN MENCEMOOH SESAMA  MUSLIM

SMS:

Assalaamu’alaikum. Bagaimana menghadapi orang yang suka mencemooh orang lain? Kalau dinasehati susah, dan sepertinya sudah menjadi karakternya suka mencemooh. (0856-293-xxxx)

Ustadzah, ini tentang orang yang suka mencemooh orang lain. Seperti apa sih orang seperti ini?

Di dalam AQ, Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS Hujurat:11).

Jadi kita memang tidak boleh mengejek orang lain. Apalagi sesama muslim. Suatu kaum tidak boleh mengolok-olok kaum yang lain. Misalnya, eh si ini suku A modelnya memang pelit. Atau suku B misalnya, gayanya centil dan norak. Ternyata yang seperti itu tidak boleh. Karena bisa jadi mereka di mata Allah, kaum tersebut lebih baik dari kaum yang mengolok-olok.

Seringkali mengolok-olok itu juga banyak menimpa kaum wanita, misalnya mengejek temannya yang berpakaian lusuh, dll?

Ada penekanan dalam ayat ini, walaupun secara umum ditujukan kepada kaum muslimin termasuk laki-laki, tetapi lafazh walaa nisaaun min nisaain ‘asaa, an yakunna khairan minhunna. Jadi para wanita memang harus secara khusus memperhatikan agar jangan suka mengolok-olok temannya. Misalnya pakai baju tidak matching. Kerudungnya lusuh. Rumahnya jelek. Pendidikannya rendah dll. Karena godaan wanita ketika berkumpul adalah saling mengolok-olok wanita yang lain. Khususnya juga kepada remaja putri, SMP, SMA, Mahasiswa, ketika berkumpul perhatikan, untuk jangan mengolok-olok.

Apakah berarti memang perempuan itu yang hobi mengolok-olok?

Dalam ayat ini memang disebutkan khusus perempuan jangan mengolok-olok. Tetapi bukan berarti laki-laki terbebas dari perbuatan ini. Seringkali justru kita menyaksikan bahwa pemuda-pemuda antarkampung bertikai, bahkan tidak jarang membawa korban jiwa karena saling mengejek. Atau terjadi pembunuhan antar gank, antar preman, antar pemuda karena diawali saling mengolok-olok. Jadi secara umum antar g bodoh? Kemudian Allah memberi peringatan ingatlah sesungguhnya merekalah yang bodoh, tetapi mereka tidak mau memikirkannya.

Mengapa orang suka mengolok-olok?

Ini salah satu indikasi suka meremehkan atau merendahkan martabat orang lain. Walaupun meremehkan orang lain ini adalah satu bentuk sifat buruk yang lain, tetapi erat kaitannya dengan akhirnya ia mengolok-olok orang lain. Jadi akhlak ini adalah akhlak tercela yang harus dihindari. Terkait dengan meremehkan orang lain, Rasulullah Saw bersabda: bihasbi imzi in minasysyarri an yahqira akhaahul muslima: Seseorang layak dinilai sebagai orang yang jahat (buruk) jika ia meremehkan saudaranya yang muslim…(HR Muslim).

Ketika seseorang meremehkan orang lain, salah satu bentuknya adalah ia mengolok-olok orang lain. Walaupun bentui meremehkan ini tidak selalu dalam bentuk olok-olok, tetapi ini menjadi satu indikasi saja. Dia merasa lebih besar dan lebih baik dari orang lain, lebih terhormat atau terpandang, lebih kaya atau berkedudukan, makanya ia meremehkan yang lain

Apa hukumnya mengolok-olok orang lain?

Karena ini merupakan akhlak tercela, maka haram hukumnya. Secara sanksi dunia memang tidak ada ketegasan, etatpi ada peringatan berupa sanksi akhirat. Dan sanksi akhirat inilah yang harus lebih ditakuti daripada sanksi dunia. Dari al Hasan, beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda:

Bagaimana caranya menghindari sifat tercela ?

Pertama memahami bahwa Allah membenci sifat tercela. Apa asaja sifat tercela dan bagaimana dalil-dalil syara’ yang berasal dari AQ dan hadits, sehingga kita bisa menghindarinya, maka itu semua harus kita ketahui terlebih dahulu. Yakni dengan belajar. Jadi kita melaksanakan sifat terpuji bukan karena sifat terpuji itu bermanfaat bagi manusia, tetapi karena semata-mata Allah memerintahkan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan terpuji. Ketika kita menjalankan hukum syara’ itulah, yakni dalam hal melakukan sifat terpuji, maka disitulah ada maslahat.

Kedua menyadari bahwa sifat tercela akan membawa kepada kerusakan. Tidak hanya didunia merugikan orang lain dan diri sendiri, tetapi juga di akhirat kita akan menerima sanksinya. Dan itu yang lebih berat.

Tags:
author

Author: