Thursday, 24 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

The Untouchable; Yang Tak Bisa Disentuh [2]

Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab, sistem hukum Islam terus membuktikan tidak adanya Untouchable (orang-orang yang tidak tersentuh hukum) dalam Islam. Keadilan untuk semua baik untuk muslim maupun non muslim, baik rakyat jelata maupun untuk pejabat. Bahkan polah anak pejabat bisa menyeret sang bapak yang pejabat yang juga seorang pahlawan pembebas.

Oleh Umar Abdullah

Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab, sistem hukum Islam terus membuktikan tidak adanya Untouchable (orang-orang yang tidak tersentuh hukum) dalam Islam.  Keadilan untuk semua baik untuk muslim maupun non muslim, baik rakyat jelata maupun untuk pejabat. Bahkan polah anak pejabat bisa menyeret sang bapak yang pejabat yang juga seorang pahlawan pembebas. Nah ada kisah menarik mengenai hal ini.

Suatu saat seorang pemuda susah datang dari Mesir menghadap Umar bin Khaththab sang Khalifah. Pemuda itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ini adalah keadaan orang yang berlindung kepadamu.”

Umar minta penjelasan kepadanya dan tahulah ia bahwa Muhammad bin Amru bin Ash, putra gubernur Mesir, telah memukulnya karena pemuda itu berlomba dengannya dan mendahuluinya.

Maka Umar bin Khaththab sang amirul mukminin mengirim utusan untuk memanggil Amru bin Ash dan Muhammad putranya.

Baiklah kita dengarkan Anas bin Malik ra menceritakan kisah ini kepada kita.

“Demi Allah kami sedang duduk bersama Umar. Tiba-tiba Amru bin Ash datang dengan memakai sarung dan selendang. Umar pun menoleh mencari Muhammad putranya. ternyata ia berada di belakang ayahnya.

Umar berkata, ‘Dimana pemuda Mesir itu?’

Pemuda itu menjawab, ‘Saya di sini, wahai Amirul Mukminin.’

Umar berkata, ‘Ambilah cambuk ini dan pukullah putra orang-orang mulia itu.’

Orang itu pun memukul Muhammad bin Amr bin Ash hingga melukainya sedang kami suka melihat ia dipukul. Pemuda itu terus memukul hingga kami ingin berhenti memukul, tapi Umar berkata, ‘Pukullah putra orang-orang mulia ini.’

Kemudian Umar berkata, ‘Pukulkan ke kepala Amru, karena demi Allah anaknya tidak memukulmu kecuali dengan kelebihan kekuasaannya.’

Pemuda itu berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, keinginanku telah terpenuhi dan aku telah merasa puas karena orang yang memukulku telah kupukul.’

Umar berkata, ‘Demi Allah, seandainya engkau memukulnya, kami tidak menghalangimu untuk melakukannya sampai engkau sendiri yang meninggalkannya.’

Umar lantas menoleh kepada Amru dan berkata, ‘Hai Amru, sejak kapan kalian memperbudak orang-orang sedangkan mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?’

Umar menoleh kepada pemuda Mesir itu dan berkata kepadanya, ‘Pergilah dengan baik, dan jika engkau mengalami gangguan lagi, tulislah surat kepadaku.’”

Demikianlah, Amru bin Ash, sahabat Nabi yang menjadi gubernur di Mesir sekaligus pahlawan pembebas Mesir, putranya pun tak luput dari hukuman. Bahkan nyaris hukuman itu menimpa Amr bin Ash kalau saja pemuda yng disakiti itu tidak memaafkannya. (Bersambung)

You may have missed