Right or Wrong Is My Best Friend?

Persahabatan dan solidaritas adalah dua kata yang sulit untuk dipisahkan. Ketika seseorang telah memilih seseorang sebagai sahabat, solidaritas menjadi sebuah tuntutan yang mesti dipenuhi.

Nggak salah sih sebenarnya kalau kita ingin total nunjukkin rasa solidaritas kita untuk sahabat tercinta. Ketika dia sedih, kita jadi orang pertama yang menghibur, bikin dia kembali ceria. Ketika dia sedang punya masalah, kita jadi orang pertama yang menyediakan diri untuk mendengarkan. Ketika dia dalam suka, kita juga jadi orang pertama yang ikut serta, di jiwa, nggak di bibir aja.

Bahagia banget deh pastinya punya sahabat yang solidaritasnya tinggi kayak gitu. Tapi, yang namanya total bersolidaritas bukan berarti tanpa aturan dan tanpa rambu-rambu, lho. Bukan berarti atas nama solidaritas persahabatan lantas kita jadi ”cinta” buta. Kita nggak cek en ricek dulu sahabat kita itu benar atau salah, main bela aja.

Kalau itu yang terjadi, bisa kacau nanti. Bayangin aja, sahabat kita bolos dengan alasan gurunya nggak enak lah, pelajarannya nggak menantang lah. Terus kita mendiamkan.

Sahabat kita nyatut uang SPP dengan alasan untuk bisa nraktir kita sahabatnya. Karena merasa nggak enak hati terus kita diam, atau malah dengan senang hati ikut minum dan makan.

Sahabat kita udah berbohong ke bokap-nyokapnya, bilang mau nginep sambil belajar bareng, tapi sebenarnya pergi ke tempat dugem. Kita nggak mau nyegah, atau malah ikutan bohong karena kasihan kalau ketahuan.

Sahabat kita tawuran, dengan semangat berani mati maju ke medan pertawuran. Kita cuma bisa mendoakan semoga dia keluar dari sana dengan selamat atau malah bisa jadi pemenang, atau bahkan kita ikut memperkuat pasukan tawurannya atas nama solidaritas antar teman.

Kalau itu yang kita lakukan, tanpa kita sadari sebenarnya kita udah jadi orang yang paling sadis sedunia. Paling sadis? Ya iya lah. Gimana nggak disebut sadis kalau kita malah mendiamkan sahabat kita yang salah? Boro-boro nyegah!

Kalau kita diam, sahabat kita nggak akan pernah ngeh kalau yang dia perbuat itu salah. Dia akan merasa bahwa dia selalu melakukan yang benar. Apalagi kalau kita mendukung perbuatan dia. Dia pasti semakin pede untuk terus melakukan perbuatan salahnya.

Selama kita diam atau bahkan membela perbuatan salah dia, selama itu juga dia nggak pernah sadar kalau hidupnya sudah dia habiskan untuk menumpuk dosa. Miris? Pasti! Yang lebih tragis lagi, yang bikin dia nggak sadar, yang ikut andil telah menjerumuskan dia dalam kubangan dosa ya kita! Sahabatnya! Parah, kan?

Ukurannya salah-benar, lho
Sahabat sejati itu adalah seseorang yang berani berkata benar bukan hanya berani membenarkan kata-kata sahabatnya. Sahabat sejati itu seharusnya berani berkata yang benar itu benar, yang salah itu salah. Benar dan salah menurut tuntunan Islam pastinya. Nggak cuma bisa mengiyakan atau bilang, ”He-eh!” sambil manggut-manggut nurut.

Right or wrong, you’re my best friend.  “Salah atau benar pokoknya elo sahabat gua dan gua bakal bela elo apapun adanya!”

Sahabat kayak gitu sih cupu! Mendingan ke laut aja, sohiban sama burung camar atau ikan lumba-lumba. Kan, jadinya nggak perlu repot-repot meluangkan waktu untuk kasih nasihat atau susah-susah adu argumen segala tentang dosa dan pahala.

Mengungkapkan kebenaran kepada para sohib memang butuh keikhlasan dan keberanian karena nggak jarang aksi kita itu malah bikin hubungan jadi renggang. Dia bisa jadi malah marah terus jadi jutek. Ketemu kita ngobrol jadi irit. Pokoknya pahit!

Berkatalah yang sebenarnya walaupun pahit. Enak sih ngomongnya tapi susah merealisasikannya.

Di sisi lain, kita sebagai sahabat yang baik juga harus cari upaya yang terbaik, yang ma’ruf gitu untuk memberikan nasehat. Kita cari suasana yang enak, yang kondusif untuk ngomong. Kalau nggak bisa lewat lisan, bisa juga lewat tulisan. Kita tujukan langsung ke sahabat yang bersangkutan. Jangan juga kita jadi ember. Niatnya bantu malah jadi rumpi. Nggak nyampe deh maksud hati. Intinya sih supaya maksud baik kita nggak ditangkap salah sama sahabat kita.

Kalau segala upaya yang terbaik sudah kita tempuh, tapi sahabat kita tetap ambil langkah menjauh, gimana? Ya kita harus segera nabung sabar banyak-banyak sambil terus cari cara untuk bisa kembali dekat. Kalau memang harus minta bantuan orang ketiga atau keempat, kita harus yakin kalau orang itu bisa kita percaya.

Usaha, doa, dan sabar, itu kita kudu jalani bersamaan. Percaya deh nggak bakal ada yang sia-sia dengan itu semua. Karena ketika kita sudah menjalaninya, sejatinya kita sudah kasih bukti nyata bahwa kita memang layak menjadi seorang sahabat. Allah Swt. Berfirman (yang artinya): “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuansebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sunguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS at-Taubah [9]: 71)

Ok sobat, jadikan diri kita sahabat sejati bagi sahabat kita. (nafiis: www.nafiisahfb.multiply.com)

Rate this article!
Tags:
author

Author: