Tuesday, 2 June 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Peran Ibu, Solusi Krisis Kepemimpinan Bangsa

Sebenarnya ini menjadi tugas pemimpin. Negara akan memasukkan materi pembinaan ibu ke dalam kurikulum sekolah bagi para calon ibu. Bisa juga negara menugaskan konselor-konselor yang digajinya untuk membina ibu-ibu di rumah-rumah mereka masing-masing. Negara melakukan ini karena ia memahami benar tanggungjawabnya dalam rangka mempersiapkan generasi.

RADIO TALK SCRIPT

Program: VOICE OF ISLAM | Rubrik: Keluarga Sakinah | Narasumber: Ir. Ratu Erma Rahmayanti (Pembina Forum Mar’ah Shalihah Pusat Pengembangan Islam Bogor) | Tema: PERAN IBU, SOLUSI KRISIS KEPEMIMPINAN BANGSA

Pengantar:

Bulan Juli ini bangsa kita tengah bersiap memasuki masa pencalonan dalam pilpres 2009 nanti.  Namun, disadari atau tidak, saat ini tengah terjadi krisis kepemimpinan bangsa. Pasalnya, mencari figur pemimpin dambaan seluruh umat, sulitnya bukan main.  Apalagi dengan kondisi krisis saat ini, bergantinya pemimpin yang sudah berlangsung empat kali setelah masa orba tidak juga membawa banyak perubahan.  Alih-laih menjadi baik, justru malah semakin parah kondisi kehidupan masyarakat kita.

Ramai orang berbicara gambaran pemimpin dambaan, mulai dari kalangan intelektual, rakyat biasa hingga kalangan birokrat sendiri.  Diantaranya ada pihak yang mengeluarkan wacana “jangan pilih politisi busuk untuk calon pemimpin”.  Fakta munculnya calon pemimpin independen menunjukkan bahwa rakyat sudah tidak lagi percaya pada calon pemimpin bangsa dari kalangan partai yang ada.

Nah pendengar yang budiman,  lantas seperti apa sebenarnya kriteria pemimpin bangsa yang menjadi tumpuan umat saat ini dalam menyelesaikan krisis bangsa?  Lantas apa kaitannya pemimpin bangsa dengan peran ibu.  Berikut kita dengarkan dialog antara saya dengan ustadzah Ir. Ratu Erma mengenai hal ini.

Baik, kita tanya pada bu ustadzah nih,  seperti apa peran seorang ibu (yang notabene seorang perempuan) dalam menyelesaikan krisis kepemimpinan bangsa?

Ya, pembahasan ini sebenarnya cukup mendasar dan sangat penting untuk saat ini, karena pada umumnya orang tidak secara langsung mengkaitkan peran seorang ibu dengan persoalan krisis kepemimpinan bangsa.  Rasanya jauh sekali peran seorang ibu di rumah dengan persoalan krisis kepemimpinan yang termasuk persoalan politik.  Dan anggapan sekarang, perempuan itu jauh dari aktivitas politik.  Tapi tentu saja yang perlu menjadi catatan, peran ibu (mendidik generasi) memiliki dimensi politik bila pembahasan politik perspektif Islam.  Karena politik perspektif non Islam (sekular) tidak memperhitungkan peran ibu sebagai aktivitas politik.  Aktivitas politik itu hanya lingkup kecil sebagian wilayah kekuasaan, sehingga aktivis politik (politikus) itu hanya mereka yang duduk di pemenintahan atau aktivis parpol.  Sehingga seorang ibu tidak bisa disebut politikus.  Sementara dalam perspektif Islam siapapun bisa menjadi politikus (termasuk ibu) bila ia punya kepedulian terhadap urusan pengaturan hidup dan berambisi untuk menerapkan cara pengaturan urusan itu dengan perspektif yang benar.  Jadi, pada saat ibu mendidik anak-anaknya untuk menjadi penerus pemimpin bangsa atau mendidik mereka untuk menjadi politisi muslim yang handal, sesungguhnya ibu tersebut telah melakukan aktivitas politik.  Ia peduli terhadap kualitas generasi.

Fakta dulu menunjukkan, sangatlah banyak bermunculan tokoh-tokoh politik Islam yang tangguh dan handal karena peran ibu mereka.  Sebut saja Ibunda Asma binti Abi Bakar r.a. ibu dari ’Abdullah bin Zubair, ra.a yang rela syahid dalam melawan kemungkran.  Ibunda Al-Khansa, ibu dari empat mujahid muda yang menyambut berita syahid mereka dengan rasa syukur.  Ibunda ’Umar bin Abdul ’Aziz seorang kholifah masyhur.  Ibunda Shalahuddin Al-Ayyubi, ibunda Imam Syafi’i, Ibunda Imam Bukhari dan ibunda-ibunda lainnya.

Jadi, erat sekali hubungannya antara peran ibu dengan lahirnya pemimpin bangsa begitu ustadzah?

Ya tepat sekali.  Kita berharap banyak dari peran ibu dalam mendidik dan membina anak-anak mereka, agar menjadi generasi cerdas berkualitas dambaan umat.  Kita berharap kedepannya tidak sulit untuk mencari calon pemimpin dambaan umat. Pemimpin dambaan umat itu tidak mustahil diwujudkan, meski memang berat.  Tapi yang berat itu kan tidak berarti tidak mungkin dilakukan.  Dan memang pemimpin seperti itu tidak lahir begitu saja.  Ia melewati proses atau tahapan, nah proses itu adalah pembinaan dan pendidikan yang berawal dari rumah.  Ibu itu kan pendidik pertama dan utama, anak manusia mana yang tidak lahir dari rahim seorang ibu?  Dan naluri ibu pasti akan mengajarkan sesuatu pada anaknya.  Jadi tinggal bagaimana si ibu ini mengerti pada pengajaran itu punya target yang besar dan mulia, yaitu lahirnya seorang calon pemimpin umat.

Ustadzah, seperti apa sebenarnya sosok pemimpin dambaan umat itu?

Untuk memimpin umat (di level manapun), karena memimpin disini tidak berarti harus menjadi penguasa, tetapi menjadi rujukan umat untuk selesaikan problem mereka, diperlukan sosok adil dan kapabel.  Adil bermakna ia mampu menjalankan semua kewajiban dan meninggalkan larangan Allah SWT dalam semua aspek kehidupan.  Ia punya aqidah yang kuat, ibadahnya terjaga, akhlaqnya terpuji, ia jaga makanan, minuman dan pakaiannya dan ia penuhi kebutuhan rakyatnya dan ia selesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di tengah umat.  Pemimpin kapabel adalah mereka yang punya sifat dasar pemimpin yang handal yaitu, punya kepedulian, empati, tegas, sabar, terbuka dan berani ambil keputusan.  Selain itu ia harus mampu mengorganisasi dan memimpin sebuah Negara.

Untuk membentuk sosok ini, harus dimulai sedari dini.  Di sisi inilah peran ibu sangatlah besar.  Karena ia adalah pembangun pondasi sosok ini, dan peran sekolah, masyarakat dan lingkungan hanya ttinggal melanjutkan dan mengembangkan saja.

Kalo begitu diperlukan sosok ibu atau figure ibu yang juga dambaan umat. Seperti apa itu ustadzah?

Ya benar.  Dan sosok ibu dambaan umat itu bukan sesuatu yang ada dalam dongeng-dongeng atau lagu-lagu saja.  Sosok ini sesuatu yang riil yang bisa dicapai oleh ibu manapun yang sadar akan perannya.  Kriterianya sebagai berikut:

  1. Memiliki aqidah dan kepribadian Islam yang kuat

Ibu seperti ini akan menggembleng anaknya dengan keimanan yang kokoh dari kecil, memperkenalkan mereka pada siapa penciptanya, membentengi anak dari segala kemusyrikan, mengajarkan kepatuhan hanya pada aturan Allah SWT dan mampu menanamkan hakikat dan tujuan kehidupan dunia.  Ibu yang kepribadian Islamnya kuat akan berhati-hati dalam berperilaku, terutama saat berinteraksi dengan anak.  Ia hanya akan mencontohkan perilaku yang sesuai dengan Islam, dan mencoba untuk tidak melakukan kesalahan.  Karena ia sadar anak ibarat kaset kosong yang siap merekam apapun yang dilihatnya, dirasakan dan dialaminya.

  1. Memiliki kesadaran sebagai pendidik anak yang menjadi aset politik dan perjuangan umat

Ibu seperti ini akan berusaha untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak, membekali anak dengan sifat-sifat terpuji dan ilmu-ilmu yang diperlukan.  Ia akan melatih anak mandiri, rela berkorban dan bertanggungjawab penuh.  Mendidik mandiri tidak dalam gambaran sedari kecil sudah bisa cari uang sendiri ya.  Karena ibu yang sadar anak adalah aset bangsa tidak akan menjadikan anaknya sebagai penghasil materi untuk keluarga.

  1. Memiliki kesadaran politik Islam

Ibu seperti ini punya kepekaan terhadap persoalan-persoalan umat dan mampu mengindera kedzaliman pemimpin.  Dan ia mampu memahami kepentingan apa yang seharusnya ia dapat dari pemimpin dan kemashlahatan apa yang harus pemimpin berikan kepada rakyatnya.  Dengan begitu ia dapat memberi nasehat kepada para pemimpin yang telah melalaikan kewajibannya.  Dan ia mampu menuntut apa yang menjadi haknya sebagai seorang ibu kepada pemimpinnya.

Menjadi tanggungjawab siapa sebenarnya untuk meningkatkan kualitas seorang ibu agar yang bisa berperan sebagaimana mestinnya?

Sebenarnya ini menjadi tugas pemimpin.  Negara akan memasukkan materi pembinaan ibu ke dalam kurikulum sekolah bagi para calon ibu.  Bisa juga negara menugaskan konselor-konselor yang digajinya untuk membina ibu-ibu di rumah-rumah mereka masing-masing.  Negara melakukan ini karena ia memahami benar tanggungjawabnya dalam rangka mempersiapkan generasi.  Selain negara, peran ormas dan parpol juga besar dalam meningkatkan kualitas ibu.  Namun saat ini, kita tidak berada dalam situasi demikian, sehingga peran ormas dan parpol Islam nampaknya akan menjadi kunci dari perubahan.  Ormas dan parpol Islam ini harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk membina para ibu agar menjadi kader-kader politik yang melakukan perubahan sosial dan mampu melahirkan generasi calon pemimpin yang handal.

Apa yang menjadi kesimpulan pemabahasan kita kali ini?

Islam mengajarkan kepada kita bahwa peran ibu di rumah tidak terpisah atau bahkan bertentangan dengan peran politik perempuan.  Peran ibu menjadi sangat berdimensi politis tatkala ia mampu melahirkan generasi cerdas berkualitas, politikus muslim calon pemimpin bangsa.  Untuk itu kaum ibu sekarang harus sadar sesadar-sadarnya bahwa peran ibu mendidik generasi bukan peran biasa-biasa saja, tetapi peran yang istimewa.  Peran ini harus menjadi fokus, jangan asal jalan.  Ingatlah, kelalaian kita adalah kesengsaraan bangsa.  Oleh karena itu, dihimbau kepada para ibu dan calon ibu segera meningkatkan kualitas diri sebagai ibu dan anggota masyarakat yang punya kontribusi besar dalam solusi persoalan bangsa.  Segeralah datangi tempat-tempat pembinaan yang mengajari ibu-ibu agar mempunyai aqidah dan kepribadian Islam yang kuat, ubu-ibu yang punya kesadaran politik Islam, ibu-ibu yang peduli akan nasib bangsa.[]

You may have missed