Thursday, 26 November 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Mengarahkan Minat Anak

Kalau kita beranjak dari teori minat dan bakat yang tidak berdasarkan Islam, tentu akan terjadi kesalahan. Karena teori minat dan bakat ini akan memilah-milah minat dan bakat anak dan melarang pendidik mengarahkan minat dan bakat ini karena akan menyebabkan pemaksaan.

Program: Voice of Islam | Rubrik: HOMESCHOOLING | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Topik: MENGARAHKAN MINAT ANAK

Jalan-jalan ke puncak, melihat bunga melati lebih dekat

Membuat hati menjadi segar dan nyaman

Jangan percaya pada  teori minat dan bakat

Karena setiap anak harus berminat pada kebaikan

Home schooling kami hadirkan sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubric ini kita akan masih akan berbincang-bincang dengan Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga. Tema kita berjudul

MENGARAHKAN MINAT ANAK

Ustadzah,  ada yang bilang, biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakatnya. Apa benar pendapat seperti ini?

Kalau kita beranjak dari teori minat dan bakat yang tidak berdasarkan Islam, tentu akan terjadi kesalahan. Karena teori minat dan bakat ini akan memilah-milah minat dan bakat anak dan melarang pendidik mengarahkan minat dan bakat ini karena akan menyebabkan pemaksaan.

Sebenarnya bagaimana dasar munculnya teori minat dan bakat ini?

Sering kita jumpai di masyarakat, pembicaraan tentang minat dan bakat seorang anak dalam konteks seperti contoh perbincangan para ibu di atas.  Kebanyakan masyarakat masih memandang masalah  minat dan bakat sebagai faktor kodrati, keturunan yang ditentukan oleh hereditaas.  Tampaknya teori filsafat Nativisme masih membekas di sebagian masyarakat.  Arthur Schopenhauer (1788-1860) pelopor dan tokoh filsafat teori  ini berpendapat bahwa peerkembangan kepribadian hanya ditentukan oleh faktor hereditas.  Menurutnya faktor ‘bawaan’ ini bersifat kodratidan tidak dapat diubah oleh lingkungan maupun pendidikan.  Pendidikan hanyalah upaya untuk merealisasikan potensi ini.  Walaupun tidak banyak yang menganut secara mutlak teeori ini, karena ada teori-teori lain yang muncul kemudian dan memandang bahwa faktor lingkungan pun berpengaruh selain herreditas, namun aliran nativisme      inii cukup diperhatikan dalam dunia pendidikan.

Bagaimana teori minat dan bakat yang dianggap keliru? Misalnya ketika memilah bahwa anaknya berminat di bidang teknologi, tidak yang lain maka orang tua membiarkan. Ketika anaknya berminat di bidang keagamaan maka berarti profesinya akan menjadi ustadz. Sebenarnya ini yang difahami dalam masyarakat Barat yang memisahkan agama dari kehidupan. Mereka menganggap bahwa minat pada kehidupan akan  menghilangkan minatnya pada agama. Dan minat pada agama akan kendur ketika seseorang berminat pada kehidupan. Kalau berpandangan seperti ini maka berarti asas yang digunakan adalah sekuler. Memisahkan agama dari kehidupan. Ini berawal dari ideologi kebebasan. Akhirnya agama hanya akan menjadi satu bagian materi pelajaran saja yang terpisah dari yang lainnya. Ilmu-ilmu lain tidak ada hubungannya dengan agama. Inilah yang menyebabkan hilangnya karakter Islam pada diri anak.

Saat ini kita dapat melihat bagaimana teori relativitas massa, evolusi materi dan postulat-postulat kimiawi yang dalam penyampaiannya terlepas jauh dari pemahaman manusia tentang Sang Penciptanya.  Dapat pula dilihat adanya pertentangan antara prinsip-prinsip ekonomi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan  pesan-pesan agama yang diajarkan. Tampak jelas adanya pemisahan aktivitas/perbuatan manusia dengan nilai ruhiyah.  Demikian akhirnya manusia difahami dengan kerangka individualis.  Manusia dianggap berbeda-beda, aadda yang berbakat di bidang sains, ekonomi, politik dan ada yang di bidang agama.  Semua ini seolah tidak terlepas dari faktor kodrati/hereditas yang mengarahkan kehidupan manusia, yaitu minat dan bakat.

Bagaimana pandangan Islam terhadap minat dan bakat?

Pemahaman seperti ini bertentangan dengan apa yang yang telah disampaikan sendiri oleh Sang Pencipta manusia, Allah SWT, Pencipta dan Penguasa alam semesta, manusia dan kehidupan.

“…(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah (tersebut) itu.  Tidak ada perubahan pada firman Allah. (Itulah) agama yang lurus…” (QS. Ar Ruum:30).

Fitrah anak harus terjaga dari ketergelinciran dan penyimpangan.  Islam memandang keluarga bertanggung jawab atas fitrah anak.  Segala penyimpangan yang menimpa fitrah tersebut menurutt pandangan Islam berpangkal dari kedua orang tua atau oendidik yang mewakilinya.  Pendapat itu didasarkan pada pandangan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci lahir bathin dan sehat fitrahnya.  Mengenai makna ini, Rasulullah saw bersabda dalam riwayat Abu Hurairah ra:

“Tidak ada seoranng anak pun, kecuali dilahirkan menurut fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya beragama yahudi, nasrani atau majusi; sebagaimana binatang ternak dilahirkan, adakah kamu dapati yang telah dipotong (dilobangi) hidungnya sehingga kamu tidak perlu lagi memotongnya?” (HR Bukhari).

Bagaimana sesungguhnya pendidikan Islam dalam melihat minat dan bakat ini?

Harus diarahkan. Setiap anak harus berminat untuk mempelajari hal-hal yang wajib diketahui hukumnya. Dia sebagai seorang muslim, dia wajib tahu kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia harus berminat untuk selalu mendapatkan nilai amal tertinggi sebagai seorang muslim. Seorang laki-laki, harus tahu tentang kewajiban-kewajiban agamanya sebagai seorang laki-laki. Ini terkait dengan kewajiban mencari nafkah. Dia harus berminat pada kepemimpinan karena minimal ia adalah pemimpin bagi keluarganya Seorang muslimah harus berminat dalam masalah-masalah kerumah tanggan, karena nanti ia akan menjadi ummu wa robbatul bayti. Ia harus berminat pada ilmu tentang pengasuhan bayi, pendidikan anak kecil dan lain-lain. Karena itulah amalan yang wajib ketika ia menjadi ibu[]

You may have missed