Tuesday, 24 November 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Kalo Emang Best Friend, Jangan Bikin Il Feel!

Pasti pengen dong persahabatan yang udah terjalin bisa dipertahankan sampai tua, sampe cucu-cicit bertebaran di muka bumi. Kita coba deh sekarang merenung-renung, udah seberapa seimbang sih masing-masing kita take en give dari dan ke sahabat kita? Misalnya nih dari hal yang remeh-temeh aja, SMS.

Santi lagi bete banget. Gara-garanya Wina, sohibnya, marah-marah pas pulang sekolah. Wina protes ke Santi soal absennya Santi di acara Teens Love Poem. Wina jadi salah satu kontestan di ajang itu. Padahal sebelumnya Santi udah kasih alasan kenapa dia nggak datang. Nyokapnya sakit. Tapi, Wina juga kasih argumen, “Bokap elo kan ada. Abang elo juga kan nggak 24 jam kerja! Gua cuma perform 5 menit, San! Masa’ iya elo nggak bisa usahain?”

Setelah kejadian siang itu, Santi dan Wina kayal kucing ama anjing. Tiap ketemu saling buang muka. Wina kesal ke Santi karena Santi dianggap nggak setia kawan. Santi juga kesal ke Wina karena nggak mau ngerti kondisi dia.

Emang bete ya kalau punya sohib yang maunya menang sendiri. Apa-apa mesti dia yang kita duluin, mesti kita ngertiin. Kalau pas kita yang minta tolong, doi ogah-ogahan bantu. Il feel banget deh!

Lho kan yang namanya persahabatan itu harus didasari keikhlasan? Betul apa bener? Ya iya sih. Persahabatan yang sejati itu emang kudu en wajib ada karena niat baik, ikhlas karena Allah Swt. semata, bukan karena materi atau hal-hal yang duniawi aja. Tapi, bukan berarti atas nama ikhlas terus sebagai sohib bisa seenaknya minta dimengerti tanpa pernah pengen ngertiin balik.

Persahabatan itu dibangun dari beberapa orang yang nggak semuanya selalu dalam keadaan hepi. Kadang di saat yang lain bahagia, yang satu ternyata dalam kondisi duka. Kadang yang satu kondisinya lagi fine-fine aja, yang lain ternyata lagi stress ngadepin tugas bejibun atau lagi suntuk punya masalah. Nah, dalam kondisi kayak gitu butuh kepekaan dari para sohib untuk mau mengerti, memahami, lalu menawarkan bantuan. Bahagia deh rasanya kalo kita punya sahabat yang kayak gitu. En sebaliknya, cerita derita doang yang ada kalau punya sohib yang cuma mau take tapi nggak mau give. Take and give! Yup, itu yang harusnya ada dalam tiap relationship, termasuk persahabatan.

Pasti pengen dong persahabatan yang udah terjalin bisa dipertahankan sampai tua, sampe cucu-cicit bertebaran di muka bumi. Kita coba deh sekarang merenung-renung, udah seberapa seimbang sih masing-masing kita take en give dari dan ke sahabat kita? Misalnya nih dari hal yang remeh-temeh aja, SMS. Berapa kali kita SMS sahabat kita untuk nanyain kabar? Bukan yang basa-basi lho ya. Berapa kali kita SMS tausiyah ke mereka? Sekali sebulan, dua kali seminggu? Nggak pernah? Wacks!

“Habis dianya juga nggak pernah tuh SMS begituan ke gua!”

“Aduh, yang tajir kan dia. Dia yang seharusnya banyak SMS ke gua yang pulsanya pas-pasan.”

Masalah berapa banyak SMS yang bisa dikirim bukan jadi yang utama, Bro en Sis. Karena kan emang nggak bisa dipaksain juga kalo kondisi pulsa pas-pasan (sinyalnya sih kuat, yang nggak kuat pulsanya!). Tapi, kondisi pulsa pas-pasan juga nggak bisa dijadiin alasan untuk nggak kasih support. Tapi, kualitas isi SMS yang mesti jadi perhatian. SMS yang bisa ngasih energi positif itu yang pasti ditunggu-tunggu. Apalagi kalau sahabat kita emang sedang dalam kondisi yang down. SMS kita yang berisi kata-kata bijak, nasihat, bisa ngangkat dia lagi.

Udah deh, stop ngandelin jurus “wait en take” (nunggu dan nerima). Kalau jurus yang kayak gitu yang masih dipegang mau sampe lebaran monyet juga nggak bakal mungkin persahabatan yang kokoh bisa terealisasi. Yang ada persahabatan yang rapuh, dan pastinya kita nggak mau itu terjadi sama kita. Lebih baik masing-masing kita neh mulai bikin planning yang jelas untuk jadi yang lebih dulu ngasih, bukan yang duluan nerima. Kita yang lebih dulu peka dan akhirnya bisa cepat mengerti apa yang terjadi sama sahabat kita.

Take and give yang seimbang emang hal yang ideal, dan udah jadi pemahaman umum kalau hal yang ideal bakal ketemu banyak hambatan untuk bisa terealisasi dengan baik. Tapi, bukan berarti nggak bisa dicapai. Untuk bisa menjadi sosok sohib yang bisa take and give secara proporsional emang kudu mau terus memperbaiki diri dan sabar. Semua juga kudu mau begitu. Bareng-bareng berupaya untuk senantiasa memberi the best thing, supaya nggak jadi best friend yang bikin ill feel. Setuju kan? [nafiis: @ http://nafiisahfb.multiply.com]

You may have missed