Homeschooling [3]: Ibu, Harapan Utama Pendidikan Generasi

Oleh Lathifah Musa

MediaIslamNet.Com–Problem utama dalam pendidikan alternatif ini adalah ketidaksanggupan para ibu mendidik langsung anak-anaknya. Ada banyak alasan: repot karena masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah ini dan itu, repot karena anak tidak hanya satu, masih ada anak-anak lain yang perlu perhatian, repot karena baru punya bayi yang memerlukan perhatian penuh, repot karena berarti ibu harus membuka-buka lagi pelajaran sekolah, repot karena anak-anak sendiri paling susah didisiplinkan kalau belajar sama ibunya, repot karena ibu juga punya banyak aktivitas di luar rumah. Repot, repot dan repot.

Intinya bagi para ibu, homeschooling adalah alternatif pendidikan yang merepotkan kaum ibu. Apalagi para ibu yang aktif berkarir di luar rumah. Tentu akan lebih mudah berjuang mencari uang dan membayar guru.

Idelialisme mewujudkan konsep ibu sebagai guru, akhirnya buyar di tengah jalan. Para ibu pasti ngomel, emangnya gampang ngajar anak sendiri? Belum lagi anak-anak paling suka manja sama ibunya. Belum belajar sudah minta uang jajan. Dikasih tugas, sang ibu dirayu agar mau membantu. Pasti pelajaran paling susah adalah mendisiplinkan mereka.

Tak sedikit para ibu yang kemudian melampiaskan kekesalan pada para bapak. Enak amat para bapak, nggak perlu repot lagi mikir biaya pendidikan, emangnya mereka mau ngajar anak sendiri. Duh, kalau sudah begini akan muncul noktah hitam pertama dalam kalbu para ibu, yang tentunya akan mengurangi kesungguhan dan keikhlasan untuk menerjuni dunia homeschooling.

Walhasil, para ibu yang sejak awal tahun 2009 pernah beriltizam untuk mendidik sendiri anaknya, akhirnya mundur teratur dengan beragam alasan sebagaimana disebutkan di atas. Homeschooling yang seharusnya menjadi alternatif pendidikan berkualitas di tengah arus kapitalisasi dunia pendidikan ini (hebat sekali bukan!) akhirnya menjadi pilihan yang tidak realistis lagi bagi para ibu.

Benar ibu …, menjalani homeschooling memang tidak gampang. Namun sebagai ibu, energi menjadi guru hanya disulut oleh sebuah naluri yang hampir pasti selalu ada pada setiap ibu. Kecintaan dan kasih sayang pada anak. Energi ini tidak pernah bisa dikapitalisasi oleh siapapun. Energi yang tidak tergantikan oleh unsur material apapun. Energi yang begitu ibu melangkah memasuki aktivitas ini, maka ibu akan semakin melebur dalam gelimang energi dan bahkan menjadi lautan yang menenggelamkan ibu. Tentu tenggelam dalam kecintaan pada buah hati. Dan larut dalam harapan bahwa hanya Allah SWT yang akan membalas semua yang ibu lakukan. Tak ada yang bisa merasakan kecuali para ibu yang telah menjalankan aktivitas homeschooling bagi anak-anaknya.

Itulah potensi naluri yang Allah telah pastikan ada pada setiap ibu. Naluri ini terasa ketika kita memenuhinya dengan kesadaran. Allah SWT akan menambahnya sejalan dengan keikhlasan para ibu menjalankan peran keibuannya. Sebuah kewajiban tinggi yang menempatkan para ibu dalam kedudukan mulia.

Banyak ibu-ibu yang khawatir kehabisan energi dalam mengajari putra-putrinya. Ilmunya sudah mentok, begitu orang Betawi bilang.

Padahal ibu tidak perlu khawatir. Energi kasih sayang para ibu ini akan sanggup membuat ibu senantiasa melakukan up grade kemampuan diri sebagai guru bagi anak-anaknya. Hal yang belum tentu dilakukan oleh para guru yang lain.

Aku teringat sebuah artikel yang membahas tentang Keluarga Besar Kennedy. Rose Kennedy, ibunda dari dinasty Kennedy yang menjadi legenda para pemimpin Amerika Serikat, sesungguhnya ia adalah awal dari kisah keluarga ini. Seorang Rose yang berambisi menyelesaikan sekolahnya yang tergolong tinggi di masa itu, untuk menerjuni peran (hanya?) sebagai ibu yang baik bagi putra-putrinya kelak. Rose memanage sendiri pengasuhan dan pendidikan sembilan putra-putrinya secara langsung. Sehari-hari istri dari Senator Kennedy ini disibukkan oleh jadwal keseharian pendidikan putranya. Ia mengatur di bagian ruangan mana anak-anak yang masih kecil bermain. Ia mengatur ruang makan menjadi tempat diskusi politik anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Bahkan konon Rose sendiri yang memilih topik diskusi hari itu dengan menempelkan guntingan surat kabar berita aktual hari itu di dinding ruang makan.

Dalam sebuah episode Oprah Winfrey Show, salah satu putri keluarga Kennedy memaparkan bahwa sejak kecil ibu mereka selalu menanyakan hal-hal yang sangat berbeda dibandingkan dengan pertanyaan para ibu dari teman-teman mereka. Inilah yang ditanyakan Rose Kennedy ketika berjumpa dengan putra-putrinya baik ketika mereka pulang sekolah atau ketika mereka berkumpul di ruang makan : “Adakah hari ini kau menolong seseorang?”, “Siapa yang hari ini kau damaikan?”, “Pada siapa bekalmu hari ini kau bagi?”, “Pengorbanan apa yang hari ini kau lakukan untuk orang lain?”, “Sudahkah hari ini kau berderma?”, dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.

Dalam pembahasan ini, Rose memang bukan seorang muslimah. Dan tentunya kita memahami bahwa amalnya sebaik apapun akan sia-sia. Tetapi setidaknya ini menjadi pelajaran bagi para muslimah shalihah, betapa berharga dan mulianya bila mereka yang menjalankan peran keibuan ini dengan sungguh-sungguh.

Betapa besarnya peran keibuan yang mereka jalankan ini untuk masa depan Islam dan kaum muslimin. Dunia Islam saat ini masih porak poranda menjadi ajang permainan bangsa-bangsa Kafir. Umat Islam bagaikan buih, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Kualitas kepemimpinan yang rendah menjadi tantangan para ibu untuk melahirkan generasi pemimpin di masa yang akan datang. Generasi yang berkualitas pemikir bagi problem-problem umatnya. Generasi yang berkualitas politikus untuk mampu mengimplementasikan setiap solusi Islami dalam wujud kebijakan yang nyata. Generasi berkualitas mujahid yang akan menjadi pejuang penegak Peradaban Islam yang Mulia.

Apakah sosok manusia berkualitas seperti ini bisa disandarkan pada pendidikan formal kita saat ini? (el_Moesa) Bersambung

Tags:
author

Author: