Hati Yang Terbelah

Suatu hari seorang ibu bercerita bahwa suaminya enggan melaksanakan sholat dan berdoa kepada Allah. Sang suami beralasan bahwa dia banyak melakukan dosa; suka menerima suap dan melakukan pemerasan kecil-kecilan pada orang lain. Karena diselubungi dosa, maka ia malu dan ujungnya enggan beribadah karena takut ibadahnya ditolak oleh Allah Swt. Meski demikian ia menyuruh agar istrinya saja yang banyak beribadah dan berdoa.

Pembaca budiman, suasana hati yang dialami oleh bapak tadi cukup banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Orang enggan beribadah karena merasa dirinya berlumur dosa. Mereka sudah memvonis diri mereka sendiri bahwa Allah membenci mereka dan akan menolak semua ibadah yang mereka kerjakan.

Sebenarnya, adanya kesadaran akan perbuatan dosa sudah merupakan hal yang terpuji. Berarti ia tidak mabuk dengan dosa sampai-sampai tidak tahu lagi mana yang dosa dan mana yang bukan. Tidak jarang orang sudah tenggelam dalam dosa dan akhirnya lupa dengan dosa itu sendiri.

Akan tetapi, jika kesadaran itu berujung pada keengganan beribadah, apalagi memvonis diri bahwa Allah menutup pintu rahmatNya, itu adalah sebuah kesalahan. Karena itu adalah tipu daya syetan yang membuat orang berputus asa dari rahmat Allah. Sehingga terputuslah jembatan yang menghubungkan diri seorang hamba dengan rahmat Allah Swt.

Semestinya manakala seorang hamba menyadari kekeliruannya, yang harus ia lakukan adalah bersegera kembali ke jalan Islam. Lepaskan semua perbuatan kejinya dan segera mengingat Allah dan memohon ampunan dariNya. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135)

Betapapun berat risiko yang harus dipikul karena meninggalkan kemaksiatan, tapi itulah satu-satunya jalan untuk selamat. Ketimbang hati terbelah dua antara kemaksiatan dan kerinduan berpulang kepada Allah, maka lebih baik melepaskan kemaksiatan. Karena tidak mungkin melepaskan ketaatan pada Allah. Mengapa? Karena bagaimanapun juga kita akan berpulang, kembali kepadaNya, yakni tatkala meninggal dunia.

Pada saat berpulang, tak ada yang lepas dari pengamatan Allah Swt., dan pada hari itu tak ada yang bisa menolong dan bermanfaat bagi seorang hamba. Termasuk pangkat, harta dan anak-anak. Hanya ketenangan hati yang dipenuhi dengan takwa yang akan selamat. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa,” (QS Asy Syu’ara: 87-90)

Allah Swt. Maha Pengampun, bertobatlah selama kita masih diberi kehidupan olehNya [januar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *