Tuesday, 1 December 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Bukan Karena tidak Bisa Mendapatkan Makanan yang Enak

Umar pun berkata, ”Demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, seandainya kebaikan-kebaikanku tidak berkurang niscaya aku telah menyertai kalian dalam kehidupan kalian yang enak – dan andaikata aku menghendaki tentunya aku yang paling baik makanannya daripada kalian, dan paling sejahtera hidupnya, dan aku lebih mengetahui tentang makanan yang baik daripada pemakan-pemakannya sendiri.

Oleh Umar Abdullah

Pada suatu hari berkunjunglah Hafash bin Ali Aash kepada Umar bin Khaththab ra. Saat itu Umar sudah menjadi amirul mu`minin (sebutan untuk kepala negara Islam). Saat itu Umar sedang duduk menghadapi makanannya.

Umar pun memanggil Hafash untuk makan bersamanya. Namun, karena Hafash tidak ingin memaksakan diri menelan dendeng kering yang dimakan Umar, juga tidak ingin memaksakan perutnya untuk mencernanya, maka ia menolak ajakan Umar untuk makan seraya mengucapkan terima kasih.

Amirul Mu`minin memahami rahasia penolakan Hafash terhadap makanannya. Ia pun memandang Hafash dan bertanya, ”Apa yang menghalangimu terhadap makanan kami?”

Hafash berkata terus terang, ”Sesungguhnya makanan tersebut adalah makanan yang kasar dan tebal. Aku akan pulang ke rumahku untuk mendapatkan makanan yang lunak yang telah dibuat untukku.”

Umar berkata, ”Apa kau pikir aku tidak mampu menyuruh memotong kambing kecil yang dikuliti dan menyuruh mendatangkan gandum yang lembut lalu dibuat roti yang lembut serta menyuruh mengambil satu sha’ kismis lalu dituangkan ke dalamnya hingga apabila ia menjadi seperti mata burung merpati dituangkanlah air di atasnya sehingga ia menjadi seperti darah menjangan, lalu aku memakan yang ini dan minum yang itu.”

Maka tertawalah Hafash, ”Anda tahu juga ya makanan yang baik.”

Umar pun berkata, ”Demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, seandainya kebaikan-kebaikanku tidak berkurang niscaya aku telah menyertai kalian dalam kehidupan kalian yang enak – dan andaikata aku menghendaki tentunya aku yang paling baik makanannya daripada kalian, dan paling sejahtera hidupnya, dan aku lebih mengetahui tentang makanan yang baik daripada pemakan-pemakannya sendiri. Akan tetapi kami tinggalkan itu semua untuk menghadapi hari dimana perempuan-perempuan yang menyusui lupa terhadap anak yang disusuinya dan setiap perempuan yang hamil melahirkan kandungannya. Aku membiarkan kesenangan-kesenangan yang baik, karena aku mendengar Allah Ta’ala berfirman tentang beberapa kaum: ”Kalian habiskan kesenangan-kesenangan kalian yang baik dalam kehidupan kalian di dunia dan kalian menikmatinya.”

Demikianlah sobat, Umar bin Khaththab ra sang Khalifah, sang pemegang kunci-kunci harta Persia, Syam dan Mesir itu lebih memilih hidup sederhana daripada meraup kenikmatan duniawi sebanyak-banyaknya. Seorang profil kepala negara yang tidak akan pernah dijumpai di masyarakat yang kapitalistik hedonistik.[]

You may have missed