Tuesday, 24 November 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Meningkatkan Kemampuan Konsentrasi Pada Anak

Dalam pendidikan dasar, prinsipnya adalah talqiyan fikrian. Yaitu mengajarkan bagaimana berpikir benar dan mengulang-ulang pola. Dengan demikian anak harus diajarkan bagaimana berpikir yang benar. Yang tidak boleh dilakukan pada pendidikan dasar adalah membebaskan pola berpikir. Untuk anak usia dini, proses pendidikannya terfokus pada bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi berfikirnya, yakni menstimulasi panca inderanya, dengan rangsangan yang bersifat motorik.

Rubrik: HOMESCHOOLING | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Tema: MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONSENTRASI PADA ANAK

Lama berpisah senangnya bisa berjumpa

Di taman bunga harum semerbak aromanya

Anak-anak adalah permata hati kedua orang tua

Berikanlah bekal yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya

Home schooling kami hadirkan sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubric ini kita akan masih akan berbincang-bincang dengan Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga. Tema kita berjudul

Meningkatkan kemampuan konsentrasi pada anak

Ustadzah, pernah ada pertanyaan dari salah seorang ibu, mengapa anaknya sulit sekali konsentrasi ketika mendengar pelajaran. Kalau guru menerangkan, paling-paling hanya 5 menit diam sesudah itu akan sibuk bermain atau memperhatikan yang lain. Mengapa anak sulit berkonsentrasi? Yang harus difahami oleh setiap ibu atau pendidik adalah perkembangan kemampuan setiap anak itu berbeda, sesuai dengan perkembangan usia dan perkembangan potensi berfikir. Potensi berfikir ini meliputi panca indera, otak, fakta yang mampu diinderanya dan informasi yang telah diberikan pada anak. Bagi anak-anak usia dini, perbedaan usia perbulan saja, sudah berbeda kemampuan. Apalagi perbedaan per-enambulan atau satu tahun. Dalam pendidikan dasar, prinsipnya adalah talqiyan fikrian. Yaitu mengajarkan bagaimana berpikir benar dan mengulang-ulang pola. Dengan demikian anak harus diajarkan bagaimana berpikir yang benar. Yang tidak boleh dilakukan pada pendidikan dasar adalah membebaskan pola berpikir. Untuk anak usia dini, proses pendidikannya terfokus pada bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi berfikirnya, yakni menstimulasi  panca inderanya, dengan rangsangan yang bersifat motorik. Seluruh sel syarafnya masih terstimulasi secara bertahap. Sehingga hal yang sangat wajar kalau anak belum bisa konsentrasi berfikir, karena memang belum tahapnya.  Konsentrasi 5 menit pada anak usia balita atau batita masih merupakan hal yang wajar. Jadi kalau kita bisa membuat anak di bawah usia tiga tahun duduk konsentrasi mendengarkan, maka itu sudah cukup baik. Dan masih kategori wajar juga kalau mereka kemudian sibuk dengan urusan lain.

Ada orang tua yang menginginkan anaknya duduk berkonsentrasi dengan cara menakut-nakuti. Misalnya diancam dipukul atau yang lain. Bagaimana dengan cara ini? Ini jelas cara yang salah. Karena anak akan takut ketika dia sudah merasakan pukulan atau ancaman itu terbukti. Dan efeknya akan berbahaya. Anak akan trauma dan ini bukan cara belajar yang baik. Lagipula sebenarnya untuk apa sih anak ditargetkan berkonsentrasi? Apakah kita ingin memastikan anak ini menangkap pelajaran yang diberikan? Maka tidak sama cara menangkap informasi antara anak-anak kecil/usia batita dengan balita dan dengan prabalig. Ini yang harus diketahui orang tua. Pada anak-anak usia batita (bawah tiga tahun), pendengaran mereka secara khusus sangat kuat seperti radar. Mereka bisa menangkap informasi, sekalipun kelihatannya tidak konsentrasi.  Sehingga cara memasukkan pelajaran kepada mereka adalah banyak-banyak menyampaikan info melalui pendengaran. Sebagai contoh, mengajarkan anak kecil hafalan adalah menempatkan mereka dalam ruangan yang mereka sukai. Yang di sana ada hal-hal yang mereka merasa nyaman, boleh saja ada mainannya. Kemudian perdengarkanlah hafalan ayat-ayat al qur’an berulang-ulang. Sepertinya mereka hanya bermain-main saja tidak mendengarkan, tetapi nanti, ternyata mereka hafal sendiri. Saya mengalami proses ini pada anak sendiri dan anak kawan-kawan. Kita melafazhkan saja hafalan ayat kepada mereka. Anak-anak yang bisa konsentrasi duduk manis sambil mengikuti. Biasanya anak perempuan lebih bisa duduk manis. Semakin besar usianya semakin bisa tenang. Tapi ada anak laki-laki yang tidak bisa duduk diam. Dia berlari-lari terus keliling ruangan. Walaupun kalau diperingatkan bisa duduk juga sebentar. Kemudian lari lagi, naik kuda-kudaan, sibuk dengan mainan apa saja yang ditemukannya. Ketika dicoba untuk test, ternyata anak yang perempuan hafal, yang laki-laki juga hafal.  Bahkan hafalannya lebih baik. Saya saat itu mulai yakin bahwa sebenarnya mereka mendengar. Jadi untuk anak-anak usia dua tahun pun kita sudah bisa memperdengarkan hafalan. Yang harus konsentrasi adalah kita sebagai ibunya, bahwa kita meyakini suara kita tertuju dan masuk telinganya. Inilah luar biasanya kemampuan pendengaran anak.

Apa kelebihan bacaan al Qur’an untuk menstimulasi pendengaran dan konsentrasi?

Kelebihan bacaan al qur’an adalah: (1) Anak menjadi dekat dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya. (2) Anak menjadi lebih sensitif terhadap suara dan gaya bahasa Al Qur’an (3) Anak memiliki kemampuan konsentrasi tinggi (4) Anak hafal Al Qur’an. Yang terpenting juga dalam pemberian pelajaran al Qur’an ini adalah (1) Memberikan motivasi kepada anak untuk selalu meraih derajat tertinggi dihadapan Allah Swt dengan menghafal al Qur’an. (2)Memenuhi benak anak dengan al Qur’an (3) Menguasai dalil-dalil hukum syara

Sejak kapan kita mulai memperdengarkan hafalan al Qur’an pada anak? Sejak dalam kandungan. Karena sebenarnya pendengaran anak sudah terbentuk ketika dalan kandungan. BIla usia kandungan sudah enam atau tujuh bulan, biasanya janin akan merespon suara. Sehingga ibu harus banyak membaca al Qur’an atau memperdengarkan al qur’an kepada janinnya. Ketika bayi lahir maka, suara-suara yang harus sering diperdengarkan adalah al Qur’an. DI satu sisi anak akan terjaga dari gangguan setan, kemudian anak akan mendapatkan banyak informasi tentang al Qur’an sehingga akan mempermudah menghafal dan mempelajarinya, dan kemudian anak akan memiliki kemampuan konsentrasi yang tinggi. DEngan demikian, anak-anak dengan gejala khusus seperti autis misalnya, terapinya adalah selalu memperdengarkan al Qur’an.[]

You may have missed