Mendidik Anak Taat Syariah

Program: VOICE OF ISLAM | Rubrik: Keluarga Sakinah | Narasumber: Ir. Ratu Erma Rahmayanti (Pembina Forum Mar’ah Shalihah Pusat Pengembangan Islam Bogor) | Tema: MENDIDIK ANAK TA’AT SYARIAH

Pengantar:

Banyak orangtua sekarang yang dipusingkan dengan persoalan menghadapi tingkah polah anak-anaknya.  Rata-rata persoalan itu terjadi bila antara orang tua dan anak berbeda keinginan.  Banyak anak muda sekarang yang konflik dengan orangtuanya.  Tak sedikit dari mereka yang dengan terpaksa pergi dari rumah, numpang di rumah teman, hanya untuk menghindar ketemu sang ortu.  Karena kalo tetap di rumah, suasananya mendorong untuk emosi terus.

Apa sih sebenarnya yang terjadi pada kasus “perang” antara pihak anak dan ortu ini?  Siapa dalam hal ini yang harus dipersalahkan?  Ada nggak ya pihak yang mesti menang dan pihak yang harus kalah?  Ceilah, kaya perang beneran aja.

Ustadzah, Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini nampaknya tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Bagaimana ustadzah menanggapi fakta ini?

Nampaknya memang demikiran. Namun sebenarnya tugas orangtua yang digariskan Islam dalam mendidik anak tidak ada yang berubah.  Orangtua dituntut untuk mendidik anak agar taat pada Penciptanya, orangtuanya dan menjadi anak yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.  Disisi lain memang, pada era sekarang persoalan yang dihadapi orangtua saat mendidik anak, tidak sesederhana persoalan yang dihadapi kakek nenek kita saat mendidik orangtua kita. Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak.  Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu.  Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru.  Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur.  Ada saja alasan mereka!”.  Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya.  Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat.  Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat.

Dan saat ini, kalau anggapan orangtua bahwa pendidikan anak itu cukup sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, itu keliru.  Mengapa? Karena waktu terbesar anak-anak ada bersama keluarga.  Disisi lain, mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko.

Lalu, gambaran pendidikan bagaimana yang menjamin anak tumbuh kembang potensi hidupnya sesuai dengan tuntunan syariah?

Tentu saja, perlu kita perhatikan secara cermat bagaimana proses kehidupan seorang manusia dari sejak lahir hingga dewasa.  Dari proses itu kita lihat ada tiga tempat dimana anak bisa mendapat ”pelajaran hidup”.  Waktu lahir hingga usia pra sekolah dia bersama keluarga (ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, kakak, dll), usia sekolah dia bersama guru dan teman-temannya.  Sedikit lebih dewasa dia akan banyak bergaul dengan lingkungannya (media massa, aturan hidup yang diterapkan penguasa, sarana-sarana kehidupan, dll).  Keluarga, sekolah, dan lingkungan lah yang akan memberikan pendidikan pada seorang manusia.  Masing-masing dari ketiga pihak tadi punya porsi ”mendidik”.  Keluargalah yang sangat menentukan pribadi seorang anak, karena keluarga punya andil paling besar.  Nah, sinergi dari ketiga pihak ini dapat menjamin keberhasilan pendidikan seorang anak manusia.

Bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?

Pertama, asah akal anak untuk berpikir yang benar.  Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: (1) memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam.  Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah.  Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak.  Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar.

Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”

Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat.  Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.(2) , jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.  Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.

Kedua, Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini.
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.  Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah.  Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.  Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran.  Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.

Lebih jauh, anak dikenalkan dengan  asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya.  Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah.  Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.

Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap.  Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.

Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya.  Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

Kerjasama Ayah dan Ibu  Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya.  Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan.  Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih.  Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat.  Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”

Ketiga, Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat

Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam.  Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.

Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim.  Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis.  Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.

Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak.  Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah. []

BOX:

Alangkah baiknya jika ustadzah memberikan tips bagaimana mendidik anak ta’at syariah?

Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah:

1.  Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.

  1. Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.
  2. Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.
  3. Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.
  4. Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.
  5. Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.
  6. Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig
  7. Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.
  8. Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam. []

Kemudian ustadzah, saat anak mulai dewasa, sering terjadi konflik antara anak dengan orang tua.  Bagaimana ustadzah memandang hal ini?

Umumnya memang seperti itu, antara anak dan orang tua ada saja friksi ya… pergesekan begitu.  Memang nggak selamanya hubungan antar manusia itu berjalan baik, ada saja masalah.  Cobalah kamu cermati dan rasakan, biasanya apa sih penyebab perselisihan kita dengan ortu? Nah seringnya kan karena beda keinginan antara kita dengan ortu.  Misalnya, ortu ingin kamu masuk SMU negeri tapi kamu ingin masuk SMU swasta dengan berbagai alasan, misalnya banyak teman yang masuk kesana lah, lebih berkualitas sekolah swasta lah dsb.  Atau ortu inginnya kamu masuk fakultas ilmu dan teknologi, tapi kamu memilih ingin masuk fakultas sastra dan seni.  Atau yang lebih sederhana barangkali ya… Orang tuamu nyuruh kamu pergi ke warung beli minyak tanah, kamu punya gambaran sendiri gengsi amat ya.. aku bawa-bawa tempat minyak nanti kalo ketemu temen gimana? Nah beda keinginan ini biasanya yang bikin friksi dengan orang tua.  Kalau perdebatannya tambah sengit, masing-masing ngoto ngototan biasanya berujung tidak baik.  Hubungan terasa hambar, suasana rumah panas, bikin nggak betah dirumah dan ingin pergi saja.

Apakah perbedaan keinginan antara ortu dan anak itu sesuatu yang wajar?

Beda keinginan memang sesuatu yang wajar.    Tapi ini mesti ditengahi, keinginan seperti apa yang semestinya diwujudkan.  Saya yakin tidak ada orang tua yang menginginkan sesuatu yang jelek bagi anak-anak mereka.  Orang tua itu kan punya naluri sehingga dia inginnya memberi sesuatu yang terbaik untuk anak-anaknya. Sekarang masalahnya standar baik buruknya sebuah keinginan itu apa? Ternyata adakalanya keinginan orang tua yang tadinya berniat baik karena rasa sayangnya pada anak, ternyata itu keinginan yang keliru.  Misalnya, si anak ingin menggunakan busana muslimah, baik kan? Tapi ortu melarang dengan alasan nanti kamu susah cari kerja, atau kamu nanti sulit dapat jodoh karena kecantikanmu tertutupi.  Nah, alasan ini kan nampaknya logis saja, orang tua bermaksud baik karena dia khawatir akan nasib masa depan putrinya jika ia berbusana muslimah, gambaran mereka perempuan yang berkerudung kan langkahnya dibatasi, tidak bisa kerja ini dan itu.  Padahal si anak sudah berniat baik untuk menutupi auratnya, ingin menjalankan perintah Allah, oang tua juga berdalih sayang dan bertanggungjawab terhadap nasib anaknya.  Dalam hal ini mesti ada penengah kan? Mesti ada standar siapa yang benar dan siapa yang salah.  Sehingga yang salah harus menarik dan merubah keinginannya itu agar persoalan bisa selesai.  Ya, jadi sebenarnya perbedaan keinginan dan ukuran baik-buruk anatara kita dengan ortu sering jadi penyebab perselisihan itu.

Kalo begitu penentu baik buruknya keinginan suatu hal yang urgent dong, karena dia jadi standarisasi persoalan, nah apa sebenarnya yang jadi standarnya?

Yang jadi penengahnya tentu saja pemahaman agama.  Jadi pendidikan agama dan penanaman pemahaman agama mesti terjadi di setiap rumah.  Dari orang tua terhadap anak mesti ada transformasi nilai-nilai agama sejak dini.  Standar baik buruk, benar salah dalam keluarga mestilah aturan Islam.  Jadi ada penengah persoalan.  Dan semua anggota keluarga mesti ngerti posisi masing-masing.  Si Ayah adalah pemutus di keluarga.  Ibu dan anak-anak mengikuti keputusan tersebut.  Keputusan itu tidak sama dengan keputusan raja yang otoriter, tapi ibu dan anak-anak bisa menyampaikan pandangan juga sebelum keputusan dibuat.  Walhasil keputusan itu hasil dari musyawarah dan telah distandarisasi dengan agama. Jadi kalau ada keinginan yang beda antara ortu dan anak, bisa jelas penyelesaiannya.  Dalam kasus diatas tadi, ketika anak ingin menggunakan jilbab orangtua harus memberi dukungan, bukan malah ditentang.  Lain halnya jika kasusnya begini, misalnya si anak minta izin pergi untuk pergi ke acara ulang tahun teman sekelasnya.  Pesta itu diadakah malam hari, ortu yang faham pasti tidak akan memberi izin, mengapa? Karena acaranya malam hari, nanti anaknya pulang dengan siapa, di acara begitu umumnya terjadi pergaulan yang tidak islami kan? Belum lagi maraknya pemakaian narkoba di acara pesta anak muda.  Kekhawatiran orang tua ini mesti difahami oleh si anak, jangan emosi dulu karena keinginannya dihambat.  Jadi yang penting adalah adanya pengertian pada dua belah pihak yang distandarisasi dengan pemahaman agama.  Insya Allah friksi bisa dihindari.

Nih ustadzah, jika perselisihan itu terjadi, bagaimana sikap kita sebagai anak saat menghadapinya?

Yang baik memang diawal kita arus mendengar dulu apa yang menjadi harapan orang tua, kalo keinginannya itu salah dalam pandangan Islam kita tidak boleh mengikutinya.  Tapi cara untuk meluruskan kesalahan itu tidak dengan emosional, ada tatacaranya.  Pertama kita cool down dulu aja, kita dengarkan omongan orang tua dulu, kita cermati pada sisi mana pembicaraan ortu harus kita luruskan.  Jadi yang enak itu terjadi dialog yang dingin, tukar pemikiran.  Orangtua memang akan cenderung tidak ingin mengalah, nalurinya mengatakan anak itu mesti nurut orang tua, tapi sebenarnya tadi itu keinginan seperti apa yang harus diikuti anaknya dan mana yang tidak.  Saya juga mengalami hal ini, sewaktu mau menikah dulu soal calon suami yang diinginkan ortu harus yang sama lulusan sekolah umum, sementara calon suami waktu itu lulusan sekolah agama, ortu menolak dengan alasan kalo lulusan sekolah agama agama itu kan masa depannya kurang cerah.  Tapi kalau lulusan umum kan peluang kerja yang duitnya besar lebih mudah, begitulah kira-kira.  Saya cenderung diam dulu tidak membantah langsung, tapi kemudian saya berfikir disisi mana saya harus jelaskan kekeliruan pandangan ortu itu.  Nah, dalam hal ini ortu kan khawatir soal rizqi, jodoh dsb itu.  Saya mulai bicara sedikit-sedikti soal itu dan seiring waktu akhirnya ortu menerima.  Belum lagi soal pakaian saat akan nikah terjadi selisih juga.  Saya ingin menggunakan busana muslimah ortu inginnya pakai baju adat sunda, wah sempat agak senewen juga khan? Tapi satu hal kunci penting adalah karena ortu belum faham bagaimana pakaian pengantin muslimah yang semestinya, bukan dia tidak mendukung.  Akhirnya saya berupaya untuk menjelaskan dengan tidak lupa berdoa moga urusan ini dimudahkan.  Alhamdulillah akhirnya kelar juga masalahnya.  Kuncinya dengan dialog, sabar dan berdoa.

Bagaimana langkah praktis mengahadapi perselisihan dengann ortu?

Langkah-langkahnya adalah: 1.  Mengalah dulu, kepala kita harus dingin dulu, kita dengarkan omongan ortu sampai selesai, jangan memotong.  2.  Fahami pemikiran yang dimiliki orang tua, kenapa ortu kita melarang berbuat demikian atau menyuruh ini dan itu.  3. Belajar menyampaikan pendapat dengan makruf (baik).  Islam kan melarang kita berbuat kasar kepada orang tua, jangankan memukul, atau menyakitinya dengan serentetan kata-kata, untuk berkata ‘ah’ saja sudah dilarang.  Allah SWT berfirman dalam QS.17:23, yang artinya “… dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya sudah berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu berkata “ah” kepada keduanya.  Dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah pada mereka perkataan yang mulia.” Nah, begitu pamiarsa muda tuntunan Islam pada kita saat menghadapi ortu.  Kita kan tidak ingin termasuk anak durhaka sama ortu, bisa kualat dunia akhirat.  Apalagi kalau kita udah mulai ikut kajian Islam, nanti ortu bisa heran anak ngaji kok kasar.  4.  Sabar, jika ortu kita belum bisa menerima juga pandangan Islam yang kita berikan.  Ini ujian pada kita untuk tetap pegang kebenaran atau tidak.  Hal seperti ini tidak hanya terjadi sekarang kok.  Sebagian sahabat Nabi juga mengalaminya.  Orang tua mereka marah saat tahu anaknya mengikuti Muhammad SAW.  Sebut saja Mush’ab bin ‘umair r.a., Saad bin Abi Waqqash r.a.  Sahabat Saad tetap menghadapi dengan bijak saat ibunya berencana aksi mogok makan.  Beliau katakan: “Andai ibu memeliki nyawa 100, kemudian satu persatu nyawa itu tercabut dari tubuh ibu, saya tetap tidak akan meninggalkan agama (Islam) ini.  Begitupula sahabat Mush’ab, beliau termasuk anak dari keluarga kaya raya di Makkah, saat tersentuh pemahaman Islam, beliau tinggalkan kekayaan dan keluarganya untuk mengikuti Muhammad.  Dan Mush’ab ini pemuda yang ganteng lho.  Tapi saat beliau wafat, kain penutupnya tidak cukup.  Luar biasa pengorbanannya, kita sih belum dituntut sejauh itu.  Jadi mustinya masih bisa lah menghadapi ortu kita.

Terkadang kaum muda juga punya gengsi yang tinggi, agak berat untuk mengalah terhadap ortu, apalagi menghadapi ortu yang konvensional alias kolot.  Bagaimana tuh ustadzah?

Kalau kita tidak melakukan semua gambaran diatas, saat bermasalah dengan ortu, yang pasti masalah tidak akan selesai.  Bahkan kalo kita ngotot dengan kehendak kita, malah nambah masalah baru.  Tak jarang lho kita dicap anak durhaka yang menentang kehendak ortu.  Bahkan ada yang diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak mereka.  Wah, gaswat khan? Serasa disambar petir di siang hari bolong.    Padahal kalo disikapi dengan benar seperti langkah diatas, masalah bisa selesai kok meski waktunya relative ya, ada yang bisa cepat ada yang agak lama tergantung proses dialognya.

Jadi solusi terbaik?

Solusinya, ya berdamailah sajalah dengan ortu.  Nggak ada untungnya kok konflik dengan mereka.  Yang ada hanya dosa dan berakhir penyesalan kalo emang kita berada pada posisi yang keliru.  Tapi kalo ortu yang keliru, ingatlah bahwa bagaimana pun keadaan mereka, mereka berdualah yang telah melahirkan kita ke dunia ini.  Dan entah berapa banyak kebaikan yang pernah mereka berikan pada kita.  Yang jelas kita tidak pernah akan sanggup membalas semuanya.  Jadi, bersabar untuk menyampaikan pendapat kita kepada orang tua, jangan bersikap memusuhi.  Ok?[]

Rate this article!
Tags:
author

Author: