Friday, 25 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Memulai Tahfizh Quran Pada Usia Dini

Al Qur'an sebagai pedoman seorang muslim dalam berfikir dan bersikap, maka ia harus menjiwai dalam dirinya. Ketika berfikir dia mengacu kepada al Qur'an, ketika bersikap dia juga mengacu kepada al Qur'an. Agar standar ini terbentuk pada seseorang, tentu memulainya harus sejak usia dini.

Rubrik: Homeschooling | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Tema: MEMULAI TAHFIZH QUR’AN PADA USIA DINI

Home schooling hadir sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubric ini kita akan menghadirkan narasumber yang punya kompeten untuk membahas tentang pendidikan anak. kali ini kita akan membahas topic: MEMULAI TAHFIZH QUR’AN PADA USIA DINI.

Bersama Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga.

Ustadzah, kita pernah membahas bahwa dalam kurikulum pendidikan anak berbahas aqidah Islam, hendaknya Al Qur’an menjadi pelajaran yang penting bagi anak. Apa benar demikian?

Ya benar. Karena tujuan pembuatan kurikulum pendidikan anak mengacu pada al Qur’an maka tentu al Qur’an menjadi hal awal yang harus dipelajari oleh anak.

Oya apa sebenarnya tujuan dari kurikulum pendidikan anak berbasis aqidah Islam ini?

Kalau mengacu kepada al Qur’an, maka al Qur’an memberi tuntunan bagaimana kita seharusnya memandang anak-anak kita:

Allah SWT berfirman dalam QS al Fur’qan: 74 “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyayang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa”

…“Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur” (TQS. Al A’raf:189)

…“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (TQS. Ali Imran: 110)

Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak: (1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata dan pemimpin bagi orang-orang bertaqwa (2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang shaleh (3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengemban dakwah Islam, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar

Seperti apa sih kriteria anak sholeh, bertaqwa dll sebagaimana harapan Islam? Sederhananya adalah membentuk anak-anak agar memiliki kepribadian Islam. Kepribadian Islam yang dimaksud adalah memiliki pola berfikir Islam dan memiliki perilaku yang Islami. Membentuk kepribadian Islami ini harus dimulai sejak dini. Karena anak itu adalah bagaikan kertas putih yang orang tuanya atau lingkungannya yang akan memberi warna pada kertas putih tersebut: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.” (al Hadits)

Al Qur’an sebagai pedoman seorang muslim dalam berfikir dan bersikap, maka ia harus menjiwai dalam dirinya. Ketika berfikir dia mengacu kepada al Qur’an, ketika bersikap dia juga mengacu kepada al Qur’an. Agar standar ini terbentuk pada seseorang, tentu memulainya harus sejak usia dini. Dengan demikian, hafalan al Qur’an adalah materi dasar bagi seorang anak. Ini yang menjadi kurikulum dasar di dalam home schooling, selain bahasa. (Ada dua akurikulum dasar dalam paket homeschooling yaitu: Tahfizul qur’an dan bahasa)

Apa tujuan dari tahfizul qur’an sendiri? Apakah sekedar hafal atau bagaimana?

Tahfizul qur’an bukan sekedar hafal. Karena kalau soal hafal, ada orang yang hafal al qur’an tetapi tidak memahami kandungannya, sehingga tidak berpengaruh pada perilaku. Ada juga orang yang menghafal tetapi untuk menipu dan mempelajari bagaimana menghancurkan kaum muslimin. Ini sebagaimana yang pernah ditemukan dalam sejarah Indonesia, adalah mereka yang seperti DR Snough Hugronje. Dia terkenal hafizh qur’an bahkan pernah digelari mufti. Tetapi ternyata untuk mempelajari dan merancang bagaimana cara menghancurkan kekuatan masyarakat muslim di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera. Sebagaimana dokumen-dokumen yang pernah ditemukan, ternyata ia adalah agen yang disusupkan Belanda. Tetapi yang diinginkan tahfizul qur’an adalah agar membentuk kepribadian mereka. Tujuan rincinya al: (1) agar anak lebih dekat dengan al Qur’an (2) Agar anak menjadi sensitive terhadap suara dan gaya bahasa al Qur’an (3) agar anak memiliki kemampuan konsentrasi tinggi (4) agar anak hafal al Qur’an

Arah pembelajaran ini adalah: memberi motivasi kepada anak anak untuk selalu meraih derajad tertinggi di hadapan Allah SWT dengan menghafal al Qur’an. Kemudian memenuhi benak anak dengan al Qur’an dan selanjutnya membuat anak memahami dalil-dalil yang terdapat dalam al Qur’an.

Seringkali yang sulit adalah sulitnya mengarahkan anak untuk mau belajar. Apalagi anak yang sudah suka bermain. Bagaimana metode agar anak bisa hafal al Qur’an?

Di dalam kurikulum Homeschooling, yang dilakukan adalah:

Pertama. Mendengar dan melafazhkan ayat demi ayat dengan suara keras secara berulang. Dimulai dari al Fatihah, kemudian Juz Amma’. Tekniknya ketika sedang jadwal pelajaran sekolah. Adalah : Guru atau tutor membacakan 1 ayat utuh kemudian diikuti oleh siswa. Demikian seterusnya hingga hafal satu surat untuk JUz Amma’ Kemudian satu halaman untuk al Baqarah. Kemudian dilakukan pengulangan minimal 3 kali. BIla system home schooling bersifat kelompok atau komunitas (lebih dari satu anak) maka anak diminta membacakan dan yang lain mengikuti. Demikian seterusnya. Kemudian dilanjutkan (di rumah), orang tua melakukan teknik yang sama, dengan jadwal dua kali sehari sesudah shubuh dan sesudah maghrib. Cara membacakan harus yang fasih, lancar (sesuai tajwid) dan dengan intonasi yang disukai anak. Bila orang tua memiliki kendala dalam kemampuan ini, maka bisa saja diperdengarkan rekaman hafalan al Qur’an. BIasanya anak lebih suka mendengar hafalan yang disuarakan olah anak-anak. Saat ini ada kaset-kaset hafalan dari anak-anak yang mereka sudah hafal al Qur’an, khususnya dari wilayah Timur Tengah.[]

You may have missed