Fenomena Ponari, Cermin Masyarakat Sakit

Program: Voice of Islam | Rubrik: Konsultasi Surat | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Tema: FENOMENA PONARI, CERMIN MASYARAKAT SAKIT

Assalaamu’alaikum, Ustadzah, bagaimana kita menanggapi fenomena berbondong-bondongnya masyarakat untuk mencari kesembuhan pada batu ponari di Jombang? Apakah benar ini adalah bentuk kesesatan dari masyarakat kita? Mohon jawabannya. Seorang ibu di Jombang

Ustadzah, bagaimana sebenarnya fenomena batu Ponari? Sepertinya Ponari sudah popular dari selebriti atau caleg manapun?

Ponari, yang disebut sebagai – dukun kecil dari Jombang – memang mengundang perhatian. Masyarakat Jombang, bahkan tidak hanya Jombang, tapi seluruh daerah sekitar berbondong-bondong membawa air agar dicelupi batu milik ponari. Mereka menginginkan kesembuhan dengan meminum air yang dicelup batu tersebut. Begitu banyaknya, hingga saat itu membuat empat orang tergencet-gencet dan membawa pada kematian. TIdak sekedar itu, ketika keluarga  Ponari menutup tempat prakteknya karena harus sekolah, masyarakat menyerbu sumur-sumur tetangga Ponari dan menganggap air di sana juga terpengaruh batu. Bahkan mengambil air got di rumah Ponari dengan harapan air bekas mandi yang tercelup batu akan berpengaruh ke air got itu. Ini Memang fenomena yang luar biasa. Berikutnya di Jombang muncul fenomena Ponari-ponari yang lain. Bagi masyarakat Jombang yang dikenal sebagai kotanya santri karena banyak ulama dengan pesantren-pesantren besarnya- hal ini meresahkan karena ternyata masyarakat banyak masih percaya dengan praktek supranatural.

Sebenarnya apa yang menyebabkan masyarakat begitu berbondong-bondong mencari kesembuhan semacam ini?

Pertama, persoalan aqidah. Masyarakat masih lemah dalam aqidahnya. Mereka masih percaya pada hal-hal yang bersifat mistis. Seperti kekuatan magis dari batu, pohon, kuburan dll. Padahal yang harus diyakini adalah Allah Maha Kuasa. Yang lain hanya makhluknya. Kalaupun ada khasiyat yang terdapat pada batu-batuan dengan kandungan mineralnya yang bermanfaat misalnya, atau pohon dengan khasiyat batang, daun dan aromanya yang bermanfaat maka itulah kekuasaan Allah yang telah memberi qodar kepada benda-benda tadi sebagaimana Allah pun akan sanggup mencabutnya. Dengan demikian, bila memang batunya ponari mengandung khasiyat dengan kandungan zat tertentu yang bisa menyembuhkan suatu penyakit, maka bisa saja begitu. Tapi persoalannya perilaku masyarakat yang datang ke sana sudah sangat tidak realistis karena mereka lebih percaya pada kekuatan mistisnya. Ini yang diharamkan

Kedua persoalan masyarakat yang masih memiliki pemikiran  rendah. Mereka hanya mengikuti apa yang kasat mata saja dan tidak mau mengendalikan perilakunya agar sesuai dengan akal. Manusia memiliki akal. Allah menciptakan akal untuk memahami petunjuk, Wahyu Allah berupa al Qur’an dan as Sunnah. Namun ketika akal ini tidak dicerdaskan maka manusia bisa kesana-kemari tanpa petunjuk. Begitu ada ponari lari ke ponari, begitu muncul Siti Nur Rohmah dengan batunya, maka akan kesana. Begitu tidak ketemu batunya, lari mengambil air sumur terdekat. Air sumur sulit, ambil comberannya. Ini juga menggambarkan kondisi masyarakat yang sudah depresi sehingga sulit berfikir lagi

Ketiga, Fasilitas kesehatan saat ini mahal. Apalagi masyarakat yang sudah sakit parah dan kondisi ekonominya rendah. Sementara saat ini mayoritas masyarakat Indonesia kategori miskin. Kalau menurut data Bank Dunia malah 100 juta masyarakat Indonesia kategori miskin. Kalaupun ada jaminan kesehatan rakyat miskin, tapi prosedur pengurusannya bagi masyarakat cukup repot dengan kondisi pendidikan yang rendah. Dan memang untuk obat-obatan tertentu, khususnya penyakit yang parah tidak selalu ada subsidi untuk jamkeskin. Masih banyak juga yang harus dibeli.

Bagaimana bila ada yang beralasan ia hanya berharap dari Allah SWT dalam hal kesembuhan, tetapi hanya saja melalui batu Ponari?

Memang berobat itu hukumnya sunnah dan bisa berobat dengan apa saja yang dipandang bisa menyembuhkan. Dalam pengobatan, memang juga harus dibuktikan bahwa  batu itu  memiliki khasiyat tertentu. Bila tidak, dan hanya menganggap batu itu memiliki kekuatan ghaib, inilah yang bisa menjerumuskan pada kesyirikan. Hal-hal yang ghaib hanya bisa diberitahu oleh Yang Mengetahui hal yang Ghaib yaitu Allah SWT. Seperti misalnya disebutkan dalam nash hadits bahwa madu itu adalah obat segala penyakit, maka itu bisa diyakini tanpa pembuktian. Demikian juga misalnya dalam habbatus saudah juga ada obat bagi penyakit-penyakit, maka itu pun informasi yang bisa diyakini. Dengan demikian batu Ponari juga harus diteliti kandungannya sehingga bisa difahami dan tidak salah dalam penyikapan. Karena tidak sedikit juga yang tetap sakit atau tambah sakit setelah minum air yang dicelup batu itu.

Apa yang harus dilakukan menyikapi fenomena Ponari dan kondisi masyarakat yang sakit?

Memberikan pencerahan dan pencerdasan kepada masyarakat. Dan sebenarnya hal ini juga sudah dilakukan oleh MUI Jombang dan jajaran Ulama Jombang. . Mereka mendatangi tempat-tempat praktik seperti dan menasehati masyarakat agar tidak jatuh dalam kesyirikan. Hanya memang  kebijakan penutupan tempat-tempat tersebut menjadi wewenang pemerintah sehingga para ulama juga tidak bisa berbuat apa-apa

Bagaimana seharusnya kalau itu terjadi di dalam sebuah system yang menerapkan syariat Islam seperti misalnya khilafah Islamiyah?

Salah satu kewajiban negara adalah melindungi aqidah masyarakatnya agar tidak tercampuri dengan pemikiran-pemikiran syirik. Dengan demikian negara memiliki wenang untuk menutup tempat-tempat yang membahayakan aqidah umat. Di sisi lain juga akan menghukum siapapun yang menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat seperti praktek perdukunan yang mulai marak akhir-akhir ini. Selain itu tentunya pelayanan umat harus berjalan baik, yaitu pendidikan dan kesehatan. Karena ternyata memang dari sanalah penyebab kebodohan dan kondisi masyarakat yang sakit.[]

Tags:
author

Author: