Thursday, 17 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Bahagianya Menjadi Seorang Ibu

Yang dimaksud ummahaati adalah seorang ibu yang menjalankan peran keibuan. Bukan sekedar ibu biologis saja. Kemudian .Rrasulullah Saw bersabda: "…al Mar'atu raiyyatun alaa baiti ba'liha wa waladihi wa huwa mas' ulatun an raiyyatiha." HR Muslim. Dari sini bisa diambil kaidah ushul bahwa al ashlu fil mar ati al ummu wa robbatul baiti. Hukum pokok bagi perempuan adalah ibu dan pengelola rumah tangga.

Kita mungkin sering mendengar hadits yang berbunyi: Surga itu ada di telapak kaki seorang ibu. Ini menunjukkan bahwa Islam  menempatkan posisi ibu dalam kedudukan mulia. Tapi kenyataannya masih ada yang menganggap peran ibu itu remeh dan melelahkan. Sehingga ada saja muslimah yang sering mengeluh dengan beratnya tugas seorang ibu. Topik kita kali ini adalah Bahagianya menjadi seorang ibu. Mudah-mudahan bisa membuat peran ibu yang sekarang sedang dijalani oleh para ibu menjadi lebih ringan dan membahagiakan. Kita akan berbincang-bincang dengan Ustzh Ir Lathifah Musa, Beliau adalah Konsultan Keluarga Sakinah dari Klinik Anak Muda untuk Pergaulan Islami.

Ustadzah, masih ada nggak sih muslimah yang merasa berat menjadi seorang ibu?

Di era seperti sekarang, ketika pemikiran kapitalis, sekularis dan materialis menyusup masuk ke celah-celah kehidupan keluarga muslim memang mulai ada ide-ide dan konsep yang mengganggu kenyamanan kaum muslimin dalam mewujudkan profil keluarga muslim. Seperti misalnya  pemikiran moderat yang mengatakan bahwa peran keibuan itu menghalangi perempuan untuk bisa eksis di dunia public, sehingga janganlah muslimah dicekoki dengan pemahaman-pemahaman tradisional. Maksudnya pemahaman yang menempatkan perempuan melulu menjadi seorang ibu dan mulia hanya dengan menjadi seorang ibu. Padahal saat ini, dunia membutuhkan kiprah aktif muslimah di sector public. Jadi mereka mempertentangkan antara peran ibu dengan peran public. Kemudian pemikiran kapitalis dan materialis juga membuat perempuan berbondong-bondong keluar untuk full di dunia kerja. Gaya hidup konsumtif dengan iming-iming barang-barang yang dipromosikan media seperti busana modis, alat-alat elektronik, sepatu dan tas maha. Bahkan tas yang ditenteng dengan merk mahal menjadi bagian dari gaya hidup tersendiri wanita eksekutif perkotaan. Dianggap mereka yang ngerti mode dan barang-barang bermerk adalah mereka yang bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup social modern perkotaan. Diistilahkan sosialita. Padahal barang-barang konsumtif memerlukan biaya dan ternyata juga membuat para perempuan menjadi gila belanja. Mereka melihat gaji suami nggak akan bisa memenuhi selera gila belanja ini. Akhirnya para perempuan memerlukan bekerja untuk mencari uang, tidak sekedar membantu suami mencari nafkah  tetapi juga untuk memenuhi pola hidup yang sudah konsumtif. Inilah sebabnya mengapa ibu-ibu karir yang sebenarnya gaji suami itu sudah cukup untuk mebiayai rumah tanga, akhirnya tetap bertahan di dunia kerja, sekalipun meninggalkan anak. Ini karena sudah ada pola hidup tertentu tadi. Di satu sisi akhirnya para suami pun merelakan, termasuk anak-anaknya ditinggal seharian di kantor. Karena akhirnya suami tidak terbebani membiayai belanja istri, dan suami pun juga bisa menyisihkan uangganya untuk keperluan pribadinya. Inilah gaya hidup kapitalis yang mulai mempengaruhi kaum muslimin yang membentuk toleransi tinggi ketika seorang ibu meninggalkan anaknya yang masih kecil untuk bekerja seharian di kantor. Bahkan anak hanya mendapat ASI yang sedikit karena masa cuti ibu tidak bisa lebih dari tiga bulan. Biasanya akhirnya anak hanya mendapat ASI selama dua bulan saja. Kalau kita mengatakan lebih mulia jadi ibu, mereka mengatakan berat. Kadang lebih enak di kantor. Anak dengan pembantu. Kalau pembantu libur, biasanya cuti lebaran, ibu-ibu ini sering mengeluh ketika mengurusi anak mereka sendiri yang masih kecil. Seeprti kerja rodi, lebih enak seharian di kantor. Kenyataannya banyak ibu-ibu yang seperti ini. Jujur saja…

Bagaimana caranya kita merasa bahagia  menjadi seorang ibu. Bahkan kebahagiaan ini akhirnya bisa kita pertukarkan dengan karir kita di kantor?

Kita perlu sejenak merenung. Apa sih yang kita cari dalam hidup ini. Apa hidup kita itu untuk selamanya. Ini ketika naluri kita yang berat ke anak sudah mulai terkikis dengan imbalan karir dan gaji yang kita dapat di kantor. Di situlah nati kita akan kembali, toh hidup akan berakhir. Dan akhir yang baik adalah menjadi orang baik. Bagaimana sih kriteria menjadi orang baik dan muslimah yang baik. Tentu yang harus sesuai dengan keridhoan Allah SWT Pencipta kita. Apa sih amal yang paling pokok bagi seorang muslimah, sehingga nanti amal-amal yang lain akan selalu lebih mengutamakan amalan tersebut. Di sinilah para muslimah harus mengerti Islam. Karena hanya dengan Islam (hukum-hukum Allah) kita bisa tertunjuki untuk menjadi muslimah yang baik. Ternyata Islam sangat memperhatikan dan menekankan pentingnya peran ibu. Tidak sekedar untuk kepentingan ibu, tetapi juga untuk kepentingan keluarga, masyarakat dan negara. Bahkan ada pujian pada peran ibu ini dalam sebuah hadits: al Jannatu tahta aqdaamil ummahaati. Surga itu di bawah telapak kaki seorang ibu (HR Ahmad). Yang dimaksud ummahaati adalah seorang ibu yang menjalankan peran keibuan. Bukan sekedar ibu biologis saja. Kemudian .Rrasulullah Saw bersabda: “…al Mar’atu raiyyatun alaa baiti ba’liha wa waladihi wa huwa mas’ ulatun an raiyyatiha.” HR Muslim. Dari sini bisa diambil kaidah ushul bahwa al ashlu fil mar ati al ummu wa robbatul baiti. Hukum pokok bagi perempuan adalah ibu dan pengelola rumah tangga.[]

You may have missed