Tuesday, 24 November 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Agar Anak Suka Belajar

Jalan-jalan ke Pematang Siantar

Pemandangannya elok benar

Kalau kita mau jadi cerdas dan pintar

Jalannya hanya belajar yang baik dan benar

Oke PYB, jumpa lagi dengan …..dalam rubric HOME SCHOOLING. Home schooling kami hadirkan sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.

Dalam rubric ini kita akan masih akan berbincang-bincang dengan Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga. Tema kita berjudul

Agar anak suka belajar

Ustadzah, keluhan para ibu kalau menjelang masa ujian akhir adalah mencereweti anak agar belajar. Akhirnya di masa ujian semester suasana rumah jadi tegang. Anak terpaksa belajar, bahkan sampai wajahnya terlihat kuyu. Bagaimana menyikapi fenomena ini? Seperti biasa, ibu-ibu baru menyadari agar anak perlu belajar kalau pas jadwal ulangan umum atau ujian. Kalau tidak, biasanya ibu-ibu sering lupa memperhatikan pelajaran anaknya. Bahkan anaknya sedang belajar apa di sekolah dan apa yang sedang mereka pelajari, terkadang ibu-ibu tidak tahu. Atau mungkin tidak peduli. Apalagi bapak-bapak. Karena biasanya bapak-bapak lebih sibuk keluar. Padahal perhatian kepada anak, meliputi segala hal. Termasuk apa sih yang sedang dipelajari oleh anak. Kemudian kita juga harus tahu apakah anak sudah faham atau tidak. Ini yang harus disadari oleh orang tua. Agar tidak menyerahkan urusan pendidikan sepenuhnya kepada pihak lain. Yang saya maksud pihak lain adalah pihak sekolah. Karena Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban orang tua, bukan pihak sekolah. Saat ini fenomena dunia kapitalis adalah: orang tua mencari uang, kemudian urusan pendidikan diserahkan ke orang lain.

Sebenarnya bentuk “cerewet” kepada anak adalah bentuk kepedulian juga. Karena ada juga orang tua yang tidak peduli sama sekali. Bahkan anaknya sedang ujian pun orang tua tidak tahu. Bagaimana dengan alasan seperti ini? Yang perlu diperhatikan adalah bukan sekedar “cerewet”. Tetapi kita harus tahu untuk apa kepedulian itu dan dalam hal apa. Jangan sampai justru menyengsarakan anak. Ada anak yang tidak pernah terkondisi belajar. Tidak ada yang membimbing belajar. Bahkan ada yang tidak suka belajar. Ini biasanya untuk anak-anak kelas 1 dan 2 SD. Akhirnya ketika orang tua menyuruh belajar bahkan marah-marah, “kok nggak belajar padahal lagi ujian”, dia sendiri tidak tahu mau belajar apa. Belajarnya bagaimana. Metode belajar seperti apa. Akhirnya bingung. Anak sendiri yang stress. Ada yang seperti ini. Ada lagi anak-anak yang dia sudah belajar langsung di sekolahnya. Dia merasa sudah bisa karena daya serapnya baik. Dia juga sudah terbiasa untuk membaca langsung bisa. Orang tua marah-marah menyuruh belajar. Dia juga akhirnya bingung, mau belajar apa lagi. Semua sudah dikuasai. Ini juga bisa menimbulkan kebosanan. Untuk itu orang tua harus bisa memahami anaknya satu persatu. Termasuk bagaimana cara belajar anaknya. Cara belajar anak-anak usia dini, tidak sama dengan usia SD (atau bisa kita katakana usia pra baligh), tidak sama juga dengan cara belajar usia SMP dan SMA (usia baligh secara umum). Cara belajar anak disesuaikan dengan tahap perkembangan kemampuannya. Yaitu kemampuan akalnya.

Seperti apa metode belajar yang baik? Metode belajar yang baik adalah talqiyan fikrian. Yaitu mengulang-ulang proses pembentukan pola berpikir. Di sini kita harus memahami bahwa pada anak-anak, komponen berpikirnya seperti otak dan indera belum sempurna terbentuk. Mereka harus diajarkan bagaimana menggunakan panca inderanya secara benar, bagaimana berpikir yang benar.

Ada teori yang juga sering digunakan orang tua terhadap anaknya. Yaitu biarkan anak berkembang alami. Jangan dilarang ini dan itu. Jangan dihambat perkembangannya yang alami. Orang tua cukup memfasilitasi saja. Bagaimana dengan teori ini? Ini adalah teori yang dikatakan liberal. Dalam banyak kasus justru orang tua yang akhirnya tidak bisa mengendalikan anaknya. Bahkan ada anak yang tidak mau mendengar lagi ketika orang tua bicara. Dia sudah terbiasa bebas. Tidak mau diatur. Padahal yang namanya anak, belum punya pola dalam berfikir. Dalam mengindera pun juga belum tentu tepat. Misalnya kita biarkan anak yang suka menonton. Dia marah kalau TV dimatikan. Padahal ia masih usia dini. TV itu berbahaya bagi usia dini. Kalau terus menerus ditonton. Bisa merusak indera penglihatan sehingga penglihatannya tidak optimal, bisa mengganggu kemampuan konsentrasi secara khusus pendengaran. Akhirnya bisa menghambat perkembangan otak. Makanya orang tua harus mengarahkan bahwa anak melihat yang baik, mendengar yang baik, mengindera yang baik, sehingga stimulai otaknya berkembang ke arah yang baik. Lalu orang tua harus mengajarinya berpikir yang bagaimana berpikir benar. Mulai dari identifikasi fakta mengkaitkan dengan informasi yang baik (karena di era globalisasi ini banyak informasi yang tidak baik yang bisa diserap anak, mulai dari pendengarannya dan penglihatannya). Stimulasi yang salah bisa membuat anak berkembang secara salah. Sebagai contoh anak yang suka nonton sinetron. Apalagi sinetron yang menampilkan adegan pacaran. Ini bisa memicu hormon seksualnya. Anak bisa dewasa dini, padahal perkembangan otaknya belum sempurna. Inilah sebabnya mengapa ada kasus anak usia SD memperkosa anak balita misalnya. Secara akal dia belum sempurna, tetapi lingkungan menstimulasi naluri seksualnya. Untuk itu anak-anak usia dini jangan menonton sinetron dewasa. Mereka jangan sampai terstimulasi naluri seksualnya sebelum akalnya bisa memiliki pola yang baik. Saat ini orang tua memang harus hati-hati terhadap anak. Mulai dari lagu yang dinyanyikan (lagu dewasa) atau tayangan yang ditonton ini bisa berpengaruh. Anak-anak yang besar di bawah asuhan pembantu atau pengasuhnya misalnya. Sementara orang tua sibuk bekerja. Jangan sampai ada hal yang tidak terkendali.

Untuk anak-anak usia dini, bagaimana belajarnya? Apa bedanya dengan anak SD? Karena tahapnya masih menyempurnakan komponen otak, maka yang harus dilakukan adalah dengan stimulasi indera dan motoriknya. Belum mengulang-ulang pola berpikir yang benar, walaupun sudah mulai diarahkan denganselalu memberikan informasi yang benar. Dengan demikian cara belajar anak usia dini adalah dengan bermain. Kalau anak diam saja, usahakan mereka bermain. Permainan yang merangsang indera dan motorik. Berlari, melompat, berguling, dll. Kita sering melihat energi anak luar biasa dalam bermain seperti tidak perbnah capek. Tapi itulah proses pertumbuhan yang baik. Ketika anak beraktivitas fisik misalnya, mereka akan terengah-engah, pada saat itu akan lebih banyak oksigen yang terhirup. Oksigen ini ibaratnya makanan otak. Sangat penting bagi pertumbuhan otak. Makanya anak yang beraktivitas di alam, secara umum stimulasi indera dan otaknya lebih baik. Pada tahap ini orangtua mengarahkan cara berpikir yang benar, yaitu menanamkan kedekatan dengan Allah SWT, Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Jadi yang dimaksud “biarkan jangan dilarang”, adalah ketika anak beraktivitas seperti berlari, melompat, bermain sepeda, berayun dll. Untuk anak-anak usia dini memang harus diawasi, jangan sampai mencelakakan. Tapi ini hanya factor safetynya saja. Bukan bentuk larangan[]

You may have missed