Saturday, 19 September 2020

MediaIslamNet

Portal Opini dan Solusi Islami

Sinetron Cinta Anak Muda

Program: VOICE OF ISLAM | Narasumber: Asri Supatmiati, S.Si. (Redaktur Harian “Radar Bogor”) | Tema: Sinetron Cinta Anak Muda

Pengantar presenter

Sobat muda, diantara kamu-kamu pasti ada dong yang demen nonton sinetron. Atau malah pada kecanduan? Nah, kebanyakan sinetron di layar kaca bergenre remaja. Temanya, apalagi kalo bukan masalah cinta. Wah, ngomongin soal cinta anak muda, apa memang harus seperti yang digambarkan di sinetron-sinetron itu? Bagaimana pula dampak tayangan sinetron itu buat remaja seperti kamu-kamu?

Sebagai pengamat media, bagaimana Mbak melihat fenomena tayangan sinetron di televisi, khususnya sinetron remaja?

Saya lihat sinetron remaja emang lagi ngetrend. Hampir semua stasiun TV memutar sinetron dengan pemain remaja usia belasan tahun, bahkan ada yang anak-anak atau ABG. Pokoknya dari sisi kuantitas, banyak banget. Tapi saya sendiri prihatin dari sisi kualitasnya. Sebab hampir semua sinetron remaja plot ceritanya mirip. Settingnya selalu sekolah, temanya cinta-cintaan, rebutan pacar, hamil di luar nikah dan sejenisnya. Kesannya latah gitu. Begitu ada yang ratingnya naik, langsung deh digeber kisah sejenis. Jadinya membosankan sekali.

Kalau dari segi kualitas sinetron itu hampir seragam, kenapa ya para cewek suka banget nonton sinetron?

Banyak faktor sih. Mungkin ada yang demen karena pemain-pemainnya yang ngetop. Mungkin karena nggak ada tayangan alternatif lain, ya udah akhirnya ditonton. Ada juga karena tuntutan pergaulan. Masak anak gaul nggak tahu kisahnya Intan, Soleha atau Aisyah misalkan. Gengsi dong kalo nggak kenal sama Cinta Laura atau Naysila Mirdad yang ngetop itu. Jadi biar dianggap gaul, tayangan sinetron jadi santapan sehari-hari.

Yang jelas, rata-rata sinetron itu diplot dalam kerangka besar yang sama: tentang cinta, persoalan keluarga, iri-dengki, dendam, dan kisah sedih yang menjurus dramatis. Semua disajikan dalam kisah yang berliku-liku dan menggugah emosi penonton.. Nah, sinetron model gitu sering dikaitkan dengan perempuan. Makanya tokoh sentralnya pun, terutama yang menjadi objek penderita, selalu cewek. Makanya yang banyak suka sinetron kayak gitu juga kaum cewek yang cenderung melankolis atau bahkan cengeng. Beda ama cowok, biasanya lebih suka  film-film laga atau horor karena lebih menantang.

Coba lihat sinetron Intan misalnya, penderitaan Naysila Mirdad, jelas membuat iba dan menggiring emosi penonton. Tema sejenis ada pada Soleha, Aisyah, dan sinetron-sonetron sejenis. Atau kalo sinetron asing, kayak Meteor Garden yang dulu pernah ngetop. Drama ini mampu menghadirkan dunia yang terasa dekat dengan gaya hidup sehari-hari seorang remaja perempuan. Dunia kampus, interaksi dengan kelompok remaja laki-laki, persaingan mendapatkan laki-laki pujaan, cinta yang bertepuk sebelah tangan dan hal-hal lain yang menjadi bagian hidup sehari-hari. Tokoh Sanchai membagi pengalamannya kepada remaja perempuan tentang bagaimana rasanya menjadi seorang remaja perempuan yang cantik tapi miskin, disukai oleh seorang yang tampan dan kaya, tapi harus mengalami banyak masa-masa sulit dalam perjalanan cintanya karena keadaan tersebut. Adegan, dialog dan setingnya yang mengharukan,  mengundang penonton untuk ikut ambil bagian dalam situasi emosional yang dialami Sanchai. Makanya banyak cewek, termasuk kalangan ibu-ibu yang suka banget sama drama itu.

Selain itu, sinetron kerap menjual mimpi indah bagi para perempuan. Soalnya para tokoh dalam melodrama dianggap mewakili impian kaum wanita. Hampir semua pemain sinetron –terutama pemain utamanya—adalah sosok yang cantik/tampan, dengan busana yang indah-indah, dalam rumah-rumah yang megah. So, nggak salah jika penonton menyukainya karena di situ digambarkan tentang citra perempuan yang sempurna: cantik, kaya dan hidup bahagia.

Pastinya pihak produser yang membuat sinetron itu ada maksud tertentu dong Mbak kenapa membidik segmen penonton dari kalangan perempuan.

Bener banget. Sinetron sejatinya sebuah produk hiburan yang merupakan bagian dari industri kapitalisme. Makanya menurut Partington (1991), sinetron itu dibuat berdasar perspektif feminin dan konsumtif. Artinya, dengan menjual sisi-sisi kewanitaan, diharapkan iklan-iklan yang ditayangkan mampu menggairahkan daya beli terhadap produk yang terkait dengan citra yang digambarkan dalam sinetron itu. Misal dalam tokoh itu selalu lakon utamanya cewek cantik dan cowok cakep. Lantas diiklankan produk pemutih kulit, penghilang jerawat, dll.

Satu lagi pendapat menarik adalah dari Gledhill (1997). Menurutnya, ketertarikan perempuan nonton sinetron atau melodrama sejatinya bukan murni datang dari  pihak perempuan itu sendiri, tapi dibangun oleh pengelola media massa. Begini ceritanya: pada 1930-an, radio komersial dan perusahaan periklanan Amerika sedang mencari format alternatif yang dirasa lebih besar pengaruhnya terhadap khalayak dalam menerima pesan-pesan iklan, khususnya segmen perempuan. Lalu para pembuat film melodrama mencari referensi tentang hal-hal yang disukai perempuan. Ide untuk membuat serial fiksi yang panjang (dengan cerita berliku) datang dari majalah perempuan. Pada saat itu, banyak majalah perempuan sukses menyajikan serial fiksi tentang kisah cinta dan kehidupan personal perempuan. Kalo di Indonesia kira-kira sejenis kisah ‘Oh Mama Oh Papa’ di Kartini gitu loh!

Ternyata emang bener, begitu dibuat cerita fiksi yang melankolis, rate iklan langsung melejit dan dagangan para pemasang iklan pun laku keras. Bisa ditebak, semua yang terlibat dalam industri itu untung besar alias ujung-ujungnya duit. Maklum saja, kaum hawa biasanya kan konsumtif. Lihat iklan produk di teve, nggak kuat deh, alias langsung beli.

Wah, jadi sinetron itu bukan sekadar hiburan ya, tapi udah mengarah pada gaya hidup konsumtif. Lantas mengenai temanya nih Mbak, kenapa sih tema percintaan di kalangan anak muda yang selalu diangkat dalam sinetron?

Ya, untuk merangsang remaja buat nonton terus. Soalnya hubungan antarlawan jenis itu memang selalu menarik, khususnya bagi remaja-remaja yang baru puber. Sebab naluri seksual itu paling gampang bangkit kalau dirangsang dan lantas membutuhkan pelampiasan yang memuaskan. Nah, tema-tema yang merangsang itulah yang sengaja diplot untuk menarik minat anak muda biar pada nonton.

Kalau bicara mengenai dampak nih Mbak, menurut Mbak sejauh mana pengaruh sinetron ini buat remaja?

Nah, ini yang saya khawatirkan, karena bisa dibilang sinetron itu sama sekali nggak mendidik. Unsur edukasinya minim banget, atau malah nggak ada. Jangan sampai kisah di sinetron itu jadi inspirasi yang diusung ke dunia nyata. Ini bisa bahaya. Terutama buat muslimah. Soalnya banyak banget hal-hal dalam sinetron itu yang nggak islami. Bayangkan, pelajar-pelajar yang digambarkan di sinetron, sama sekali nggak menunjukkan identitasnya sebagai pelajar. Setingnya sih sekolah, tapi bukan bagaimana berlomba-lomba meraih prestasi yang ditonjolkan, malah rebutan pacar atau berantem sama sesama teman yang mendominasi. Belum lagi penampilan para pelajar di sinetron ini yang dandannya menor, bajunya ketat atau tongkrongannya mobil mewah. Duh, kalo ditiru kan nggak baik. Ditambah adegan kekerasan yang tampak dari kata-kata kasar yang meluncur dalam setiap konflik, hinggaq tindakan fisik.

Nah, buat remaja, termasuk AGG atau bahkan anak-anak yang nggak punya filter, mudah banget meniru apa yang dia lihat di sinetron. Mulai dandanan, gaya bicara hingga tingkah polah para pemain sinetron idolanya dicontek abis. Padahal kan nggak semuanya positif. Malah kayaknya positifnya dikiiiit…banget. Bayangkan, kalo cewek-cewek ABG yang dandan pake baju super ketat plus make up tebel di sinetron ditiru remaja-remaja muslimah, apa nggak berabe? Mau dikemanakan identitas Islam mereka?

Begitu juga gaya bicara para tokohnya, yang kadang disertai kata-kata kasar dan nggak islami, gawat kan kalo sampe dibudayakan. Belum lagi aktivitas cinta-cintaan, pacaran dan kencan yang dipertontonkan, sering jadi inspirasi  para remaja untuk melegalkan hubungan syahwat yang haram. Seperti adanya anggapan bahwa hamil di luar nikah itu hal biasa. Wah, ini tentu sangat merusak pola pikir dan akhlak remaja.

Tapi kan sekarang ada Mbak tokoh sinetron yang dandannya juga sopan, menutup aurat malah. Trus ada juga yang kisah-kisahnya Islami, mengingatkan pada kematian misalnya. Bagaimana menurut Mbak?

Ah, kalau menurut saya itu hanya asesoris saja. Sinetron Islami itu nggak cukup sekadar pemainnya nutup aurat. Buktinya biar pake kerudung atau yang cowok pake baju koko, tapi aktivitasnya pacaran, dua-duaan ama cowok. Padahal itu kan nggak boleh menurut Islam. Justru kalo hal semacam itu dibiarkan, akan makin merusak citra Islam dan makin menjauhkan muslimah dari tuntutan Islam. Akhirnya nanti mereka beranggapan, oh nggak papa kok pake kerudung pacaran. Tambah runyam kan.

Apalagi sinetron yang seolah-olah Islami karena dalam dialognya aktor atau artisnya sering mengucap astaghfirullah, rajin salat, menutup aurat, tapi kemudian dibumbui dengan hal-hal mistik. Wah, ini tambah mengkhawatirkan lagi karena bisa-bisa membuat citra Islam jadi menyeramkan. Kok Islam gitu ya, isinya siksa kubur melulu misalnya.

Jadi menurut Mbak gimana kita sebagai muslimah mensikapi menjamurnya tayangan sinetron remaja itu? Apa nggak usah nonton atau gimana?

Ya, kalo ada alternatif tayangan lain yang lebih mendidik, kenapa nggak pilih yang lain aja? Kalau nggak ada dan terpaksa nonton, ya kalo sekadar buat rileks, melepaskan kepenatan sih nggak masalah. Hanya saja perlu diperhatikan, jangan sampai jadi kecanduan nonton sinetron. Apalagi kalo kisahnya hanya mengumbar masalah seks seperti pacaran, pornoaksi seperti mengumbar aurat atau adegan kekerasan, baik dalam dialog maupun tindakan. Masih banyak cara untuk mendapatkan hiburan tanpa menjejali otak kita dengan tayangan yang nggak berkualitas. Soalnya dikhawatirkan, kalo terbiasa nonton tayangan nggak mendidik, lama-lama otak kita juga bakal tumpul, jadi malas mikir dan bahkan kalau nggak kuat iman bisa-bisa terbawa arus seperti yang dituntunkan dalam sinetron ini. Nah, ini yang musti kita hindari.(*)

You may have missed