Posts Tagged ‘remaja’

Seni untuk Anak dan Remaja

Seni untuk Anak dan Remaja

Dipublikasikan pada Sabtu, 24 Desember 2011 | 10:30

Fatimah NJL (Siswa Kelas 6 SD dan Santri Pesantren Media)

Ahad, 11 Desember 2011, pukul 14.00, sudah mulai terlihat keramaian di Pendopo Lapangan Laladon Permai. Di sana, akan diadakan latihan untuk sanggar Al-Hamra.

Ahad, 11 Desember 2011, pukul 14.00, anak-anak dan santri Pesantren Media mulai berkumpul di teras kantor media islam net. Mereka membawa alat musik masing-masing. “Kami akan melakukan latiha di Pendopo Lapangan.” Tutur salah satu santriwati Pesantren Media, kak Novia Handayani.

Setelah mereka (Om Dedhy, Mas Farid, Abdullah, Taqi, Fathimah, Kak Novia, dan Kak Neng Ilham) berkumpul, akhirnya, mereka berangkat bersama-sama ke Pendopo. Tidak lama kemudian, personel biola dan perkusi yaitu Fathiya Tristan datang. Om Dedhy, selaku pengajar sanggar Al-Hamra mengumumkan bahwa personel gitar yang bernama Mas Ikhsan dan Mas Egi tidak dapat hadir karena besok ujian. Lanjutkan

Santun Berkomunikasi, Yuk!

Santun Berkomunikasi, Yuk!

Dipublikasikan pada Selasa, 20 September 2011 | 1:10

O. Solihin

Sobat muda muslim, sejak dulu kita udah diajarkan untuk santun berkomunikasi. Ortu kita di rumah udah sering wanti-wanti agar tutur kata kita juga baik. Selain itu, sopan-santun ketika berbi-cara dan berhadapan dengan orang lain menjadi menu harian kita. Umumnya sih begitu. Meski ada juga ortu dan lingkungan kurang baik dalam mengajarkan anak-anaknya untuk santun berkomunikasi. Misalnya, pernah tuh saya mendengar ada anak yang masih berumur empat tahun tapi sepertinya ungkapan kata-katanya nyontek abis dari film-film preman di televisi. Seperti, “Kubunuh kau!”. Dua kata itu keluar lancar dan fasih dari mulutnya (nggak pake fals segala. Bening.) ketika berantem dengan teman mainnya. Wacks, saya kaget. Begitu ditanya kepada orang dewasa yang ada di situ, dijawab, “Nggak heran, ortunya aja secara tidak langsung ngajarin gitu. Maklum, komunikasi di antara ayah dan ibunya kasar, jadinya anak ngikutin”. Ampuun!

Ngeri banget deh kalo sejak kecil kita udah belajar yang keras dan kasar. Komunikasi yang terekam di benak kita jadinya ya itu tadi, kata-kata kasar dan nggak santun banget. Pernah juga saya mendapati anak usia tiga tahunan yang ngomongnya kasar abis. Kata-katanya yang dikeluarkan nggak santun. Seperti mengucapkan, “Gua pukul lo!”, “Gua hajar lo!”. Lha, itu anak kecil. Masih tiga tahun. Tapi kata-katanya sungguh bikin risih. Maka, saya sendiri sungguh sangat khawatir kalo anak sejak kecil udah seperti itu. Usut punya usut, ternyata ibunya juga kalo berkomunikasi seperti itu. Walah, benar juga pepatah Belanda: Buah apel nggak bakalan jatuh jauh dari pohonnya (**kecuali pohon apelnya pinggir sungai dan ketika buahnya jatuh kebawa palid alias hanyut di sungai hehehe..) Lanjutkan

Amerika Masih Serius Perang Melawan Terorisme

Amerika Masih Serius Perang Melawan Terorisme

Dipublikasikan pada Senin, 12 September 2011 | 7:44

O. Solihin

Hehehe.. kamu jangan keburu stres kalo baca judul gaulislam edisi ke-203 ini. Dari judulnya aja panjangnya minta maaf (hehehe sengaja pake kata “maaf” karena kata ampun hanya ditujukan kepada Allah Swt.); enam kata! Belum lagi pilihan katanya. Heuhh bikin kamu bete kalo nggak biasa baca tulisan-tulisan dengan serius dan bakalan nganggap tuh judul serem banget. Hmm…

Bro en Sis pembaca setia gaulislam. Sengaja saya membuat judul panjang seperti ini dan mengangkat tema terorisme karena sedang hangat dibincangkan. Maklum, kemarin, 11 September 2011 adalah bertepatan dengan 10 tahun teror bagi Amerika. Kamu pasti udah pada tahu juga, minimal bagi yang baca berita serius ya, bukan cuma baca info sepakbola ama musik doang, bahwa pada 11 September 2011 silam dua gedung kembali di Amerika Serikat, yakni WTC (World Trade Center) ditubruk dua pesawat terbang yang disebut-sebut dibajak oleh teroris.

Sobat muda muslim, saya waktu menyaksikan siaran berita pada 10 tahun yang lalu itu, nyaris nggak percaya bahwa itu adalah adegan nyata, bukan dalam film. Soalnya, dramatis banget sih, jarang ada sebuah peristiwa besar yang mendadak seperti itu berhasil diabadikan kamera televisi dengan begitu pas dan angle pengambilan gambar yang bagus banget. Hehehe.. belakangan ternyata apa yang sempat saya sebut sebagai momen yang dramatis terungkap juga, bahwa sebenarnya kejadian itu diduga kuat (atau bahkan) sudah dipastikan adalah bagian dari skenario yang dibuat AS sendiri untuk meyakinkan rakyatnya dalam upaya pemerintahan Bush memburu Osama bin Ladin atas nama War on Terrorism (Perang Melawan Terorisme).

Okelah, kita nggak akan menceritakan momen tersebut dengan detil karena sudah banyak media massa yang memberitakan, termasuk yang meragukan kalo itu murni teror dari pihak teroris. Artikel ini saya buat untuk gaulislam agar pembaca remaja muslim ngeh juga dengan kondisi saat ini. Kondisi politik, kondisi kaum muslimin. Gimana pun juga, kamu semua adalah penerus perjuangan Islam dan kaum muslimin, jadi kudu ngerti dan paham soal perang melawan terorisme yang sering digembar-gemborkan Amerika dan para sekutunya lengkap dengan para begundalnya. Waduh, nih bahasa apa nggak ada yang lebih santun? Hehehe.. kebetulan menurut saya pas dengan faktanya kok.

Obama lanjutkan perang melawan terorisme

Nggak berbeda dengan pendahulunya, Obama serius banget ingin melanjutkan perang melawan terorisme yang sudah ditabuh George W Bush sepuluh tahun silam. Obama menegaskan bahwa terorisme tak akan pernah menang sambil memuji keberanian warga Amerika. “Sepuluh tahun lalu, warga biasa Amerika menunjukkan kepada kita arti keberanian yang sebenarnya ketika mereka menaiki tangga, menembus kobaran api, juga masuk ke dalam kokpit pesawat,” kata Obama dalam peringatan 11 September yang disiarkan di radio dan internet. (Kompas.com)

Mantan Presiden George W Bush dalam kesempatan yang sama juga mengatakan bahwa, “Dalam rentang waktu satu dekade, tragedi 11 September dirasakan dalam era berbeda. Namun, bagi keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, beberapa di antaranya bergabung dengan kita di sini, 11 September tak pernah dapat dilupakan.”

Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris yang ikut mendukung War on Terrorism yang digagas Bush ikut buka suara. Dia mengatakan bahwa kekuatan Barat harus dipuji untuk mengurangi ancaman teroris. Blair mengingatkan para pemimpin dunia untuk tetap waspada. ”Saya pikir kita telah menghancurkan jaringan Al-Qaeda,” kata Blair kepada radio BBC, ”namun, saya tidak berpikir ini sudah berakhir. Saya kira kaum Islam radikal yang membentuk kelompok teroris, masih bersama kita saat ini.”

Bush dan Blair boleh jadi dua sejoli yang kompak dalam upaya memerangi terorisme yang mereka definisikan sendiri sesuai keinginannya. Terutama menghubungkan teror 11 September dengan kelompok Islam tertentu, khususnya yang mereka sebut sebagai jaringan al-Qaeda.

Berhasilkah Amerika melawan terorisme?

Perlu dijelaskan terlebih dahulu istilah terorisme dan teroris yang dimaksud pemerintah Amerika. Terorisme menurut pemerintah Amerika, adalah sebuah ideologi yang melawan hegemoni Amerika, merongrong kepentingan Amerika. Mereka menunjuk bahwa Islam adalah kekuatan yang memungkinkan untuk melawan Kapitalisme setelah Sosialisme yang diemban Uni Soviet terkapar.

Di tahun 1990-an, Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, menuliskan bahwa peradaban Barat dengan pemimpinnya Amerika yang semakin menghegemoni dunia memunculkan perlawanan dari kubu Islam karena identifikasi westernisasi merupakan ancaman bagi agama Islam sebagai satu-satunya sumber identitas, makna, stabilitas, legitimitasi, kemajuan, kekuatan dan harapan.

Sebenarnya gagasan ini mirip dengan yang dikemukakan pada 1950-an oleh sejarawan Inggris bernama Arnold Toynbee dalam bukunya Civilization on Trial dan The World and The West. Toynbee menyebutkan prediksinya bahwa perang sejati di abad berikutnya bukanlah antara komunis dan kapitalis, tetapi antara Barat dan Muslim. Hal ini terjadi karena menurut Toynbee, Barat dengan pemimpinnya Amerika bertekad menguasai seluruh dunia, untuk menjadi kekuasaan terbesar dalam sejarah. Soviet yang menjadi penghalang (saat itu) tidak akan bertahan lama karena mereka tidak beragama, tidak beriman dan tidak mempunyai substansi di belakang ideologi mereka. Suatu saat kaum Muslim akan menggantikan posisi Soviet karena mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Soviet.

Entah, apakah pemerintah Amerika terpengaruh oleh Huntington dan Toynbee atau memang sudah punya niat untuk melawan Islam dan kaum muslimin, faktanya saat ini setelah peristiwa 11 September 2001, pemerintah Amerika getol memerangi terorisme, yang diidentikan dengan Islam dan kaum muslimin.

Berhasilkah Amerika dan sekutunya memburu al-Al-Qaida yang mereka sebut berada di balik teror 11 September 2011? Tidak. Di Afghanistan, Amerika babak belur. Belum lagi invasinya ke Irak. Di WTC konon kabarnya lebih dari 3000 warga sipil tewas dalam serangan teror itu, tetapi harga yang dibayar untuk melunasi dendam itu tak sebanding. Berapa prajurit Amerika yang tewas, terluka bahkan menderita gangguan kejiwaan? Berapa biaya perang tersebut selama 10 tahun ini?

Ini datanya. Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Brown University di AS, di bawah pengawasan dua profesor Beta Crawford, Catherine Lutz, dan diterbitkan oleh universitas tersebut, “Perang di Irak dan Afghanistan, di samping kampanye melawan terorisme di Pakistan, terutama oleh pesawat tak berawak, yang dilakukan oleh Amerika sendiri, telah menelan korban setidaknya 225 ribu orang, dan materi sebesar 3.700 miliar dolar.”

Kalkulasi akhir korban langsung dalam perang tersebut sampai saat ini diperkirakan mencapai 225 ribu korban tewas, dan sekitar 365 ribu terluka. Dari total korban tersebut terdapat 31.741 tentara, termasuk sekitar 6 ribu pasukan AS, 1200 tentara dari pasukan sekutu Amerika Serikat, 9900 tentara Irak, 8800 tentara Afghanistan, 3500 tentara Pakistan, dan 2300 karyawan di perusahaan keamanan swasta. (Juli 2011, alamislam.com)

Belum lagi tentara yang stres di medan perang. Hasil riset Yayasan Round Foundation di Amerika baru-baru ini, seperti diberitakan kantor berita Fars, mengungkapkan bahwa sebanyak 830 ribu tentara Amerika yang ditugaskan di Irak dan Afghanistan mengalami depresi, tekanan mental, gangguan kejiwaan dan saraf.

Bro en Sis, kamu tinggal hitung sendiri deh, gimana besarnya biaya perang ini dan betapa babak belurnya Amerika untuk membiayai perang tersebut serta tekanan psikologis perang yang nyaris tak berkesudahan. Selama 10 tahun dan tak berhasil sampe sekarang. Menurut catatan Muslimdaily.net (24 Agustus 2011), mengutip pernyataan James Dobbins bahwa pada awalnya, pemerintahan Bush berperang dengan “percaya diri berlebihan dalam keberhasilan perang berteknologi tinggi untuk mengatasi teknologi rendah lawan”. Oya, James Dobbins adalah mantan duta besar Amerika yang sekarang bekerja di RAND Corporation, sebuah perusahaan think tank.

So, setelah membuang taktik kontra pemberontakan dalam konflik Vietnam, para komandan Amerika kini harus belajar lagi cara untuk melawan militan bersenjata senapan Kalashnikov dan bom buatan sendiri. Afghanistan dan Irak sangat boleh jadi adalah kuburan massal bagi ribuan serdadu Amerika dan sekutunya. Setelah sebelumnya medan perang Vietnam menjadi kenangan pahit Perancis di tahun 1954 dan Amerika di tahun 1975.

Dalam catatan di situs www.sejarahperang.com, AS dan Prancis telah mengerahkan kekuatannya yang terbaik. Mereka menurunkan tentara yang handal berikut pesawat pemburu, jet tempur, pengebom super, pesawat pengacau elektronik, dan bom berpenuntun laser yang terbilang barn. Namun, semua itu bisa dipatahkan para pejuang Vietnam Utara dengan persenjataan seadanya, pesawat tempur kelas dua macam MiG­17, MiG-21, dan rudal darat ke udara sederhana SA-2 Guideline.

Perang yang menelan biaya 150 miliar dolar ini berakhir setelah AS tak kuasa lagi mempertahankan Saigon dan kehilangan 50.000 dari 500.000 tentaranya. Ternyata strategi perang yang telah dirancang apik oleh John F Kennedy, Lyndon B Johnson, Robert S McNamara dan Jenderal William C Westmoreland semuanya berantakan di tangan Ho Chi Minh, ahli gerilya Vo Nguyen Giap, Nguyen Van Bay dan Nguyen Doc Soat.

Ini sudah terbukti dan wajar banget kalo Nguyen Co Tach menuliskan pesan: “Tuan McNamara, Anda tentu tak membaca sejarah kami. Kami bukanlah budak China maupun Rusia. Rakyat Vietnam sudah bertempur melawan China selama seratus tahun. Kami akan bertempur sampai orang terakhir. Bom-bom Amerika dan tekanan-tekanan dari negara Anda sama sekali tak akan menghentikan kami. Kami berperang untuk kemerdekaan kami. Kami melawan pasukan Anda, karena kami yakin Amerika hanya ingin memperbudak kami.” (Nguyen Co Thach, Fog of War, 2003)

Sobat muda muslim, pemerintah AS telah menghabiskan 10 miliar dolar per bulan, atau 120 miliar setahun, untuk melawan al-Qaeda di Afghanistan, data ini menurut CIA seperti yang dikutip dalam Financial Times (25-26/06/11, hlm. 5).

Menurut catatan alamislam.com, selama 30 bulan terakhir dari kepresidenan Obama, Washington telah menghabiskan 300 miliar dolar di Afghanistan, dan masih ditambah sampai 4 miliar dolar untuk setiap kebijakan dalam melawan segala bentuk yang beraroma Al-Qaeda. Jika kita kalikan ini dengan anggaran yang harus dialokasikan untuk dua lusin wilayah dan negara lain di mana Gedung Putih mengklaim bahwa Al-Qaeda ada di sana, kita mulai memahami mengapa defisit anggaran AS telah meningkat tajam menjadi lebih dari 1,6 triliun dolar untuk tahun anggaran saat ini.

Walhasil di Vietnam Amerika kalah dan bangkrut. Tak menutup kemungkinan (dan sudah mendekati bukti nyata), di Afghanistan pun, Amerika menuai kegagalan dari misi yang diembannya selama ini. Ingat, hanya untuk memburu beberapa orang saja (mungkin ratusan saja) dari kelompok al-Qaeda yang selama ini mereka tuduh sebagai biang teror di negaranya. Hehe.. aneh juga sih. Memburu al-Qaeda tapi yang dibumihanguskan Afghanistan dan rakyat lainnya. Itu sih namanya seperti membakar rumah besar hanya untuk membunuh beberapa ekor tikus. Bukankah seharunya cukup dengan perangkap tikus? Bukan membakar rumahnya? Jadi, sejatinya perang ini untuk apa?

Amerika penjahat dunia

Bro en Sis, itu sebabnya, pilihan kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan rezim pemerintah Amerika adalah “Penjahat Dunia”, bukan “Polisi Dunia”. Ini dibuktikan karena nafsu menjajahnya yang tinggi dan sebagai pelanggar HAM di beberapa negara. Irak dan Afghanistan adalah contoh dua negara yang menjadi ladang peperangan sekaligus medan pelanggaran HAM oleh Amerika Serikat.

Bagi pemerintah Amerika kebijakan luar negerinya tetap sama: menjajah. Ketika berkuasanya George Bush yang menyulut api peperangan dengan negeri-negeri Islam setelah tragedi 11 September 2001, juga semasa presiden baru saat ini, Barrack Obama. Sudah, tak ada bedanya. Sebab, baik Bush maupun Obama, bukanlah penguasa tunggal. Ya, karena Amerika tak mungkin dipimpin oleh satu orang dan memiliki kekuasaan penuh. Tidak. Masih ada “bos-bos” yang memiliki pengaruh dan cukup kuat dalam mewujudkan tatanan dunia baru sesuai keinginan mereka.

Amerika seperti sudah menjadi musuh bersama bagi semua negara yang merasa dirugikan oleh sikap dan kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis. Banyak negara, kelompok, dan termasuk individu yang benci Amerika. Kebencian itu disalurkan melalui beragam aksi. Pemboman di tempat-tempat strategis milik pemerintah Amerika atau tempat apapun yang ‘berlabel’ Amerika. Unjuk rasa menentang perang yang dikobarkan Amerika terjadi di mana-mana termasuk di dalam negeri mereka sendiri. Orasi dan tulisan tersebar luas di seantero dunia.

Tak berbeda dengan era kepemimpinan Bush. Hanya saja menurut sebagian kalangan, Obama menggunakan soft power. Bukan hard power sebagaimana dilakukan Bush. Tapi nyatanya , Obama diam-diam menumpuk pasukannya di Afganistan untuk perang yang tak pernah dimengerti tujuannya oleh rakyatnya sendiri. Itu artinya, kebijakan Obama sama dalam imperialisme: hard power. Menggunakan kekerasan. Bahkan ketika Israel yang sudah nyata-nyata melanggar HAM, Obama bergeming dengan menutup mata dan telinganya dari aksi vulgar yang dipertontonkan Israel selama ini di Palestina.

Kebijakan Amerika dalam War on Terrorism juga diamini banyak negara, termasuk Indonesia. Itu sebabnya, perang melawan terorisme sesuai definisi Amerika diterjemahkan untuk memerangi umat Islam. Densus 88 lahir dari gelontoran jutaan dolar dana proyek Amerika dan Australia untuk mewujudkan cita-cita mereka memerangi kaum muslimin di Indonesia, yang mereka sebut sebagai bagian dari jaringan Al-Qaida Internasional atau Jamaah Islamiyah. Meski sampai sekarang tuduhan mereka sulit dibuktikan.

Bro en Sis rahimakumullah, siapa yang akan menghentikan kebrutalan AS dan sekutunya selama ini? Kita, kaum muslimin. Ya, kita punya tugas dan tanggung jawab melawan segala bentuk kezaliman. Seluruh kaum muslimin harus bersatu padu untuk mewujudkan kekuatan bersama dalam melawan hegemoni Amerika selama ini. Lebih keren lagi kalo kaum muslimin punya kepemimpinan umum dengan institusi bernama Daulah Khilafah Islamiyah. Kekuatan inilah yang telah berhasil mewujudkan tatanan dunia baru yang beradab. Ini sudah dibuktikan selama ratusan tahun kekhilafahan Islam dalam memimpin dunia.

Saat ini memang Khilafah Islamiyah nggak diterapkan, tetapi insya Allah akan hadir kembali sebagaimana Sabda Nabi saw.: “Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung khilafah menurut manhaj kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung para Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsungkepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berelangsung kembali khilafah menurut manhaj kenabian. Kemudian beliau berhenti”. (HR Ahmad, No: 17680)

Yuk, kita wujudkan kembali. Kita mulai dengan kesadaran, giat belajar Islam, sebarkan pemahaman Islam dengan dakwah dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang juga kita mulai membenahi diri sendiri dan sekaligus orang lain. Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah Swt. Tetap semangat!

Dakwahtainment

Dakwahtainment

Dipublikasikan pada Senin, 15 Agustus 2011 | 9:36

O. Solihin

Apa yang kamu pikirkan pertama kali baca judul ini? Seperti mengingatkan kepada acara gosip seleb? Hmm.. nggak salah juga. Kata “entertainment” yang melekat dengan kata info sering kita temukan dalam acara-acara gosip selebritis: infotainment alias informasi seputar hiburan. Nah, dakwahtainment juga kira-kira mirip lah. Mungkin tepatnya Dakwah Entertainment, disingkat jadi dakwahtainment. Lho, kalo gitu artinya dakwah yang bersifat hiburan dong? Bisa jadi. Atau… bisa juga dakwah yang dikemas dengan cara menghibur.

Bro en Sis, dakwah entertainment semarak di saat Ramadhan. Coba deh tengok, hampir semua stasiun televisi menayangkan dakwah yang dikemas dengan hiburan, atau malah dalam beberapa stasiun televisi dakwah digabung dengan hiburan. Televisi memang media paling ampuh untuk mengemas dan menayangkan dakwahtainment. Selain jangkauannya luas, juga kekuatannya sebagai media dengan keunggulan audio visual (bisa didengar dan bisa dilihat), televisi bisa mengambil ceruk pasar pemasang iklan. Kok bisa? Lanjutkan

Tak Putus Dicekik Konflik

Tak Putus Dicekik Konflik

Dipublikasikan pada Sabtu, 30 Juli 2011 | 7:15

O. Solihin

Ampun dah negeri kita ini, tak putus dicekik konflik dan tak reda dirundung sengsara. Sejak sebelum kemerdekaan, ketika jaman awal-awal kemerdekaan, hingga jaman kiwari. Konflik selalu ada dan tetap menjadi bagian dari hidup hampir seluruh rakyat negeri ini. Jaman penjajahan nenek moyang kita hidup susah bin sulit. Saat awal-awal kemerdekaan konflik melanda hampir di seluruh pelosok negeri. Berbagai kepentingan policik, eh politik menghiasi perjalanan sejarah negeri ini. Berganti tahun, berganti pemimpin, namun tetap saja konflik tidak bisa dipadamkan. Musim berganti, cuaca tak selalu sama, rezim satu berganti dengan rezjim lainnya, pemimpin satu lengser pemimpin lainnya menggantikan, tetapi resah gelisah terus merajam pikiran dan perasaan rakyat jelata di seluruh negeri menghadapi kenyataan getirnya kehidupan ekonomi mereka. Harga bahan pokok melonjak naik cepat, apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran. Bahan bakar minyak (BBM) di beberapa pelosok langka.Akibatnya, harganya juga ikutan meroket tajam. Biaya pendidikan sangat mahal, biaya kesehatan nyaris tak terbeli kantong kempes rakyat miskin. Menyedihkan.

Padahal dalam waktu yang bersamaan, elit politik saling sikut kepentingan, saling serang demi rasa aman diri dan kelompoknya. Korupsi seperti wabah yang merajalela dari tingkat atas dan mengalir deras hingga tingkat pegawai dan lembaga rendahan. Ironi yang tak kunjung berhenti. Rakyat miskin sibuk mikirin nasibnya esok hari, yang masih ragu apakah masih bisa makan atau tidak, tetapi para elit partai dan penguasa serta pengusaha sibuk mikirin agar harta tak halalnya tak tersentuh lembaga hukum. Orang-orang model begini tak perlu pusing mikirin makan, karena yang jadi fokus perhatiannya, bagaimana bisa menimbun miliran rupiah demi memberi makan oknum penegak hukum agar mau mendukungnya, agar mau melindunginya dari jeratan hukum. Lihatlah Gayus, tengoklah Nazaruddin. Kini mereka jadi selebritis berlabel koruptor. Insya Allah yang lainnya juga akan segera menyusul menjadi bintang utama. Tunggu saja tanggal mainnya dalam panggung sandiwara berikutnya jika kondisi kehidupan seperti ini terus. Lanjutkan

Awas! Terjebak Kebebasan

Awas! Terjebak Kebebasan

Dipublikasikan pada Rabu, 6 Juli 2011 | 11:01

O. Solihin

Sejak kecil saya belum merasakan kebebasan yang bebas banget. Selalu ada pagar yang membatasi setiap apa yang akan saya lakukan. Saya memang diberikan kebebasan untuk memilih melakukan sesuatu. Tetapi seringkali ibu saya menyertakannya dengan aturan atau batasan. Sebagai anak kecil waktu itu, saya merasa senang banget ketika ibu saya memberikan kesempatan saya bermain. Tetapi, yang kadang ‘nyebelin’ adalah saya boleh bebas bermain namun dengan syarat: tidak boleh nakalin temen, tidak boleh masuk ke rumah teman tanpa ijinnya, tidak boleh masuk ke kamar orang tua teman, tidak boleh terlalu lama, waktu shalat ashar harus pulang. Waduh, di balik rasa senang bisa bebas bermain ternyata saya dibatasi aturan. Awalnya saya merasa hal itu bikin bete, tetapi lama kelamaan saya menikmatinya.

Di lain waktu, saya masih inget gimana marahnya ibu saya ketika saya mangkir ikut pengajian di mushola kampung. Mushola milik Kyai Haji Mukhsin (almarhum). Sapu lidi dalam genggaman ibu siap dipukulkan ke kaki saya jika saya tetap menolak berangkat ke mushola. Saya takut campur kesal. Sebabnya, saya juga masih ingin menikmati kebebasan bermain. Apalagi jika main ba’da ashar dengan kawan lagi asik-asiknya. Tetapi saya mengalah. Saya memilih untuk menuruti perintah ibu saya. Berangkatlah saya mengaji bersama kawan dan paman saya yang waktu itu masih remaja. Ternyata di kemudian hari, saya malah jadi terbiasa untuk berangkat ke mushola belajar ngaji. Lanjutkan

Muslim Power

Muslim Power

Dipublikasikan pada Senin, 20 Juni 2011 | 6:20

Oleh Aribowo

Kokohnya sebuah bangunan tidak terlepas dari kokohnya pondasi, struktur dan bahan yag digunakan untuk membuat bangunan tersebut. Kita sering menjumpai kondisi dimana kaum muslim begitu lemahnya di negeri kita. Sering Islam direduksi hanya kepada masalah ibadah, pendidikan dan amaliyah pribadi saja. Begitu kita ngomongin Islam dalam konteks masyarakat dan pengaturannya, tidak banyak yang bisa kita temui di negara kita. Paling masalah pengurusan ZIS (zakat, infaq, sadaqoh) itu-pun banyak overlap dengan pemerintah, ekonomi syariah yang belum berpayung kepada hukum syariah dan beberapa urusan lainnya.

Sebelum kita bahas lebih mendalam, Rasulullah saw. bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, al-Baihaqi, Abu Dawud, No. 3745)

Bro en Sis, pelajaran yang bisa kita ambil dari hadist di atas adalah suatu peringatan terhadap kondisi jaman, dimana syariat Islam itu sendiri kuat namun para pemeluknya lemah. Dalam hadist di atas dijelaskan apa yang akan terjadi dan dijelaskan pula penyebab utamanya. Hal ini dimaksudkan supaya umat Islam mengerti dan bisa bersiap diri untuk menghadapinya. Lanjutkan

Hidup Mulia Bersama Islam

Hidup Mulia Bersama Islam

Dipublikasikan pada Rabu, 15 Juni 2011 | 8:43

Oleh Anindita

Apa yang terbayang di benak kamu begitu disodorin kata ‘pedalaman’? Kalo gue sih kebayangnya: Suatu wilayah yang jauh dari kecanggihan teknologi, jauh dari kesejahteraan, dan para penduduknya yang–maaf- masih udik dan primitif, berpakaian pun ala kadarnya. Ada yang rumahnya di pesisir pantai, juga di tengah hutan.

Waduh, kita yang terbiasa belanja di minimarket, nongkrongin angkringan gorengan atau warteg, apalagi yang demen maennya di mal pastinya bakal bingung kalo terdampar di pedalaman kayak gitu. Pastilah bingung karena terbiasa dengan kemudahan fasilitas yang ada di kota. Nah kalo di pedalaman kadang sinyal hp pun ‘kejap ade, kejap tak ade’ (maksudnya timbul tenggelam gitu) bahkan ada yang tenggelam sama sekali! Jangankan mau online, sms-an aja kudu ke kota dulu kali. Lah emang ada listri? Haduh, help help S.O.S deh!

Tragis!

Kalo mikir nasib kita yang terdampar di pedalaman sih nggak abis-abis, Bro n Sis! Tapi coba deh pikirin gimana dengan sodara-sodara kita yang tersebar di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua? *mikir mode on*.  Sudahlah mereka tinggal di pedalaman, tapi apakah mereka udah dipenuhi kesejahteraannya oleh yang mimpin nih negara? Mereka bertahan dengan ‘pakaian adat’ yang alakadarnya dan ini dipertahankan buat melestarikan kebudayaan juga ningkatin pendapatan negara dalam hal pariwisata.

Selain itu, yang pasti, mereka juga masih bernaung di rumah-rumah adat mereka yang belum tentu memenuhi kriteria rumah sehat. Dalam hal pendidikan juga masih banyak masyarakat pedalaman yang belum mengenyamnya.  Padahal, kalo pemerintah meningkatkan fasilitas untuk guru-guru yang ditugaskan mengajar di pedalaman, termasuk fasilitas pendidikan untuk masyarakat pedalaman ditingkatkan, niscaya para guru bisa betah dan masyarakat pedalaman juga nggak ketinggalan informasi dan bisa belajar sebagaimana saudara-saudaranya di perkotaan.

Bro en Sis, itu baru masalah sandang dan pendidikan. Gimana dengan kesehatan, pangan, akses jalanan yang mulus tanpa hambatan, ketersediaan alat transportasi publik yang mumpuni, air bersih, listrik? Ah, gue pikir kalo kehidupan temen-temen di pedalaman serba minimalis kayak gitu terus, itu namanya pemerintah nggak  peduli sama mereka dan jelas tidak berperikemanusiaan.

Mana goal-nya?

Kalo baca tweetnya para inspirator, pasti selalu disebut-sebut yang namanya “GOAL”.  Goal sendiri bisa berarti ‘tujuan’.Gue selalu mikir, apakah pemerintah punya goal buat mensejahterakan rakyatnya yang ada di pedalaman sono? Kalo iya, kenapa mereka dipertahankan dalam kondisi mereka yang alakadarnya gitu? Cuma wilayah-wilayah tertentu yang dikasih infrastruktur lengkap. Terus, kalo ada investor mau nambang sumber daya alam di pedalaman selalu dikasih ijin, yang ada justru terjadi bentrok antara penduduk pedalaman dengan pengusaha tambang.

Aset lingkungan yang menjadi tempat tinggal masyarakat pedalaman justru tercemar. Akibatnya, masyarakat yang terbiasa dengan kehidupan alam yang damai, jadi terusik karena alamnya dicemari oleh zat-zat polutan. Kalo tanah pedalaman ditambang, kemana lagi masyarakat pedalaman akan bercocok tanam? Kenapa bukannya masyarakat pedalaman yang diberi fasilitas untuk bertani sehingga memudahkan cara bertani mereka yang masih manual? Ketersediaan air bersih juga masih rawan.  Bagi yang air sungainya masih murni dan jernih, artinya sarana air bersih masih bisa terpenuhi. Tapi gimana dengan yang sudah tercemar dengan polutan bahan tambang atau juga karena wilayah geografisnya termasuk daerah yang sulit air?

Di satu sisi, sektor pariwisata terus mendongkrak pendapatan daerah dengan ‘menjual’ keunikan kehidupan daerah pedalaman. Yang dipertanyakan, kalo pendapatan udah masuk kas daerah terdekat dengan wilayah pedalaman, apakah kebutuhan masyarakat pedalaman terpenuhi? Aduh, pusing gue mikirnya, mau jadi apa negara ini?

Bro en Sis, tapi benang merahnya udah keliatan kok kenapa goal ini nggak tercapai secara merata. Benang merahnya adalah sistem kapitalisme. Waduh mohon maaf ya buat adik-adik yang di SD atau SMP mungkin masih bingung apa itu kapitalisme. Ya, sistem kapitalisme adalah sistem yang berdasarkan kapital atau modal. Banyak orang mengartikan kapitalisme cuma ada di sistem ekonomi, padahal kapitalisme udah mengakar menjadi sistem hidup.

Nah, kalo diterapkan dalam kehidupan berarti sistem yang berdasar atas kekuasaan orang-orang yang paling gede modalnya atau kapitalnya.Kalo menurut Ayn Rand dalam bukunya Capitalism: The Unknown Ideal, kapitalisme diartikan sebagai suatu sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua kepemilikan adalah milik pribadi.

Jadi jangan heran kalo ada pantai pribadi atau malah pulau pribadi. Nggak heran jika kemudian masyarakat pedalaman jadi terusir bahkan teraniaya di wilayahnya, cuma gara-gara tanahnya dibeli ama orang kaya. Jangan heran juga kalo masyarakat pedalaman dipertahankan kondisi aslinya berhubung di sektor pariwisata berpotensi untuk ningkatin pemasukan duit buat daerah dan negara. Toh, dalam kapitalisme apapun yang dianggap baik dan bermanfaat plus menghasilkan duit (meskipun hal itu haram) dan juga merugikan orang lain (baca: nggak peduli yang dijual atau dibeli sebenarnya berstatus milik perseorangan atau umum), it’s ok aja.

Mangunwijaya pun kasih komentar pedes buat kapitalisme dalam eseinya “Mencari Landasan Sendiri”: “…ternyatalah, bahwa sistem liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan tumbal-tumbal sekian milyar rakyat dina lemah miskin di seluruh dunia, termasuk dan teristimewa Indonesia..”

Hmm..beda banget ya ama Islam. Apa bedanya ? Baca terus artikel gaulislam ini ampe tuntas ya!

Menuju kehidupan mulia

Sobat muda muslim, kita wajib nyadar kalo aturan hidup selain Islam nggak akan pernah bikin tentram. Bener. Mau kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau komunisme, semuanya cuma bikin rakyat tambah melarat. Firman Allah Swt.:”Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa : 124)

Menurut gue sih, solusi logis dan sesuai syariat adalah dengan menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Karena apa? Karena masalah akhlak, masalah ekonomi, masalah kekacauan sosial, pendidikan, budaya, kesejahteraan rakyat, hukum, pemerintahan dan sebagainya insya Allah akan beres kalo diterapkan Islam sebagai ideologi negara. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya, Al-Fikr al-Islâmi (hlm. 9–11), yang disebut dengan mabda’ (ideologi) adalah akidah/keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian melahirkan sistem atau aturan-aturan (‘aqîdah ‘aqliyyah yanbatsiqu ‘anhâ nizhâm). Menurut definisi ini, sebuah akidah/keyakinan disebut sebagai mabda’ (ideologi) jika memiliki dua syarat: (1) bersifat ‘aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan. Catet ye!

Tanpa Islam, kehidupan kita akan sengsara seperti sekarang, ketika kita berada dalam naungan kapitalisme. Firman Allah Swt.:”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maaidah : 50)

So, kalo mau menuju kehidupan yang mulia, ya cuma bersama Islam. Bukan dengan ideologi lain. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditem­bus malam dan siang. Allah tidak akan mem­biarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya se­hingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban)

Bro en Sis, dalam soal futuhat alias penaklukan negeri-negeri yang dilakukan kekhilafahan Islam berbeda dengan penjajahan gaya Kapitalisme. Islam di bawah kekuasaan Khilafah Islam disebar ke wilayah-wilayah di luar Arab sebenarnya dalam rangka membebaskan dan memuliakan manusia agar mereka dapat kehidupan layak.

Beda dengan penjajah, mereka datang untuk menguasai apa yang berharga di wilayah jajahan mereka. Kalo bahasa kerennya sekarang, penjajah ada yang pake pola soft power ada yang pake hard powerSoft power biasanya dalam bentuk ide-ide, kalo hard power dalam bentuk kekerasan fisik. Gitu. Lanjutkan

Nasihat untuk Waria

Nasihat untuk Waria

Dipublikasikan pada Senin, 6 Juni 2011 | 4:08

O. Solihin

 

Sobat muda muslim, selama ini waria alias wadam alias banci emang amat akrab dengan dunia malam dan pinggiran jalan. Berbaur dengan para penjaja cinta dan hawa nafsu di keremangan malam dan temaram lampu jalanan. Biasanya begitu ada petugas tramtib, mereka larinya paling kenceng. Maklum, secara fisik mereka memang laki-laki. Tetapi kini para waria berani tampil beda. Ada yang pernah mencalonkan dirinya jadi anggota legislatif daerah, ada yang berani menulis buku menyuarakan pendapatnya memilih jadi waria, di televisi makin banyak orang yang memerankan (atau memang sudah?) jadi waria, ada penyelenggaraan khusus untuk kontes waria seperti gelaran Miss Waria, bahkan ada yang nekat akan menikah sesama waria. Wah, gimana jadinya ya kalo pria nikah dengan pria lagi? Ada-ada saja! Padahal manusia kan berkembang biak secara generatif, bukan vegetatif alias bertunas kayak pohon pisang atau membelah diri kayak molusca. Tul nggak?

Menurut Guru Besar Psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, ketika ditanya alasan orang yang menjadi waria, hal itu bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (www.jawapos.com, 08/06/2005) Lanjutkan

Cewek ‘Hitam-Putih’

Cewek ‘Hitam-Putih’

Dipublikasikan pada Rabu, 25 Mei 2011 | 10:17

Rumaisha Hawa

Sobat muslim, makhluk Alloh Ta’ala bernama cewek sering-kali diidentikkan dengan peri-laku yang manis. Makhluk yang lembut, ngemong, care, bisa ngatur keuangan, teliti, rapi, sabar, penuh perhitungan dan lain-lain dan sebagainya. Tapi, ternyata kalau merhatiin fakta sekarang kayaknya makin jarang aja tuh nemuin cewek yang kayak gitu.

Bener. Dilihat dari berita yang seliweran di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, bahkan dari yang saya lihat dan dengar langsung makin sering didapetin kenyataan banyak cewek yang makin jauh dari kontrol agamanya (baca: Islam). Dari sekadar yang “remeh” sampai yang kelas berat kalau nggak mau dibilang sadis. Sekadar contoh aja nih ya, cewek-cewek yang ngomongnya asal ngejeplak nggak pake mikir makin gampang ditemuin. Lisannya nggak kekontrol. Seluruh isi kebun binatang sering banget jadi kosa kata yang enteng-enteng aja diucapin. Duh…duh… Lanjutkan

Permalink  |  Tagged with: , , , ,
TOP LIMA Terbanyak Dibaca Bulan Ini
Advertisement

Artikel Lainnya

Arsip Artikel

Februari 2012
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Ming
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829