Oleh Umar Abdullah
Suatu saat ada rombongan datang ke Madinah, ibukota Negara Islam. Empat dari suku Urainah dari daerah Bahrain dan tiga orang dari suku Ukul. Mereka bertemu Rasulullah saw dan menyatakan masuk Islam. Mereka bilang bahwa mereka sakit, tidak cocok dengan udara Madinah. Nabi saw yang juga bertindak sebagai kepala negara berkata, “Kalian boleh tinggal bersama pengembala ternak di Baitul Maal agar kalian dapat minum air susu unta dan minum kencing unta supaya segera sembuh.”
Demikianlah, akhirnya mereka sembuh. Tetapi ketika sehat dan gemuk, mereka malah keluar dari Islam, bahkan membunuh para gembala unta tersebut, dan, menggiring unta untuk dibawa kabur. Suara jeritan yang terdengar memberitahukan bahwa rombongan tersebut telah membunuh gembala dan merampas unta-untanya. Lanjutkan
MediaIslamNet.Com–Abi Said al-Khudri ra meriwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama Abu Umamah selalu tinggal di masjid siang dan malam. Rasulullah saw rupanya senantiasa merperhatikan keadaan Abu Umamah yang sudah sekian lama selalu tinggal di masjid meskipun bukan waktu shalat.
Akhirnya Rasulullah saw memanggil Abu Umamah kemudian menanyakan sebab-sebab dia berbuat demikian. Abu Umamah menerangkan kepada Rasulullah saw bahwa dia ditimpa kesedihan dan kesusahan yang menyebabkan dia merasa amat gelisah jika tinggal di rumah karena akibat terlampau banyak hutang yang tidak bisa terbayar. Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Pertempuran antara pengemban risalah ilahiyah dan risalah syaithaniyah berlangsung sejak iblis diusir dari Surga dan akan terus berlangsung hingga hari ini. Arus yang mengajak manusia mengenal kembali risalah ilahiyah pasti akan ditentang oleh arus yang ingin menyesatkan manusia agar tetap terjerumus pada kerusakan. Inilah yang terjadi saat ini, berbagai upaya dilakukan tentara-tentara syaithan untuk menghalangi sampainya risalah ilahiyah kepada manusia. Salah satunya adalah dengan memberi cap negatif kepada para pengemban risalah ilahiyah. Pengemban dakwah Islam diberi cap teroris, fundamentalis, pemecah belah kesatuan bangsa, dan anti toleransi. Berbagai cap negatif ini sedikit banyak berpengaruh pada masyarakat yang sedang kembali mendekat kepada risalah Islam. Paling tidak, ada kecurigaan dan ketidaknyamanan yang muncul saat sang pengemban dakwah menyampaikan risalah Islam.
Sebenarnya masyarakat tidak salah, apalagi sang pengemban dakwah. Yang salah adalah tentara-tentara syaithan yang berujud manusia. Oleh karenanya penting bagi kita semua untuk mengetahui bagaimana cara menghapus cap negatif ini agar dakwah Islam bisa mengetuk pintu-pintu pikiran dan perasaan masyarakat. Dan masyarakat pun membuka hati dan pikirannya dengan gembira. Nah cara itu pernah diteladankan oleh para sahabat nabi ketika mereka hijrah ke Habasyah. Beginilah kisahnya… Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Remunerasi (Ing: remune`ration, Ind: penggajian) alias “kenaikan gaji” ternyata tidak berpengaruh pada pola pikir dan pola sikap para pegawai keuangan di Indonesia. Buktinya Gayus tetap saja menerima uang-uang yang tidak halal dalam pekerjaannya. Dan menurut Gayus, hal itu sudah biasa dan banyak yang melakukan. Ya, kenaikan gaji yang diharapkan bisa mencegah orang dari tindakan suap dan korupsi ternyata tidak mempan untuk orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencari harta.
Sebab kedua adalah rakus bin serakah terhadap harta. Gaji untuk pegawai golongan III sebesar Rp 12 juta lebih ternyata belum membuat Gayus merasa cukup. Kerakusannya terhadap harta akhirnya menggelapkan matanya, melenyapkan hartanya karena disita, dan melenyapkan dirinya karena ditahan dan kemungkinan besar akan dipenjara.
Walaupun tidak sama benar, tapi kasus orang-orang miskin yang mulai kaya namun serakah, lalu gelap mata, kemudian habis harta dan dirinya, mirip dengan kisah Qarun. Qarun, seorang Bani Israel yang dulunya miskin kemudian kaya raya, serakah, bersekongkol dengan penguasa yang sesat, mencekik orang miskin dan orang kaya, memfitnah utusan Allah, dan dengan izin Allah SWT, akhirnya dimusnahkan diri dan hartanya. Kisah kapitalis di masa Fir’aun ini diceritakan Allah SWT dalam al-Qur`an Surat al-Qashash ayat 76-82. Oleh karena itu ada baiknya kisah ini diceritakan kembali agar bisa menjadi pelajaran berharga buat kita semua. Beginilah kisahnya…
* * *
AWALNYA MISKIN
Qarun adalah saudara dekat Nabi Musa. Mereka masih saudara sepupu. Jika Musa putra Imran bin Qahith, maka Qarun putra Yassar bin Qahith.
Pada mulanya ia adalah seorang yang miskin, namun sangat tekun beribadah. Suaranya yang sangat indah dan merdu saat melantunkan ayat-ayat Taurat membuatnya dijuluki an-Nur (Cahaya). Nabi Musa sangat kagum kepadanya.
Melihat keadaannya yang miskin, Nabi Musa sangat kasihan dan prihatin, maka diberinya Qarun ilmu kimia, sehingga ia memiliki keahlian dalam mengolah emas. Dengan kepandaiannya itulah akhirnya Qarun yang sebelumnya miskin menjadi sangat kaya raya.
Sayangnya setelah kaya Qarun menjadi sombong dan lupa diri. Ia sekarang tak mau lagi mengeluarkan zakat bagi fakir miskin. Bahkan sebagai orang kaya, ia berlagak seperti seorang raja yang lengkap dengan pangawal dan pelayannya. Ia mempunyai gudang-gudang yang berisi harta benda yang tak terbilang banyaknya.
Setiap hari Qarun memeriksa gudangnya satu persatu diiringkan budak-budaknya yang masing-masing membawa beban berupa anak kunci yang tak terhitung jumlahnya. Sedemikian banyaknya hingga memanggul anak-anak kunci itupun sudah kepayahan dibuatnya.
Pernah seorang lelaki beriman dari kaum Bani Israil menasehatinya, “Hai Qarun, janganlah kamu terlalu bangga, jangan terlalu sombong dengan kekayaan dan bersyukurlah kepada Allah; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Manfaatkanlah hartamu dengan bijak bagi dirimu dan orang lain semasa hidupmu. Berbuat baiklah kepada ciptaan Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu. Janganlah berbuat buruk pada orang-orang yang kepada merekalah seharusnya kamu berbuat baik. Bila engkau menyakiti mereka, maka Allah akan menghukummu dan mengambil kembali apa yang telah Dia anugerahkan kepadamu.”
Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
Qarun merasa tidak perlu mendengar nasehat dari orang lain, sebab Allah memberikan banyak harta kekayaan kepadanya karena ia layak mendapatkannya, dan ia memang layak mendapatkannya. Dengan kata lain jika Allah tidak mencintai Qarun, maka Dia tidak akan menganugerahkan harta kekayaan dalam jumlah banyak kepadanya.
Allah SWT membantah pernyataan Qarun tersebut dengan berfirman (yang artinya):
Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.
Jadi, andai kata-kata Qarun itu benar, tentu Allah SAW tidak akan memusnahkan satu orang pun dari mereka yang lebih kaya darinya, karena kekayaan yang mereka miliki bukanlah jaminan cinta dan kasih Allah kepada mereka.
Di lain waktu seorang sahabatnya mengingatkan, “Hai Qarun! Carilah kekayaan sebanyak-banyaknya, tapi ingatlah hidupmu di akhirat nanti!”
“Ah, kalian ingin mengatakan Tuhan Allahmu itu?” sahut Qarun sinis. “Mengapa semudah itu kalian dapat dibohongi oleh Musa? Ketahuilah Tuhan yang disiarkan oleh Musa itu cuma dongeng belaka. Di dunia ini hanya satu yang berkuasa, yaitu Yang Mulia Tuhan Raja Fir’aun! Ikutlah seperti diriku. Aku hanya beriman kepada Tuhan Raja Fir’aun. Itu sebabnya aku diberi surga, berupa kekayaan melimpah!”
Qarun kemudian berlalu tanpa menghiraukan orang-orang yang menasehatinya.
* * *
HATI TELAH MATI
Mendengar bahwa Qarun semakin ingkar, Nabi Musa datang menemuinya. Beliau disambut dengan ramah oleh Qarun. “Selamat datang wahai saudaraku, anak pamanku!” sambut Qarun. “Apa kabarmu, wahai Musa? Berita apakah yang engkau bawa?!”
“Ada yang ingin kutanyakan, yaitu tentang sikapmu akhir-akhir ini,” jawab Nabi Musa as.
“Aku mendengar kabar bahwa engkau sudah tidak beriman lagi kepada Allah. Engkau telah ingkar kepada Allah. Bahkan kini kau telah menyembah-nyembah Fir’aun. Kau juga telah menyombong-nyombongkan bahwa hartamu itu kau dapatkan karena imanmu kepada Fir’aun!”
“Ah itu cuma fitnah keji dari orang-oang yang merasa iri dengan kekayaanku! Percayalah, hai Musa saudaraku. Aku masih tetap beriman dan menyembah kepada Allah!” jawab Qarun.
“Maha suci Allah. Jangan sekali-kali kau ingkar. Sesungguhnya Allah telah banyak menimpakan siksaan kepada orang-orang yang mendustakan-Nya!” tegas Nabi Musa as.
Banyak sekali nasehat-nasehat yang disampaikan Nabi Musa as sebelum pergi meninggalkan Qarun. Namun di bibir Qarun lain pula di hatinya, yang telah berjalan dan berpijak pada kemunafikan.
“Sebenarnya Musa itulah yang menyombongkan diri, “kata Qarun dalam hati. “Dia mengaku-ngaku sebagai Nabi utusan Tuhan. Aku tahu maksudnya, dia hendak mencari kekuasaan dengan cara yang mudah! Pada suatu saat nanti, pasti orang-orang akan disuruh menyembah dirinya!”
Hari demi hari, kelakuan Qarun semakin menggila. Jadilah ia lintah darat yang tanggung-tanggung. Ia meminjamkan uang dengan mengambil bunga yang tinggi dan berlipat ganda. Tak peduli miskin atau kaya, semua diperas dan dicekik lehernya. Barangsiapa yang tak dapat melunasi hutangnya, akan disita semua barang miliknya, dirampas kebun, ladang dan sawahnya, atau orang tersebut akan dijadikan budak, jika tak memiliki apa-apa. Seringkali Qarun berbuat aniaya terhadap orang-orang miskin yang sengsara.
Dengan demikian bertambahlah kekayaan Qarun. Ia semakin sombong dan sewenang-wenang. Semakin besarlah kedurhakaannya terhadap Allah. Nabi Musa as yang mendengar semuanya semakin sedih hatinya dan sangat prihatin serta kecewa atas perilaku saudara sepupunya itu.
Dengan tiada bosan-bosannya nabi Musa menasehati Qarun. Namun Qarun tak pernah menggubrisnya. Kesombongan dan kedurhakaannya semakin menghebat.
Seringkali Qarun turun ke jalan mengadakan pawai besar memamerkan harta kekayaan dan kesenangan hidupnya, seperti pakaian, pelayan, hewan tunggangan, dan pengawal. Dalam arak-arakan yang panjang itu ikut serta semua istri-istrinya, wanita-wanita peliharaan, yang semuanya memakai perhiasan-perhiasan emas permata. Dan tak lupa ratusan budaknya ikut dalam pawai itu.
Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Namun orang-orang yang dianugerahi ilmu justru berkata: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, jauh lebih baik dan banyak dibanding apa yang dimiliki Qarun. Dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar, orang-orang yang mendapat bimbingan Allah SWT dan hati serta pikirannya tertuju kepada Allah SWT.
* * *
AKHIR KESERAKAHAN
Meskipun kecongkakkan dan kemurtadan Qarun makin hari semakin tak karuan, namun Nabi Musa as tetap bersabar untuk menasehatinya. Tapi hal itu ditanggapi lain oleh Qarun, dianggapnya Nabi Musa as merasa iri dengan apa yang dimilikinya. Dan juga Nabi Musa as dianggap duri dalam kehidupannya. Maka Qarun berusaha dengan bermacam tipu daya untuk menjelek-jelekkan nama baiknya.
Pada suatu hari Qarun memanggil seorang pelacur. Diberinya upah besar perempuan itu agar mengaku di depan umum, bahwa ia telah melakukan zina dengan Nabi Musa. Qarun juga membayar orang lain lagi untuk mengaku melihat Musa as menzinai perempuan itu.
Maka pada suatu hari raya, Qarun mengumpulkan orang-orang dari segala penjuru kota untuk menghadiri rapat besar. Dimana dikatakan bahwa Nabi Musa as akan berdakwah dan memberi nasehat.
Ketika semuanya sudah berkumpul, mulailah Nabi Musa as memberi nasehat-nasehat.
“Barangsiapa mencuri, akan kami potong tangannya!” ucap Nabi Musa as lantang. “Dan barangsiapa berzina, kami rajam dia!”
Tiba-tiba Qarun maju ke depan memotong pidato Nabi Musa, “Sekalipun engkau yang berbuat Nabi Musa?”
“Ya! Sekalipun aku sendiri yang berbuat. Hukum tetap berlaku!” tegas Nabi Musa as.
“Hai Musa! Jika begitu, engkau harus dirajam atau dilempari batu! Bani Israil menuduhmu telah berzina dengan seorang pelacur!” teriak Qarun.
Mendengar apa yang diucapkan Qarun, Nabi Musa bagai disambar petir. Ia hanya menyebut nama Allah.
Perempuan pelacur itu dipanggil oleh Qarun dan dihadapkan kepada Nabi Musa as.
Disaksikan orang banyak, perempuan itu berkata, “Engkau bersih dan bebas dari apa yang mereka tuduhkan padamu, wahai Nabi Musa.”
Nabi Musa mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Demi Allah! Siapakah yang telah menyuruhmu melakukan ini?”
Pelacur itu menjawab, “Sesungguhnya Qarun telah memberiku seribu dinar untuk melancarkan tuduhan keji atau fitnah ini kepadamu. Meskipun selama ini perbuatanku kurang terpuji, tapi aku takut kepada Allah untuk melakukan perbuatan jahat itu kepadamu!”
Pelacur itu pun kemudian bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah.
Mendengar ucapan perempuan pelacur itu, seketika lemaslah tubuh Nabi Musa as, beliau menangis dan berdo’a: “Ya Allah, jika benar aku ini Nabi-Mu, maka tolonglah hamba-Mu ini.”
Maka turunlah wahyu Allah, “Hai Musa! Kami telah jadikan bumi ini tunduk pada perintahmu, maka perintahkanlah sesukamu!”
Nabi Musa kemudian memperingatkan Qarun, “Bertobat dan minta ampunlah kepada Allah, sebelum azab datang menimpamu!”
“Aku tidak percaya kepada Allah Tuhanmu! Aku tidak takut dengan azab itu! Semua itu bohong!” jawab Qarun dengan sengit.
Nabi Musa kemudian berseru lantang kepada kaumnya, “Barangsiapa bersama Qarun, tetaplah di tempatnya! Dan barangsiapa bersamaku, hendaklah meninggalkan tempat ini!”
Orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa segera berbondong-bondong meninggalkan tempat itu. Sedangkan Qarun dan para pengikutnya yang sedikit masih berdiri di tempat itu dengan sikap sombong.
Lalu Musa as memanjatkan doa, “Wahai Allah, hari ini, izinkanlah bumi melaksanakan tugas yang belum pernah ia laksanakan sebelumnya.”
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Musa bahwa Allah mengabulkan permohonannya.
Nabi Musa as langsung bersabda kepada bumi, “Wahai bumi, telanlah mereka!”
Tiba-tiba tanah membelah. Kaki-kaki Qarun dan pengikutnya pun terbenam ke dalam bumi.
Nabi Musa as kembali bersabda, “Telanlah mereka!”
Maka bumi perlahan menelan mereka hingga ke lutut.
Nabi Musa as kembali bersabda, “Telanlah mereka!”
Maka bumi perlahan menelan mereka hingga ke bahu
Nabi Musa as bersabda, “Wahai bumi, bawalah serta harta kekayaan mereka!”
Maka semua gedung, gudang, kekayaan harta benda milik Qarun pun terbenam, sementara orang-orang menyaksikan.
Nabi Musa as bersabda, “Enyahlah kalian!”
Maka terbenamlah mereka ke dalam bumi.
Kemudian Nabi Musa as bersabda, “Mereka akan terus terbenam di dalam bumi hingga Hari Pembalasan.”
Demikianlah, tamatlah riwayat Qarun dan segala harta kekayaannya yang berlimpah itu. Tidak seorang pun dari budak-budak dan harta kekayaan serta orang-orang yang dekat dengannya yang menolong.
Saat orang-orang melihat apa yang menimpa Qarun dan hartanya, mereka yang sebelumnya menginginkan harta kekayaan seperti yang diperoleh Qarun pun menyesal dan bersyukur kepada Allah seraya berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).”
Demikianlah, akhir kehidupan Qarun sang kapitalis liberal yang mengumpulkan harta dengan cara-cara yang liberal, yang bebas, tak peduli lagi halal dan haram. Kapitalis yang bersekutu dengan fir’aun penguasa sesat. Kapitalis yang sudah bebal terhadap nasehat dan menjadi musuh orang-orang yang mengajak ke jalan Allah. Bahkan berusaha menghabisi orang-orang yang saleh jika mereka bisa.
Dan Kapitalis itu pun harus menangis meratap.
Karena hartanya bendanya hilang dalam sekejap.
Bahkan dirinya pun ditelan bumi, lenyap, senyap.
Ya, Qarun-Qarun dan Fir’aun-Fir’aun akan selalu bersekutu
Bersatu padu menyeru
Menuhankan hawa nafsu
Mengumbar kesenangan semu
Dan tentu
Menjadi bahan bakar bersama batu.
Oleh Umar Abdullah
Sebagaimana Allah telah menidurkan para pemuda Ashhabul Kahfi, maka Allah pun membangunkan mereka dari tidurnya dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun, badaniyah dan ruhaniyah, walaupun mereka dibangunkan setelah tiga ratus sembilan tahun. Tertidur tanpa makan dan minum sebagai suatu mukjizat dan tanda kebesaran serta kekuasaan Allah yang tiada taranya.
Setelah dibangunkan oleh Allah, mereka saling bertanya, “Berapa lamakah kamu tertidur?”
Seorang diantara mereka menjawab, “Sehari atau setengah hari.”
Jawaban ini didasarkan kenyataan bahwa mereka memasuki gua di waktu pagi dan dibangunkan Allah di waktu matahari sudah hampir terbenam. Maka pantas saja kalau ia mengira bahwa mereka tidur hanya selama sehari atau setengah hari.
Kemudian mereka berpindah ke persoalan yang lebih penting daripada mempersoalkan tentang masa tidur, yaitu masalah makan dan minum yang sangat mereka butuhkan.
Berkatalah mereka, “Serahkanlah masalah berapa lama kita di sini kepada Tuhanmu yang lebih mengetahui, sekarang cobalah pergi salah seorang dari kita ke kota dengan membawa sisa uang perakmu (karena sebagian telah disedekahkan sebelum mereka masuk ke gua) dan carilah makanan yang lebih baik kemudian belilah dengan uang perakmu itu makanan yang pantas untuk kita makan. Bersikap lemah lembutlah ketika mencari makanan tersebut dan janganlah sekali-kali menceritakan perihalmu di dalam gua ini kepada siapa pun. Karena jika mereka (kaum yang ditinggalkan itu) atau bala tentara Raja Diqyanus mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melemparkan batu kepadamu, menyiksamu dengan berbagai siksaan serta memaksamu kembali kepada agama mereka. Jika hal itu terjadi, niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya di dunia maupun di akhirat kelak.”
Tatkala salah seorang di antara para pemuda itu keluar dari gua menuju ke kota mencari makanan untuk kawan-kawannya, ia menyamar dengan tidak melalui jalan-jalan umum. Ia tercengang ketika melihat beberapa bangunan kota yang tidak pernah dikenalnya. Begitu pula ketika bertemu dan berpapasan dengan orang-orang yang tidak pernah dikenalnya.
Ia pun berkata pada dirinya sendiri, “Apakah aku sudah gila, ataukah aku sedang bermimpi. Oh tidak. Baru kemarin sore aku meninggalkan kota ini, semua tidak demikian keadaannya. Kalau begitu lebih baik segera saja aku keluar dari sini.”
Setiba pemuda itu di tempat penjual makanan dan menyerahkan uang peraknya untuk membayar makanan yang dibelinya. Uang perak itu berbentuk koin yang dinamakan Dafsus. Si penjual makanan keheran-heranan dan membolik-balikkan mata uang yang diterimanya itu. Kemudian ia tunjukkan mata uang itu ke tetangga-tetangganya. Pemuda itu kemudian ditanya oleh orang-orang yang sedang mengerumuninya, siapakah dia dan dari mana ia mendapat uang itu. Pemuda itu memberi keterangan tentang dirinya bahwa ia adalah salah seorang penduduk kota itu (yang disebut dengan nama kota Daksus dengan rajanya yang bernama Diqyanus).
Mendengar keterangan pemuda Ashhabul Kahfi itu, orang-orang yang mengerumuninya meragukan kewarasan pikiran pemuda itu. Ia lalu dibawa ke pihak penguasa.
Setelah mendengar keterangan pemuda itu dan kisahnya bersama kawan-kawannya ashhabul kahfi, para penguasa bersama pemuda itu ke gua tempat kawan-kawannya sedang menunggu kedatangannya membawa makanan yang dibutuhkan.
Kelanjutan kisah ini ada dua riwayat. Riwayat pertama mengisahkan bahwa setiba di pintu gua pemuda itu masuk ke dalam gua terlebih dahulu dan meminta rombongan penguasa itu menunggu di luar gua. Namun pemuda itu tidak keluar lagi, lenyap tak berbekas bersama kawan-kawannya. Tidak diketahui dimana bersembunyinya. Riwayat yang lain mengisahkan bahwa rombongan penguasa itu menyertai pemuda itu memasuki gua, berjabatan tangan dengan pemuda-pemuda ashhabul kahfi yang lain yang masih berada di dalam gua. Bahkan raja yang berkuasa di negeri itu yang turut dalam rombongan para penguasa, merangkul pemuda-pemuda Ashhabul Kahfi itu sebagai orang yang seagama dengan mereka. Setelah sejurus para rombongan penguasa dan pemuda Ashhabul kahfi bercakap-cakap dan bercengkerama di dalam gua, berpamitlah para penguasa meninggalkan gua. Sedang pemuda-pemuda Ashhabul Kahfi kembali ke tempat pembaringannya masing-masing. Kemudian mereka merebahkan diri dan wafat.
Melihat fenomena Ashhabul Kahfi tersebut, penduduk kota berselisih menyikapinya. Ada yang takut, ada yang kagum. Beberapa di antara mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka!“ Maksudnya, supaya bangungan itu menghalangi jalan masuk ke gua itu agar para pemuda Ashhabul Kahfi itu tidak dapat keluar lagi, atau sebaliknya melindungi mereka dari siapa pun yang hendak mengganggu mereka. Namun salah seorang yang berpengaruh di antara mereka kemudian mengatakan agar dibangun sebuah rumah ibadah di atas gua tersebut, karena menurutnya tempat tersebut diberkati dan disucikan sebab dekat dengan orang-oang beriman yang saleh. Kebiasaan semacam ini sangat umum di masa sebelum datangnya Nabi Muhammad saw.
Adapun Islam, melarang mendirikan bangunan di atas makam, sekalipun itu makam Nabi.
Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka mendirikan bangunan di atas makam nabi-nabi mereka.”
Rasulullah saw memperingatkan umat Islam agar tidak mengikuti kebiasaan umat-umat terdahulu yang gemar mendirikan rumah ibadah di atas makam orang-orang saleh di antara mereka.
Allah berfirman, bahwa nanti ada orang-orang ahli kitab dan lain-lain pada zaman Nabi Muhammad saw yang akan menceritakan Kisah Ashhabul Kahfi dengan menerka-nerka jumlah mereka. Ada yang mengatakan bahwa jumlah para pemuda ashhabul kahfi itu tiga orang dan yang keempat adalah anjingnya. Ada yang mengatakan jumlah mereka lima orang dan yang keenam adalah anjingnya. Semuanya hanyalah terkaan terhadap barang gaib. Dan pihak ketika berkata, bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya. Hanya Allah yang mengetahui jumlah Ashhaabul Kahfi.
* * *
Pertemuan pemuda-pemuda ashhabul kahfi dengan manusia-manusia yang masanya berjarak tiga ratus tahun lebih itu untuk membantah anggapan bahwa nanti manusia yang dibangkitkan kembali dari kematiannya hanyalah rohnya dan bukan jasadnya. Allah yang Maha Kuasa, Pencipta Langit dan Bumi berkuasa membangunkan kembali Ashhabul Kahfi yang telah ditidurkan selama tiga abad dalam keadaan utuh tubuhnya sebagaimana waktu mereka ditidurkan. Allah pun berkuasa membangkitkan kembali manusia tubuh dan ruhnya, ruh dan tubuhnya, walaupun tubuh manusia sudah menjadi debu ribuan tahun yang lalu.
Allah SWT menyatakan dalam al-Qur`an Surat al-Kahfi ayat 9 saat membuka tabir kisah ini, bahwa fenomena Ashhabul Kahfi tidaklah terlalu menakjubkan dibanding fenomena wahyu dan mukjizat, juga fenomena penciptaan langit dan bumi, pertukaran malam dan siang, penguasaan matahari, bulan, planet-planet dan lain-lain penciptaan yang menandakan kekuasaan Allah yang Maha Besar Maha Pencipta tiada tara. Allahu Akbar! (Habis)
Oleh Umar Abdullah
Setelah para pemuda Ashhaabul Kahfi itu menghilang dari kampung halamannya, raja memerintahkan untuk mencari jejak mereka dan memerintahkan untuk menangkap mereka.
Berkat lindungan Allah mereka tidak dapat ditemukan.
Ciri lokasi gua tempat Ashhaabul Kahfi bersembunyi adalah bila matahari terbit, maka sinarnya condong dari pintu gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari mendekati terbenam, maka sinarnya masuk ke dalam gua dari pintu gua sebelah kiri. Sehingga disimpulkan pintu atau celah gua itu menghadap ke utara.
Para pemuda penghuni gua itu berada dalam tempat yang masih luas yang memungkinkan badan mereka tidak terkena sengatan matahari. Itu semua adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang telah memberi ilham kepada pemuda-pemuda itu berlindung di dalam gua yang mendapat sinar matahari dan udara segar. Sehingga tubuh pemuda-pemuda itu tetap segar, walaupun mereka tertidur selama tiga ratus sembilan tahun atas kehendak Allah dan kekuasaan-Nya. Demikianlah barangsiapa mendapat petunjuk Allah, ia menjadi orang yang berhijrah. Sedang siapa yang disesatkan Allah, tidak seorang pun dapat menjadi petunjuknya.
Allah membolik-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri. Tubuh para pemuda itu biasa berputar dari sisi kiri ke sisi kanan satu kali dalam satu tahun. Tentu saja jumlah bolak-balik mereka hanya Allah saja yang tahu.
Allah menutup telinga para pemuda Ashhabul Kahfi dengan menidurkan mereka, sedang mata mereka tetap terbuka, tidak dipejamkan, untuk memperoleh udara agar tidak bisa rusak. Karenanya Allah berfirman, “Dan kamu mengira bahwa mereka itu bangun, padahal mereka itu tidur.”
Bersama para pemuda tersebut berhijrah meninggalkan kaumnya ikut juga seekor anjing. Anjing yang menjadi sahabat para pemuda ashhabul Kahfi itu menjadi penjaga di muka pintu gua dengan menjulurkan kedua lengannya, sebagaimana biasanya anjing-anjing berbuat di muka pintu rumah majikannya. Syu’aib al-Jiba’i mengatakan bahwa anjing tersebut dinamakan Himr.
Anjing itu berada di luar gua menjaga di luar pintu seraya tertidur seperti majikan-majikannya, adalah supaya tidak menghalangi malaikat memasuki gua. Karena sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing.
Sesuai dengan hikmah kebijaksanaan Allah yang memberikan perlindungan-Nya kepada para pemuda yang tertidur di dalamnya, dan anjing yang galak yang menjulurkan lengannya di muka pintu, telah menjadikan gua itu demikian seram dan angker sehingga menimbulkan rasa takut bagi orang yang menyaksikan atau mendekatinya. Dengan demikian terhindarlah para pemuda yang saleh itu dari gangguan orang yang jahat dan tangan jahil sampai tiba saatnya Allah menentukan takdir-Nya membangunkan mereka dari tidurnya. (Bersambung ke Bagian 03)
Oleh Umar Abdullah
Kisah ini adalah kisah yang diabadikan Allah dalam al-Qur`an surat al-Kahfi ayat 9-26. Para ahli tafsir al-Qur`an menyatakan bahwa para pemuda penghuni gua yang dikenal dengan nama ashhaabul kahfi ini adalah para pemuda bangsawan dari lingkungan kerajaan Romawi.
Ada yang menyatakan bahwa mereka hidup di masa setelah Isa as dan bahwa mereka memeluk Nasrani. Namun karena rahib-rahib Yahudi mengetahui kisah ini, maka dugaan kuat fenomena Ashhabul Kahfi terjadi pada masa sebelum Isa as diutus.
Para pemuda ini melihat kaumnya menyembah berhala dan patung-patung sebagai tuhan-tuhan mereka dan menyediakan binatang-binatang sembelihan bagi tuhan-tuhan itu di hari-hari besar mereka sebagai korban. Mereka merasa tidak patut patung-patung dan arca-arca itu dianggap sebagai tuhan, disujudi, disembah dan disembelihkan binatang-binatang korban atas namanya. Mereka yang sudah terbuka mata hatinya, yang beriman kepada Allah dan ditambah hidayah (petunjuk) oleh Allah, mengingkari perbuatan kaumnya yang batil itu. Namun mereka simpan pengingkaran itu di dalam hati, khawatir kalau dinyatakan secara terus terang, mereka akan diganggu, dimusuhi dan dianiaya.
Para pemuda yang nantinya menjadi Ashhabul Kahfi alias Penghuni Gua ini pada mulanya tidak saling mengenal. Tiap orang di antara mereka secara diam-diam menjauhkan diri dari kaumnya di saat kaumnya melakukan upacara sembahyang atau upacara keagamaan lainnya. Pemuda itu satu persatu pergi bersembunyi di bawah sebatang pohon yang rindang di luar kota. Di sanalah mereka berkumpul tanpa lebih dahulu bersepakat atau berjanji, bahkan satu dengan lainnya belum mengenal.
Rasulullah saw bersabda,
“Ruh yang jumlahnya banyak dikumpulkan bersama, dan mereka yang mengenal satu sama lain (di surga asal mereka) akan memiliki daya tarik menarik satu sama lain (di dunia). Sementara mereka yang saling menolak (di surga) juga akan berbeda (di dunia).”
Ya, di bawah pohon itulah mereka saling membuka isi hatinya dan berkenalan. Kemudian atas dasar kesatuan akidah dan persamaan nasib, bersatulah mereka dalam satu wadah “persaudaraan” dan didirikanlah tempat ibadah bagi mereka sendiri sebagai kelompok yang beriman kepada Allah yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi dan tiada Tuhan selain Allah..
Tidak lama kemudian diketahuilah oleh orang-orang tempat ibadah mereka dan sampailah berita berita mereka itu ke telinga raja yang berkuasa yang bernama Diqyanus (Decius).
Dipanggillah mereka menghadap dan ditanya tentang pendirian dan kepercayaan mereka. Tanpa tedeng aling-aling dan dengan hati yang diteguhkan oleh Allah dengan berdiri tegak mereka berkata kepada sang raja, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalau kami berbuat selain demikian, niscaya kami telah berbuat dan mengucapkan sesuatu yang amat jauh dari kebenaran. Itulah kaum kami telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan untuk disembah. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan dan dasar bagi kepercayan mereka. Mereka itu pendusta dan tidak ada yang lebih zalim daripada orang–orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”
Dalam pertemuan itu sang raja marah, mengncam dan memerintahkan mereka melepaskan pakaian serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpikir agar kembali kepada kepercayaan raja dan kaumnya.
Kesempatan dan waktu untuk berpikir itu tidak disia-siakan dan terjadilah prcakapan di antara mereka yang diilhamkan oleh Allah:
“Jika kamu telah meninggalkan kepercayaan kaummu dan meninggalkan cara-cara ibadah mereka dengan hati dan jiwamu, maka tinggalkanlah dan jauhilah mereka dengan badan dan tubuhmu serta carilah tempat berlindung ke dalam gua itu. Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, melindungimu dari gangguan raja dan kaumnya, serta akan menyediakan sesuatu yang berguna dan berakibat baik bagimu dalam urusan kamu ini.”
Maka keluarlah mereka meninggalkan kaumnya, pergi berlindung diri dalam gua sebuah bukit. Ada yang mengatakan bahwa gua itu bernama Haizam, dan bukitnya bernama Raqim. Ada yang mengatakan bahwa gua tersebut ada di Ayla. Ada yang bilang di Ninive. Ada juga yang berpendapat di Suriah. Ada pula yang mengatakan telah menemukan gua tersebut ada di Yordania. Wallahu a’lam (hanya Allah yang lebih tahu).
Di dalam gua itu tertidurlah mereka atas kehendak Alah selama tiga ratus sembilan tahun, tidak diketahui oleh kaumnya maupun oleh orang lain dan tidak pula mreka mengetahui dan mendengar apa yang terjadi di luar gua mereka.
Apa yang dilakukan oleh pemuda-pemuda ashhabul kahfi ini sesuai dengan tuntunan syariat Muhammad saw bahwasannya seorang yang khawatir agamanya, kepercayaannya serta aqidahnya akan terpengaruh oleh fitnah yang sedang berkecamuk, ia diperbolehkan menjauhkan dirinya dari tempat dan kaum yang sedang dilanda fitnah ke tempat yang aman untuk melakukan upacara-upacara agamanya dengan tenang tanpa gangguan dan rintangan apa pun.
Rasulullah saw bersabda:
Hampir-hampir seseorang di antara kamu pergi meninggalkan kaumnya membawa ternaknya menuju puncak-puncak gunung atau tempat-tempat di mana hujan turun, hanya sekedar melarikan agamanya dari fitnah.”
(bersambung ke Bagian 02)
Anda dapat berlangganan artikel dari MediaIslamNet | portal opini dan solusi islami dengan menggunakan alamat email Anda untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung ke inbox email Anda. Caranya mudah saja, tuliskan alamat email Anda pada kolom di bawah ini, kemudian klik Sign Up!
| Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab | Ming |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jan | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | ||||