Mungkin karena tema yang dinilai menarik, peserta diskusi jadi bertambah. Selain yang sudah rutin hadir, juga ada teman yang baru diskusi kali ini menyempatkan diri ikut. Ada Hendra, Burhan, juga ada beberapa akhwat dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor yang sengaja ikut pada 7 Desember 2011 dalam Diskusi Aktual yang digelar setiap pekan di Rumah Media. Saya sendiri, membawa serta istri dan keempat anak saya untuk ikut dalam acara ini. Bukan agar diskusi terlihat semakin banyak pesertanya, tetapi saya ingin juga agar anak-anak saya yang di kelas 2 dan kelas 5 SD bisa tahu perkembangan peristiwa yang didiskusikan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Semoga bisa nyambung atau minimal mereka akan mendengar topik yang sedang diobrolkan.
Diskusi yang dimulai tepat pada 16.19 WIB ini memang terbilang telat. Seharusnya sudah digelar sejak pukul 16 waktu setempat. Tetapi ya sudahlah, meski molor sedikit dari waktu yang sudah ditentukan, diskusi tetap menarik. Apalagi sambil minum kopi hangat di sore hari yang cerah waktu itu. Adalah Pak Hendra yang sengaja membawakan puluhan bungkus kopi untuk menjadi teman santai diskusi pekanan 7 Desember 2011 yang membahas: “Mesir dan Masa Depan Islam Pasca Tumbangnya Rezim Diktator”. Lanjutkan
Oleh: Lathifah Musa
Dalam tulisan Opini di Kompas tanggal 8 Agustus 2011, Christianto Wibisono secara tidak langsung mengarahkan pembaca untuk bersiap-siap memasuki Era Konsorsium. Dengan latar belakang pemaparan analisis tentang akar kebangkrutan AS, tulisannya yang berjudul Akar Krisis Utang AS ini berujung pada pernyataan bahwa, “kita sedang menuju era konsorsium multipolar.”
Hal yang begitu terasa membingkai pembaca adalah penerimaan kita terhadap dunia yang saat ini dipimpin oleh AS sebagai negara adidaya dan ketergantungan setiap negara di dunia saat ini terhadap pengaruh besar AS. Seolah-olah kehidupan umat manusia di dunia akan ikut terpuruk, bila negara adidaya ini ambruk. Tidak ada cara lain selain menyiapkan diri menyongsong era Konsorsium G20. Menurut Christianto, dunia tidak akan lagi mampu dipimpin oleh satu kekuatan, baik China ataupun “Khalifah Islam” (Maksudnya Kekhilafahan Islam). Statemen terakhir ini, Christianto tidak menyebutkan argumentasi yang menguatkan.
Kegagalan kapitalisme, selalu disambut dengan kapitalisme babak selanjutnya. Christianto memaparkan bagaimana perjalanan Kapitalisme AS (yang menjadi representasi Kapitalisme dunia), menuju kondisi terakhirnya saat ini. Walhasil, hanya itulah cara agar Kapitalisme AS bisa memperpanjang usianya di dunia ini. Lanjutkan
Oleh Lathifah Musa
Ketika statemen ini saya lontarkan dalam sebuah forum remaja, banyak hadirin yang terkejut. Masa’ sih? Yang benar saja? AS kan Negara kaya? Ini fakta atau opini? Mayoritas respon hadirin heran. Banyak yang tak percaya. Maklum remaja tidak terlalu suka memantau persoalan politik dan ekonomi. Tapi soal AS di ujung tanduk, itu hal yang menarik bagi mereka. Siapa sih yang tidak kenal negara besar ini? Mulai dari artis, fashion dan berbagai fun ditiru remaja dari Amerika.
Statemen ini memang opini. Tetapi bukannya tanpa fakta. Ketika opini dilontarkan bersamaan dengan fakta, maka muncullah argumentasi dengan bukti yang kuat.
Kenyataannya perkembangan berita terakhir terkait kondisi negara AS memang sedang kritis. Memang, negara ini masih punya Obama, kepala negara yang mereka pandang mampu menyatukan kekuatan-kekuatan yang tersisa. Tentu berbeda dengan kondisi Persia pada abad kedua Hijriyah ketika menjelang tumbang. Namun sampai kapan Obama bertahan? Lanjutkan
Oleh Aribowo
Kokohnya sebuah bangunan tidak terlepas dari kokohnya pondasi, struktur dan bahan yag digunakan untuk membuat bangunan tersebut. Kita sering menjumpai kondisi dimana kaum muslim begitu lemahnya di negeri kita. Sering Islam direduksi hanya kepada masalah ibadah, pendidikan dan amaliyah pribadi saja. Begitu kita ngomongin Islam dalam konteks masyarakat dan pengaturannya, tidak banyak yang bisa kita temui di negara kita. Paling masalah pengurusan ZIS (zakat, infaq, sadaqoh) itu-pun banyak overlap dengan pemerintah, ekonomi syariah yang belum berpayung kepada hukum syariah dan beberapa urusan lainnya.
Sebelum kita bahas lebih mendalam, Rasulullah saw. bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, al-Baihaqi, Abu Dawud, No. 3745)
Bro en Sis, pelajaran yang bisa kita ambil dari hadist di atas adalah suatu peringatan terhadap kondisi jaman, dimana syariat Islam itu sendiri kuat namun para pemeluknya lemah. Dalam hadist di atas dijelaskan apa yang akan terjadi dan dijelaskan pula penyebab utamanya. Hal ini dimaksudkan supaya umat Islam mengerti dan bisa bersiap diri untuk menghadapinya. Lanjutkan
MediaIslamNet.Com–Ada dua hari yang dikatakan sebagai hari bencana besar bagi kaum muslimin saat ini. Yang pertama adalah 3 Maret 1924, yakni hari Keruntuhan Khilafah Islamiyah, melalui tangan laknat Musthafa Kemal. Yang kedua adalah 14 Mei 1948, yakni berdirinya negara Israel.
Runtuhnya Kekhilafahan Islamiyah, adalah bencana besar kaum muslimin sedunia, karena tak ada lagi institusi negara yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT. Walaupun saat itu Kekhilafahan yang berpusat di Turki Ustmani telah rapuh dan berada dalam situasi genting, bagai telur di ujung tanduk, namun keruntuhannya telah membawa tangis kehancuran hati kaum muslimin sedunia. Eksistensi hukum-hukum Allah SWT dalam institusi politik telah dilenyapkan. Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
SENIN 12 RABI’UL AWWAL TAHUN 1 H RASULULLAH SAW SECARA DE FACTO MENJADI KEPALA NEGARA
Setelah secara de Yure Rasulullah saw menerima kepemimpinan Madinah sebagai Kepala Negara Islam pertama melalui Bai’atul Aqabah kedua, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan Rasulullah adalah menyiapkan masyarakat Islam di Madinah yang akan membangun peradaban Islam.
Kaum muslimin dari suku Aus dan Khazraj di Madinah adalah kelompok masyarakat Islam yang siap menerapkan Islam di Madinah dan menjaga Rasulullah saw. Inilah yang disebut kaum Anshar (kaum penolong).
Kelompok kedua yang disiapkan untuk menerapkan Islam dan menjaga Rasulullah saw adalah kaum muslimin dari Makkah yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk berhijrah ke Madinah. Kelompok inilah yag dinamakan kaum Muhajirin (kaum yang berhijrah). Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Bukanlah sebuah kebetulan jika hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal menjadi hari dan tanggal yang bersejarah bagi umat Islam. Pada hari dan tanggal ini terjadi tiga peristiwa penting: Rasulullah saw lahir ke dunia, Rasulullah saw menjadi kepala negara, dan Rasulullah saw meninggal dunia. Tulisan kali ini sekedar untuk mengingatkan kita semua bahwa tanggal 12 Rabi’ul Awwal tidak sekedar tanggal lahirnya Rasulullah saw, tetapi ada dua peristiwa yang juga sangat penting untuk diperingati, yaitu Rasulullah saw menjadi kepala negara yang menandai awal dibangunnya peradaban Islam, dan meninggalnya Rasulullah saw yang menandai era pemerintahan Islam sepeninggal beliau. Selamat mengikut tiga bagiannya. Lanjutkan
Oleh Lathifah Musa
Ikatan Penguasa-Rakyat yang Terurai
Pergolakan di Timur tengah telah membuka mata kita bahwa ikatan-ikatan yang dibangun oleh penguasa Tiran terhadap rakyatnya kini mulai terputus. Hilang sudah kepercayaan rakyat bahwa para penguasa mampu mengurusi urusan mereka.
Pergolakan yang berawal dari Tunisia ini merupakan akumulasi penderitaan rakyat yang berpuluh-puluh tahun hidup dalam sistem Kapitalisme. Hal ini sebagaimana komentar Mohamed A El-Erian, pemimpin utama Pimco, perusahaan investasi global, putra seorang diplomat Mesir dan masih memegang paspor Mesir, yang mengatakan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin relatif tinggi. Ini menjadi keprihatinan lama warga Mesir. “Ada pertumbuhan ekonomi, tetapi hasilnya tidak menetes ke bawah,” katanya di New York, Amerika Serikat (AS), Minggu (6/2/2011). (Kompas, 7 Februari 2011) Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Mesir adalah bumi Allah di benua Afrika bagian utara tempat silih bergantinya peradaban. Terkadang peradaban yang nista, seperti di zaman Fir’aun yang haus kekuasaan. Untuk mempertahankan kekuasaannya, Raja-raja penyembah dewa-dewa ini menerapkan incest (menikahi saudaranya). Atau di zaman Alexander the Great from Macedonia pendiri kota Alexandria. Raja penyembah dewa-dewa ini punya kelainan seksual, yaitu biseksual (suka perempuan, suka juga ke laki-laki..hii!). Atau di zaman Ratu Cleopatra yang terkenal cantik dan molek tapi tak lebih dari ratu pelacur yang berselingkuh dengan Kaisar Romawi yang ternama, Julius Caesar.
Namun terkadang Mesir menjadi bumi Allah tempat lahir dan berkembang peradaban yang mulia. Di bumi Mesir, Hajar istri Ibrahim as, ibunda Ismail as, dilahirkan. Seorang wanita yang memiliki keimanan kepada Allah, yang luar biasa. Di Mesir, Yusuf bin Ya’qub as pernah menjadi menteri ekonomi yang melalui tafsir mimpinya Mesir selamat selama enam tahun subur dan enam tahun kering. Di bukit Thuwa, Musa as menerima wahyu dari Allah, lalu menyebarkannya di bumi Mesir. ‘Isa dan ibundanya Maryam binti Imran pun pernah tinggal di Mesir semasa ‘Isa kecil hingga usia 12 tahun. Dan budak wanita milik Rasulullah saw yang bernama Maria juga berasal dari suku Qibti/ Koptik Mesir. Lanjutkan
Tanggapan Terhadap Pidato Presiden RI Tentang Keberhasilan Demokrasi
Oleh Lathifah Musa
Dengan berbesar hati, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan dalam pidato kenegaraan HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI, bahwa Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar di dunia setelah India dan AS. Indikasinya adalah kestabilan dan kemapanan demokrasi di Indonesia, pada saat banyak demokrasi di dunia runtuh. Menurutnya salah satu hasil nyata dari proses demokratisasi di Indonesia adalah penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara langsung di seluruh Indonesia. Saat ini, seluruh gubenur, bupati dan walikota telah dipilih langsung oleh rakyat. Hal ini juga menunjukkan peta politik Indonesia telah berubah secara fundamental.
Namun kebanggaan Presiden ini justru berbenturan dengan kenyataan-kenyataan ironis di tengah masyarakat. Adakah relevansi antara keberhasilan demokrasi dengan kesejahteraan rakyat? Kenyataannya keberhasilan demokrasi di Indonesia justru semakin mengungkapkan banyaknya problem-problem kemasyarakatan. Apakah sekaligus hal ini menjadi bukti bahwa negara demokrasi adalah negara yang gagal menyelesaikan persoalan-persoalan rakyatnya? Tulisan berikut akan memaparkan bahwa kegagalan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia mendapat sumbangan terbesar dari keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Lanjutkan
Anda dapat berlangganan artikel dari MediaIslamNet | portal opini dan solusi islami dengan menggunakan alamat email Anda untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung ke inbox email Anda. Caranya mudah saja, tuliskan alamat email Anda pada kolom di bawah ini, kemudian klik Sign Up!
| Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab | Ming |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jan | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | ||||