Apapun dalih yang menjadi latar belakang pembuatan film “Khalifah” yang dimaksudkan sebagai film layar lebar pertama di awal 2011, ada beberapa hal yang harus diwaspadai karena akan memunculkan bias persepsi masyarakat.
Film yang dirilis tanggal 1 Januari 2011 ini berjudul Khalifah. Diambil dari nama tokoh perempuan dalam film. Suaminya digambarkan sebagai seorang muslim radikal. Yang mewajibkan istrinya untuk mengenakan jilbab dan cadar. Tokoh perempuan dalam film ini digambarkan selain menerima kekerasan dari suaminya, juga mendapat tekanan dari masyarakat serta polisi karena dengan cadarnya ia dipandang sebagai bagian dari jaringan teroris.
Film besutan Nurman Hakim, yang katanya jebolan pesantren ini, nyatanya tidak sekedar membawa pesan tentang cinta dan pengabdian seorang perempuan kepada suaminya. Lanjutkan
Oleh: M. Iwan Januar, S.IKom
Dalam sebuah artikel seorang sosiolog dan sejarawan mengeluhkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan bangsa ini akan sejarahnya sendiri. “Masak begitu melihat KH Agus Salim, anak sekolah komentar ‘kok kumisnya mirip tukang sate, ya’.” Sama sekali tidak ada respek dan penghargaan terhadap perjuangan ulama yang satu ini.
Sejarawan tadi tidak sendirian, Adhyaksa Dault yang pernah menjabat menteri pemuda dan olahraga pernah berkomentar dengan nada miris ihwal tipisnya pengetahuan anak bangsa tentang sejarah, “Kalau ditanya siapa Fatmawati, yang kebayang paling ayam goreng Fatmawati,” katanya sambil menyebut nama sebuah rumah makan sohor di Jakarta.
Tapi yang paling memprihatinkan adalah umat seperti tidak pernah tahu bahwa mereka adalah bagian dari sejarah pergolakan dan kejayaan sebuah umat yang besar, umat Islam dunia. Bahwa tanah air ini masih belum kering dari cucuran keringat dan simbahan darah para alim ulama dan mujahidin dalam membebaskan tanah air dari penjajahan. Lanjutkan
Assalaamu’alaikum wr wb
Pembaca yang terhormat (khususnya pengelola radio yang tergabung dalam jariangn VOIRadioNetwork) yang menyiarkan program acara TOP ISSUE yang disiarkan secara rutin pada setiap Rabu malam pukul 20.00 WIB, berikut ini file-file rekaman acara TOP ISSUE edisi 10 Februari 2010. Silakan didownload pada link-link berikut ini:
Oleh Umar Abdullah
Sebenarnya saya tidak ingin membahas tentang Rebo Wekasan ini. Karena kami ingin masyarakat melupakan tradisi ini. Namun, karena ada salah satu tabloid di Bogor yang menyebarluaskannya, maka menjadi kewajiban kami untuk menjelaskan kekeliruannya.
Tradisi
Rebo Wekasan adalah sebuah tradisi di masyarakat Muslim terutama di Jawa, Sunda, Kalimantan Selatan, dan Bangka Belitung. Nama Rebo Wekasan sendiri diambil dari nama hari Rabu terakhir di bulan Safar. Untuk tahun ini nampaknya jatuh mulai Maghrib 9 Februari 2010 (kalender Gregorian) hingga Maghrib hari Rabu tanggal 10 Februari 2010 (kalender Gregorian).
Orang-orang yang ikut tradisi Rebu Wekasan mempercayai bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari sial. Sehingga mereka harus melakukan ritual-ritual tertentu untuk menolak bala’ yang jatuh pada hari itu.
Dasar Tradisi
Saya berusaha menelusuri dasar orang melakukan tradisi tersebut dari teman-teman yang lingkungannya masih melakukan tradisi Rebo Wekasan, juga dari orang-orang yang melakukannya. Hasilnya, tidak ada satu pun yang berasal dari wahyu Allah yaitu al-Qur`an dan As-Sunnah. Kebanyakan hanya mengikuti apa yang sudah ditradisikan tanpa tahu dasar diadakannya tradisi tersebut.
Dari berbagai situs di internet saya mendapatkan dasar tradisi ini. Itupun bukan dari al-Qur`an dan As-Sunnah, tapi dari Abdul Hamiid Quds yang mendasarkan pada penandaan banyak Awliya Allah. Walaupun diklaim sebagai ulama, tetap saja dia bukan nabi yang membawa risalah Allah. Begitupun Awliya Allah yang dipakai dasar penandaan mereka. Siapa Awliya Allah itu? Tidak diketahui dengan jelas. Bahkan penyebutan Awliya Allah (wali-wali Allah) menunjukkan bahwa mereka bukanlah pada Nabi dan Rasul Allah pembawa risalah Allah.
Berikut ini saya kutipkan tulisan di situs-situs tersebut:
Seorang `ulama besar, Imam Abdul Hamiid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” mengatakan, “Banyak Awliya Allah yang mempunyai Pengetahuan Spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.”
Hari ini dianggap sebagai hari yang sangat berat dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun. Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat Alquran, “Yawma Nahsin Mustamir” yakni “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari ini.
Untuk melindungi dari kutukan yang jatuh ke bumi pada hari tersebut—Rabu terakhir di bulan Safar—dianjurkan untuk melakukan salat 4 rakaat (Nawafil, sunnah). Setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kawtsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali. Setelah salat dianjurkan untuk memanjatkan doa memohon perlindungan dari segala kutukan dan bencana yang jatuh ke bumi pada hari tersebut. Doanya adalah sebagai berikut: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Allaahumma Ya Syadidal Quwa, Wa Ya Syadidal Mihal, Ya Aziiz, Ya Man Zallat li Izzatika Jamii’a Khaliqika, Ikfini min syarri Jamii’i Khaliqika, Ya Muhisinu, Ya Mujmilu, Ya Mutafadh-dhilu, Ya Mun’imu, Ya Mukrimu, Ya man La Ilaha Illa anta Arhamni bi Rahmatika ya Arhama Ar-Rahimiin, Allahuma bi Sirril Hasani wa akhiihi, wa Jaddihi wa abiihi, wa Ummihi wa Baniihi, Ikfini syarra haazal yawmi wa ma yanzilu fiih, Ya Kaafi al-muhimmaat, Ya Daafi al-baliyyat, fasa yakfiika humullaahu wa Huwa Samii’ul Aliim, wa Hasbuna Allah wa Ni’mal Wakiil wa la Hawla wala Quwwata illa billa hil Ali’yyil Azhiim. Wa Shallallahu ala Sayyidina Muhammadin Wa ‘ala Aalihi Wa Shahbihi wa Sallam. Amiin.
Adab Harian di Bulan Safar. Selain awrad harian, lakukan pula awrad berikut ini setiap hari: Syahadat 3 kali, Istighfar 300 kali, Banyak bersedekah. Awrad tambahan di atas berfungsi sebagai perlindungan terhadap 70.000 bala (kutukan) yang dijatuhkan kepada umat manusia di bulan ini. Mawlana Syekh Nazim QS juga berpesan untuk berhati-hati terhadap kesulitan yang terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Safar Bukan Bulan Sial
Jika kita membaca tulisan-tulisan yang beredar di internet yang dikeluarkan oleh orang-orng yang mengikuti tradisi Rebo Wekasan, kita akan menyimpulkan bahwa Safar adalah bulan sial, dan puncaknya adalah Rabu terakhir bulan Safar (Rebo Wekasan). Mitos Safar bulan sial ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah Muhammad saw yang menyatakan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”
Rasulullah Saw juga bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari)
Melihat pertentangan yang begitu tajam, yang satu menyatakan Safar bulan sial, sementara Rasulullah saw menyatakan tidak ada bencana pada bulan Safar, maka dapat dipastikan bahwa Kepercayaan Safar bulan sial dan puncaknya pada Rebu Wekasan adalah bukan dari Islam. Entah dari mana?
Demikian pula ritual-ritual seperti shalat, doa, bersedekah yang dilakukan berdasar kepercayaan Safar bulan sial dan puncaknya pada Rebo Wekasan tentu menjadi ritual-ritual yang tidak ada artinya, bahkan terlarang. Karena Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan amalan tersebut, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Tinggalkan Tradisi yang Tidak Islami
Mengubah tradisi atau adat kebiasaan yang tidak Islami memang tidaklah mudah, termasuk mitos Safar Bulan Sial berikut ritual-ritual pada Rebu Wekasan. Perlu usaha keras untuk menyadarkan masyarakat. Lebih rumit lagi jika yang melakoni tradisi yang tidak Islami itu para tokoh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh agamanya. Perlu ajakan berulang-ulang kepada masyarakat, mulai dari tokoh-tokohnya hingga kaum awamnya, untuk membuka kembali al-Qur`an dan As-Sunnah, juga ilmu-ilmu tentang Aqidah dan Fiqih yang telah susah payah disusun oleh para ulama rahimakumullah. Semoga semakin banyak putra-putri kaum muslimin yang tercerahkan dengan Islam. Allaahumma aamiin.
Anda dapat berlangganan artikel dari MediaIslamNet | portal opini dan solusi islami dengan menggunakan alamat email Anda untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung ke inbox email Anda. Caranya mudah saja, tuliskan alamat email Anda pada kolom di bawah ini, kemudian klik Sign Up!
| Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab | Ming |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jan | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | ||||