Oleh Lathifah Musa
Setelah gagal merealisasikan Rumah Aspirasi yang senilai 200 juta per anggota dewan, kini Lembaga Tinggi Demokrasi ini kembali berulah. Pihak anggaran mengumumkan pembangunan Gedung Baru DPR seharga 1,6 Trilyun yang dilengkapi kolam renang dan fasilitas Spa. Masing-masing anggota dewan akan mendapat ruangan seluas 120 meter persegi yang total seharga 1 Trilyun.
Menanggapi simpang siur soal biaya rencana pembangunan gedung mewah, Ketua Badan Anggaran DPR Harry Azhar Azis malah membenarkan bahwa DPR telah menyetujui dana sejumlah Rp 1,8 triliun untuk pembangunan gedung baru DPR. Lanjutkan
Oleh: Lathifah Musa
Ramadhan tahun ini diawali dengan kesedihan umat Islam. Persoalan masyarakat kecil kian membelit. Belum selesai soal maraknya ledakan bom elpiji, masyarakat diresahkan oleh naiknya TDL yang memicu kenaikan harga-harga barang-barang kebutuhan pokok. Belum selesai dicekam resah karena maraknya penculikan anak dan bayi-bayi, masyarakat dikejutkan oleh penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88. Isu yang banyak beredar adalah Indonesia makin tunduk pada Amerika. Karena banyak kebijakan publik yang dilatari oleh kesepakatan-kesepakatan Indonesia dengan AS, baik melalui Bank Dunia, IMF, UNDP, ADB atau langsung dengan pemerintahnya. Termasuk yang terakhir ini penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, seorang Ustadz sepuh yang sangat gigih memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah..
Sejak awal banyak kalangan umat Islam yang memandang bahwa kasus ini adalah bagian dari pesanan Asing. Sejak masa presiden-presiden sebelumnya, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir memang selalu menjadi incaran AS untuk ditangkap. Bahkan AS menginginkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dikirim langsung ke Guantanamo. Namun sampai saat itu, belum ada delik aduan yang tepat sehingga Ust. Abu Bakar Ba’asyir bisa dituduh teroris. Presiden-presiden sebelumnya pun masih ketar-ketir dengan amarah rakyat bila Ustadz Abu diperlakukan dengan kasar. Lanjutkan
Oleh Umar Abdullah
Senin 9 Agustus 2010 siang ada berita Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) ditangkap oleh Polri. Menurut Edward Aritonang, Jubir Polri, Ustadz ABB ditangkap karena diduga (dengan catatan tebal baru diduga) terkait dengan pelatihan militer di Aceh dan banyaknya anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang ikut pelatihan tersebut. Dan Ustadz ABB pun langsung ditangkap di Banjar, Jawa Barat. Sebelumnya sudah ditangkap 106 orang yang terlibat pelatihan militer di Aceh yang (kata Polri) mau melakukan serangan ke Mabes Polri, beberapa Kedubes Negara Asing, dan (kata Polri) mereka menjadikan SBY sebagai target serangan.
Senin 9 Agustus 2010 pagi, salah satu TV Swasta menyiarkan berita Tabung Gas 12 kg milik Julia Peres (Jupe) meledak. Pembantunya terluka bakar. Ledakan ini adalah ledakan yang keseratus sekian kalinya. Sesuai data yang saya dapatkan sudah lebih dari 190 ledakan sejak 2008 hingga kini. Tapi belum ada satu pun yang ditahan. Padahal ledakan hampir setiap hari terjadi. Ancaman bom elpiji pun hingga kini masih menghantui masyarakat. Sebagian masyarakat bahkan menyebut tabung gas 3 kg sebagai bom dapur dari pemerintah. Pihak yang bersalah –dan bertanggung jawab atas tewasnya puluhan rakyat dan ratusan korban luka-luka– pun sudah jelas di depan mata. Mereka (dengan catatan tebal bukan dugaan) adalah Pertamina, Kementrian ESDM, hingga SBY dan JK yang menjadi pendukung utama konversi penggunaan energi ini. Proyek ini memang mampu menghemat energi secara signifikan. Tapi pelaksanaannya amburadul dan sudah memakan korban jiwa, korban luka, korban trauma, dan puluhan rumah hancur. Sekali lagi, belum ada satupun yang ditahan.
Senin 9 Agustus 2010 sore, saya berdoa kepada Allah. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Engkaulah yang Maha Adil, adililah mereka yang berlaku tidak adil, sekehendakMu ya Allah. Timpakanlah bencana kepada orang-orang yang membawa bencana untuk rakyatnya. Ya Allah Engkaulah yang Maha Rahman yang Maha Rahim, datangkanlah kepada kami pemimpin pengganti yang adil. Yang mencintai rakyatnya dan rakyatpun mencintainya, yang akan menegakkan hukum-hukumMu ya Allah. Yaa Mujiibas saa`iliin. Amin.
Oleh: Umar Abdullah
Jerman kalah 1-0 lawan Spanyol! Wow, ini membenarkan ramalan Gurita Paul. Mungkin itu pikiran kita begitu mendengar berita kekalahan Tim Panser Jerman di Piala Dunia. Gurita ini memang hebat. Selama Piala Dunia Afsel ini pilihannya selalu tepat. Setidaknya minimal 5 kali tebakan gurita ini benar. Tapi apakah berarti ia bisa meramal? Dan ramalannya tepat? Tentu saja TIDAK. Semua hanya kebetulan saja. Buktinya di kompetisi lainnya, tebakannya pernah keliru, minimal dua kali keliru.
Ada juga yang bilang ”mungkin gurita itu dituntun oleh jin sehingga ramalannya tepat”. Jawabannya juga TIDAK. Karena jin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi gurita itu memilih dan kebetulan pilihannya tepat.
Saya dulu pecandu sepak bola, fans berat Persebaya. Tahu betul bagaimana sepak bola menjadi arena judi massal, taruhan siapa yang menang, berapa skornya. Apalagi jika musim Piala Dunia datang. Hampir setiap malam tidak tidur, menikmati sensasi ketegangan nonton bola. Dan bagi penjudi, menunggu taruhannya menang atau hilang. Biasanya penjudi mendasarkan pilihannya berdasarkan analisa pengamat sepak bola di tv, analisa dirinya sendiri, mimpi berikut primbonnya, dukun, anak kecil, dan orang gila. Mengingat itu saya sering ketawa sendiri, tolol banget ya para penjudi itu. Dan sekarang sangat mungkin, Gurita Paul jadi selebriti baru sekaligus narasumber penting seantero dunia untuk meramal siapa yang menang: Spanyol atau Belanda. Manusia menjadi lebih bodoh dibanding gurita. Mundur 14 abad ke belakang saat ramalan mendominasi dan mengarahkan hidup manusia. Lanjutkan
Oleh: Lathifah Musa
Tanggal 29 Juni ternyata adalah hari Keluarga Nasional (Harganas). Konon karena pada tanggal inilah dimulai Gerakan Keluarga Berencana (KB) Tahun 1970. Presiden Soeharto yang mencanangkan menjadi Hari Keluarga pada tahun 1993.
Nah setiap berbincang tentang keluarga pada momen seperti ini, yang mencuat adalah berhasil tidaknya program KB (Keluarga Berencana). Bahkan hasil sensus 2010 pun ditunggu-tunggu dengan harap-harap cemas oleh para pelaksana program KB. Sukses atau gagalkah KB di Indonesia pasca reformasi?
Dalam sebuah seminar yang digelar oleh Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan di Kantor Depsos Jakarta, pertambahan penduduk dipandang sangat mengkhawatirkan. Bahkan tema seminar berjudul: Ledakan Penduduk: Bom Bunuh Diri?(Kompas, 6 Agustus 2009). Maksudnya adalah ledakan penduduk dipandang lebih berbahaya daripada ledakan bom teroris, karena menyentuh berbagai aspek seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan sosial.
Apa benar, pertambahan penduduk itu menjadi ancaman? Setelah diusut-usut, ternyata kekhawatiran terhadap ledakan penduduk sebenarnya cuma isu yang digulirkan oleh negara-negara Barat ke negara-negara berkembang (baca: negeri-negeri muslim). Tingginya laju pertumbuhan populasi di negara-negara berkembang yang terus meningkat menjadi ancaman serius bagi dunia Barat. Itulah sebabnya lembaga internasional dan pemerintah negara maju mengembangkan serta menerapkan strategi untuk mengontrol angka pertumbuhan di dunia ketiga.
Kontrol populasi menjadi strategi licik dunia Barat untuk menghadapi pertumbuhan pesat penduduk muslim. Khusus untuk Indonesia, AS mengkhawatirkan beberapa tahun kedepan jumlah penduduk Indonesia akan melampaui jumlah penduduk AS. Padahal saat ini negara-negara maju mengalami penurunan jumlah penduduk yang pesat, karena rendahnya angka kelahiran. Kalau jumlah penduduk muslim bertambah banyak, maka hal ini akan membawa akibat:hak suaranya akan lebih tinggi dalam percaturan politik internasional.
Saat ini saja Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Menempati peringkat keempat dalam ukuran jumlah penduduk, di bawah China, AS, India. Negara-negara muslim lain mengatakan suara muslim Indonesia adalah representasi suara muslim dunia. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan AS. Akhirnya negara-negara Barat, dipimpin oleh AS bersungguh-sungguh mengembangkan dan menerapkan strategi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di dunia Islam.
Dalam sebuah dokumen National Security Study Memorandum 200 1974 (NSSM,200) atas permintaan Menlu AS (saat itu) Henry Kissinger, mereka menggambarkan kebencian dan rencana AS untuk menghabisi penduduk muslim. Hingga saat ini dokumen NSSM 200 itu tidak dicabut. Indonesia adalah salah satu dari 13 negara target utama pengurangan jumlah penduduk. Mereka memandang jumlah penduduk muslim sebagai ancaman bagi kepentingan dan keamanan AS.
Dokumen ini menyimpulkan bahwa ada empat tipe alasan yang menjadikan pertumbuhan penduduk di negara-negara miskin bisa menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS, yaitu:
Terkait dengan beberapa dokumen lain yang telah diekspose pemerintah AS pada bulan Mei 1991, salah satunya adalah instruksi Presiden AS nomor 314 tertanggal 26 November 1985 yang ditujukan kepada berbagai lembaga khusus, agar segera menekan negeri-negeri tertentu agar mengurangi pertumbuhan penduduknya. Diantaranya negeri-negeri itu adalah India, Mesir, Pakistan, Turki, Nigeria, Indonesia, Irak dan Palestina.
Dokumen itu juga menjelaskan pula sarana-sarana yang bisa digunakan secara bergantian, baik berupa upaya untuk menyakinkan maupun untuk memaksa negeri-negeri tersebut agar melaksanakan program pembatasan kelahiran. Diantara sarana-sarana untuk menyakinkan program tersebut adalah memberi dorongan kepada para penjabat/tokoh masyarakat untuk memimpin program pembatasan kelahiran di negeri-negeri mereka, dengan cara mencuci otak para penduduknya agar memusnahkan seluruh faktor penghalang program pembatasan kelahiran, yakni faktor individu, sosial, keluarga dan agama yang kesemuanya menganjurkan dan mendukung kelahiran.
Walhasil, saat ini tidak sekedar pemaksaan terhadap negara-negara berkembang untuk menandatangani kesepakatan tentang pembatasan kelahiran, tetapi juga gencarnya opini yang bersifat mencuci otak para penduduk muslim. Tentunya dengan legalisasi seks bebas, kontrasespsi remaja, pernikahan sesama jenis, larangan menikah dini, mempidanakan poligami, memandang anak sebagai beban, opini banyak anak belum tentu banyak rizki, dua anak lebih baik dan lain-lain yang akan melancarkan program pembatasan kelahiran! Tak peduli apakah agama membolehkan atau tidak. Juga tak peduli bahwa masalah rizki hanya Allah SWT yang memiliki Kuasa dan Kehendak, tak peduli hukum pernikahan agama membolehkan poligami, tak peduli bahwa pezina adalah perbuatan keji dan homoseksual adalah aktivitas terlaknat. Jadi, boleh saja memperingati hari keluarga dan merencanakan kelahiran, asalkan jangan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal
Oleh: Lathifah Musa
Berita tentang beredarnya video mesum mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari masih kerap menghias layar kaca. Walaupun proses hukum masih berlangsung, namun publik telah melihat adanya dugaan kuat (ghalabatuzh zhon) bahwa mereka adalah pelakunya. Barangkali ini juga dikaitkan pada realita tentang perilaku keseharian mereka yang bebas, berpakaian minim, pergaulan yang tanpa batas ditambah bukti keaslian tayangan yang telah disahkan oleh para ahli digital forensik. Sehingga tidak aneh kalau masyarakat tidak segan untuk menghakimi bahwa merekalah para pezina.
Tapi barangkali disamping gelombang aksi kecaman dari berbagai ormas dan gerakan Islam, masih saja ada kalangan yang juga bergerombol untuk membela para selebriti tersangka ini. Mereka berteriak-teriak histeris di depan mabes polri dan melambai-lambaikan tangan tanda dukungan tanpa batas. Sebagian selebriti pun menjenguk dan menyatakan dukungan moril. Layar kaca dihiasi senyum-senyum “innocent” para tersangka. Hal ini menguatkan image para pezina dan pelaku pornografi masih mendapat ruang lebar di negeri ini.
Di sinilah, para pendengar dan pemirsa muslim, jangan tertipu. Karena di balik senyum memikat para pezina, iblis sedang tertawa lebar. Tawanya akan semakin lebar terbahak-bahak dengan bertambahnya gelombang pendukung kaum pezina. Pasukan setan berjingkrak-jingkrak riang, saat para suami memberi peluang istri-istri durhaka untuk bisa berzina. Karena pasangan pezina dan pendukung pezina memiliki kata kunci untuk peluang juga berzina.
Kalau para pemimpin dan penentu kebijakan negeri masih saja ragu untuk menghentikan pornografi, menutup rapat pintu-pintu perzinahan, maka jadilah negeri ini Republik Zina. Karena tak ada undang-undang dan aturan yang bisa mengukum tegas para pezina. Para pezina masih bisa menjadi public figure yang dengan mudahnya tampil di layar kaca, diwawancara dengan hormat, diberi tepuk tangan atas kesabaran dan ketangguhannya kemudian menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.
Ketika Allah SWT melaknat pezina
Mengapa masih ada yang menjadikannya idola
Kalau Islam menetapkan cambuk dan rajam sebagai hukumannya
Mengapa masih saja ada yang membela
Hentikan zina
Agar selamat dari neraka yang hina
Jangan bela pezina
Bila berharap Indonesia bebas dari bencana
Kasihan anak-anak Indonesia sekarang. Memang bukan masa yang teramat indah bila dibandingkan dengan setelah mengetahui bagaimana kekhilafahan menjamin pendidikan rakyatnya, tetapi setidaknya masa SMP saya tidak semenyedihkan anak-anak sekarang. Setiap murid masih bisa duduk di bangku yang seragam, mengecap fasilitas laboratorium bersama, berjalan-jalan untuk studi sekolah di tempat yang sama. Ternyata ini tidak bisa dirasakan semua murid sekarang.
Meski banyak dibantah para penyelenggara pendidikan dan negara, tetapi fakta kastanisasi pendidikan semakin terasa. Harian Kompas (Kamis, 3 Juni 2010) memberitakan kondisi sekolah internasional dengan sekolah regular yang amat mencolok.
Di SMP 19 Jakarta, misalnya, kursi yang digunakan siswa kelas reguler hanyalah kursi kayu yang keras. Sementara siswa internasional duduk nyaman di kursi plastik dengan rangka stainless steel dan meja terpisah. Saya pernah mendengar pembedaan (bukan perbedaan, untuk menekankan kesengajaan membedakan) juga pada ruangan berpenyejuk udara dengan yang cukup berjendela di tengah udara Jakarta yang panas. Tidak hanya itu, siswa kelas internasional juga memiliki ruang khusus yang digunakan sebagai klinik, berikut dokter umum dan dokter spesialis gigi, yang siap sedia memeriksa setiap senin hingga kamis. Soal kunjungan kegiatan juga belum tentu dinikmati siswa sekolah reguler, karena mereka harus membayar kalau mau ikut kegiatan. Belum lagi guru-guru siswa kelas internasional adalah tenaga ahli atau guru outsourcing, yang konon ahli mengajar dengan dua bahasa, tentunya Inggris dan Indonesia.
Soal biaya, nah di sanalah masalahnya. Biaya masuk di sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) atau SBI (Sekolah berstandar Internasional) ini memang tarifnya juga internasional. Biaya masuknya Rp 8 juta- Rp 10 juta, sementara biaya bulanan Rp 450.000 hingga Rp 850.000.
Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang sangat sulit seperti sekarang ini, tentu sekolah-sekolah ini hanyalah memunculkan kalangan elit saja. Wajar kalau banyak pengamat pendidikan menyebut, perilaku pemerintah Indonesia sekarang seperti pemerintah Kolonial Belanda. Masyarakat terpilah menjadi ningrat dan kebanyakan, kaya dan miskin. Yang kaya diperlakukan baik, yang miskin diabaikan. Lama-kelamaan yang miskin akan tersingkir juga.
Kini sejumlah sekolah mulai menghapuskan kelas reguler. Kenyataannya RSBI dan SBI memang menguntungkan para penyelenggara pendidikan yang mencintai uang.
Bicara soal berita Kompas, saya mengenang keindahan belajar di sebuah SMP yang disebut dalam berita tadi. Letaknya di jalan Bumi, bilangan Kebayoran Baru, Jakarta.
Semua sudut bisa dirasakan. Tidak ada perasaan terbedakan. Kami mengagumi mereka-mereka yang berprestasi. Teman-teman kami, banyak yang tinggal di pelosok-pelosok kumuh Jakarta. Para juara kelas putra seorang tambal ban dan putra pejabat eselon satu duduk bersama.
Tak ada beda kawasan perumahan pondok indah, permata hijau, dan wilayah kumuh belakang gedung-gedung bertingkat. Semua murid bisa saling menyapa, duduk bersama dan menikmati keindahan bersekolah. Para guru menikmati mengajar dan selalu memacu para siswa untuk berprestasi.
Kini semua sudah tidak dirasakan lagi. Pemerintah telah membangun kastanisasi di antara kami. Saya tidak bisa membayangkan sosok yang menyebabkan kesalahan-kesalahan ini terjadi. Apakah dia sedang merenungi kesalahan kebijakannya? Atau tertawa puas melihat pendidikan Indonesia di ambang kehancuran! (Lathifah Musa)
Oleh Lathifah Musa
Blokade Israel terhadap jalur Gaza mendorong para aktivis kemanusiaan dari 40 negara melakukan perjalanan ke Gaza. Mereka terdiri dari kurang lebih 600 aktivis dari berbagai negara. Namun di lepas pantai perairan jalur Gaza yang merupakan perairan internasional, rombongan kapal ini diserang oleh Pasukan Komando Angkatan Laut Israel. Puluhan perahu perang didukung helikopter tempur, Senin sekitar pukul 05.00 waktu setempat menyerang konvoi kapal bantuan kemanusiaan tersebut. Bentrokan terjadi antara pasukan Israel dengan para aktivis mancanegara. Pasukan Israel menggunakan gas air mata dan peluru. Serangan militer ini dikomandoi langsung oleh Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak. Dikhabarkan 16 orang tewas dan puluhan terluka. Relawan Indonesia yang turut dalam perjalanan, dikhabarkan selamat, namun dua orang terluka.
Serangan ini menuai kecaman dari berbagai pihak. Negara-negara Arab mengutuk Israel. Negara-negara Eropa mengecam. Bahkan Australia yang sebenarnya sekutu kekufuran pun turut mengecam. Turki menyatakan paling keras mengutuk dan akan memutuskan hubungan dengan Israel.
Tapi nyatanya Israel memang biadab yang berhati batu. Dalam sejarahnya Israel banyak menorehkan catatan kekejian terhadap kemanusiaan dan pengkhianatan terhadap perjanjian. Dengan demikian kutukan dan kecaman tidak akan mengubah keadaan.
Saat ini rakyat Palestina telah berteriak meminta pertolongan kepada dunia Islam. Kekejaman Israel telah diluar batas. Namun kenyataannya Mesir masih menutup perbatasan. Yordan tidak kuasa berbuat apapun. Arab Saudi bahkan hanya berdiam diri. Bagaimana mungkin kapal bantuan kemanusiaan bisa menembus benteng Yahudi tanpa dikawal oleh armada tempur. Saat ini Israel telah nyata-nyata menumpahkan darah umat Islam. Apalagi yang harus dilakukan selain negara-negara muslim mengirimkan armada tempurnya untuk menghabisi Israel. Empat puluh negeri muslim, termasuk Indonesia seharusnya dengan mudah akan melawan Israel. Toh selama ini terbukti bangsa ini takut dengan ancaman kematian.
Namun apa persoalan negeri-negeri muslim? Mereka dengan mudahnya dipecundangi Israel karena memang tidak ada lagi kepemimpinan. Tidak ada lagi pemimpin umat seperti Khalifah Sultan Abdul Hamid II yang bisa menempeleng delegasi Israel ketika yahudi-yahudi ini berusaha bernegosiasi untuk masuk ke Palestina. Maka selayaknya peristiwa ini membuka kesadaran kaum muslimin bahwa dunia Islam memerlukan pemersatu. Berapa banyak lagi nyawa muslim harus dikorbankan, dan negeri-negeri muslim hanya bisa berdebat tanpa tindakan. Kaum muslimin memerlukan pemimpin. Kita memerlukan Khilafah yang akan menyatukan kekuatan untuk menghancurkan Israel sehancur-hancurnya
Oleh Umar Abdullah
Bagi sebagian orang, menjadi pegawai bank adalah kebanggaan. Apalagi jadi direkturnya. Akhir era 80-an banyak sarjana yang jadi pegawai bank. Tapi sejak banyak bank yang bangkrut akibat salah urus, ditambah tak sedikit bank yang menipu nasabahnya, kebanggaan itu semakin surut.
Belum lagi setelah kita sadar bahwa praktek riba yang dikenal dengan istilah ”bunga bank” adalah haram, maka pupus sudah kebanggaan menjadi pegawai bank. Walau bagi sebagian orang, perbankan membantu urusan mereka dalam permodalan usaha, namun karena prakteknya tidak diridhai Allah, maka urusan pinjam meminjam dengan perbankan jauh dari berkah dan dekat dengan siksa. Menolak hadiah dari kerabat yang kerja sebagai direktur bank pun menjadi lebih tentram daripada menerimanya.
Tanggal 5 Mei 2010 kita mendengar berita bahwa Sri Mulyani, Menkeu yang diduga menjadi pelindung kejahatan Bank Century ini, diangkat jadi Managing Director Bank Dunia. Sebenarnya berita itu tidak mengagetkan. Karena sebelum jadi Menkeu, Sri Mulyani pernah jadi Directur IMF untuk kawasan Pasifik. Orang pun mengenalnya sebagai salah satu pengusung neoliberalisme di Indonesia.
Yang mengagetkan adalah ketika sebagian media massa yang selama ini seolah-olah anti neolib, tiba-tiba bangga dengan diangkatnya Sri Mulyani menjadi pejabat di bank yang menjadi alat neolib internasional. Lupakah mereka bagaimana peran World Bank (Bank Dunia) dalam privatisasi sumber daya air di Indonesia? Bank yang kelahirannya direkayasa oleh AS ini tidak sekedar sebagai bank yang mempraktekkan riba, tetapi juga sebagai alat para kapitalis (khususnya kapitalis AS) untuk meliberalkan sebuah negara melalui privatisasi, memerasnya, dan membuatnya selalu tergantung dengan pinjaman darinya. Jahat benar bank ini!
Lebih mengagetkan lagi, ternyata SBY juga bangga dengan ditunjuknya Sri Mulyani jadi direktur bank jahat ini. SBY berharap Sri Mulyani bisa membantu bank jahat ini menolong negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Itu berarti SBY ingin campur tangan Bank Dunia semakin dalam di Indonesia? Wow, teringat saya perang opini menjelang Pilpres 8 Juli 2009. Saat itu banyak yang menuding SBY sebagai neolib. Serta merta SBY dan tim kampanyenya mencak-mencak tak mau dibilang neolib. Mungkin takut tak terpilih jadi presiden. Tapi sekarang, betapa mudahnya SBY membuka topeng sendiri. Ya Allah, tanda-tanda apa ini?
Oleh Umar Abdullah
Waria bikin ulah. Hari Kamis 29 April 2010 di Depok mereka bikin acara. Pada hari itu juga FPI membubarkan acara itu. Tak kapok, besoknya hari Jumat 30 April 2010 mereka malah melakukan Kontes Duta HAM Waria. Kali ini yang membubarkan acaranya adalah Satpol PP Depok.
Alasan para waria itu-itu juga, Hak Asasi Manusia! Mereka beralasan bahwa mereka berhak hidup, berekspresi, dan berorganisasi sebagai waria, wanita tapi pria. Mereka membuat opini bahwa mereka menjadi waria karena memang mereka diciptakan sebagai waria sejak lahir.
Alasan ini sungguh sangat tidak argumentatif. Mana ada bayi yang sudah waria sejak lahir. Kalau yang berkelamin ganda memang ada. Tapi bayi itu bukan waria. Mana ada bayi wanita tapi pria. Kalau yang berubah secara alami ketika masa pubertas memang ada. Ketika kecil dia pria berkelamin double, kemudian setelah dewasa kelamin wanitanya yang lebih berfungsi, dadanya membentuk payudara, pinggulnya membesar, suaranya menjadi merdu, maka dia memang wanita. Bukan wanita tapi pria. Ada juga pria yang gerakannya gemulai, suaranya mendayu-dayu. Tapi mereka adalah pria sejati. Bukan wanita tapi pria.
Itu secara fakta yang bisa kita lihat sekarang. Lalu bagaimana dengan di masa-masa awal masyarakat manusia. Karena kita tidak bisa melihat langsung, maka kita merujuk kepada informasi dari Allah SWT yang menciptakan manusia pertama, yaitu Adam, manusia kedua yaitu Hawa, dan anak cucunya. Adakah yang wanita tapi pria?
Dalam al-Qur`an Surat An-Nisaa` ayat 1. Allah SWT berfirman:
Yaa ayyuHannaasut taquu rabbbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wa khalaqa minHaa zaujaHaa wa batstsa minHumaa rijaalan katsiiran wa nisaa`an wat taquullaaHal ladzii tasaa`aluuna biHii wal arhaama innallaaHa kaana ‘alaikum raqiiban
Artinya:
Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri seorang (Adam) dan daripadanya Allah menciptakan istrinya (Hawa). Dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta dan kasih mengasihi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa` : 1)
Ternyata yang ada cuma dua jenis: pria dan wanita. Tidak ada jenis waria, wanita tapi pria.
Jadi, kapan waria itu ada? Waria ada ketika ide liberal dan pluralisme mulai diperjuangkan pada abad ke-18, dan memuncak di era 60-an ketika John F. Kennedy tokoh pluralisme terpilih jadi presiden AS. Untuk di Indonesia, kaum waria ini mendapat tempat ketika Gus Dur, bapak pluralisme jadi presiden RI. Untuk membentengi diri dari serangan dipakailah HAM (baca: Hak Akan Maksiat) sebagai tameng.
Sayangnya, presiden RI yang sekarang diam saja melihat kemungkaran di depan hidungnya, hingga ormas FPI harus turun tangan. Walikota Depok pun baru beri instruksi ke Satpol PP untuk tertibkan acara itu setelah FPI turun tangan. Menteri Kominfo juga membiarkan para pelawak dan aktris berperan waria. Ternyata War on Waria, sudah sulit berharap ke penguasa-penguasa seperti mereka. Apakah harus People Power?
Anda dapat berlangganan artikel dari MediaIslamNet | portal opini dan solusi islami dengan menggunakan alamat email Anda untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung ke inbox email Anda. Caranya mudah saja, tuliskan alamat email Anda pada kolom di bawah ini, kemudian klik Sign Up!
| Sen | Sel | Rab | Kam | Jum | Sab | Ming |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Agu | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||