“Prostitusi Online”

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 13 Februari 2013

s27PUpS5I3

Pesantren Media kembali mengadakan diskusi aktual  yang rutin dilakukan setiap seminggu sekali. Topik-topik yang dibahas pun adalah yang menarik dan sedang up to date.  Kali ini yaitu hari Rabu, 13 Februari 2013 diskusi mengambil topik dengan tema “Prostitusi Online”.

Seperti yang kita ketahui, berita yang sedang ramai diperbincangkan beberapa hari ini adalah tentang mahasiswa IPB yang diduga menjadi bos dari jaringan prostitusi online. Dia bernama Hemud Farhan Ibnu Hasan yang merupakan mahasiswa semester  Xll, Jurusan Agrobisnis, Fakultas Ekonomi Manajemen, IPB. Pada Jumat (8/2) lalu, sekitar pukul 18.00 WIB, pihak Ditreskrimsus Polda Jabar mengamankan Hemud (24 tahun) di sebuah kamar bernomor lima, Hotel Papaho, Jalan Padjajaran, Kota Bogor bersama tiga gadis belia.

Melalui blog miliknya di penyedia blog gratis–kini blog tersebut sudah dihapus, Hemud sudah menjalankan bisnisnya sejak enam bulan yang lalu. Modusnya, yaitu menyediakan dan memperdagangkan wanita. Seperti  yang dikutip dari republika online, jaringan ini terungkap berkat dilakukannya patroli cyber yang dilaksanakan Diterskrimsus Polda Jabar sejak dua minggu yang lalu. Hemud pun berhasil ditangkap, dengan dipancing penyidik yang menyamar dengan melakukan transaksi di blog tersebut.

Nah, karena itulah diskusi kali ini membahas topik tersebut. Dan yang menjadi moderator dalam diskusi ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Jika diskusi pekan lalu dipimpin oleh santri Pesantren Media bernama Farid Abdurrahman yang merupakan santri asal Madura, kali ini Ustadz Ir. Umar Abdullahlah yang menjadi moderatornya. Beliau adalah pengajar sekaligus direktur Pesantren Media Bogor.  Sedangkan yang menjadi notulen adalah Siti Muhaira (saya sendiri). Diskusi juga dihadiri oleh santri –santri Pesantren Media yang menjadi peserta dalam diskusi kali ini.

Setelah membuka diskusi dengan basmalah, salam dan sholawat, Ustadz Umar memberikan pengantar terkait topik yang dipilih.

“ Topik diskusi kali ini adalah prostitusi online. Tadinya saya  tambahin menjadi ‘prostitusi online from Bogor’.  Karena terungkap mahasiswa IPB menjadi bos atau  germo dalam jaringan prostitusi online”. Tutur beliau dengan wajah dan suara yang santai namun tetap serius.

“Prostitusi itu artinya pelacuran.” Tambahnya. Kemudian beliau bertanya kepada para santri, “ siapa yang pernah melihat pelacur? Dan siapa yang pernah mendengar lagu tentang pelacur?” tanyanya.

Spontan, para santri ada yang menjawab pernah dan tidak. Berbeda dengan saya yang saat itu tidak menjawab. Alasannya, karena masih berfikir dan mengingat apakah saya pernah mendengar hal itu.  Tidak seperti Noviani Gendaga, santri asal Samarinda yang langsung menjawab pertanyaan dari Ustadz Umar itu. Ia menjawab : “Saya pernah. Itu lagu Peterpan yang judulnya kupu-kupu malam.” Jawabnya.

Mendengar jawaban dari Noviani, Ustadz Umar kemudian menyanyikan bagian depan lagu tersebut. Yang liriknya berbunyi : “Sucikah mereka yang datang?”. Nah, setelah menyanyikan lirik itu, beliau bertanya lagi kepada santri, “ Terus lagu apa lagi?” tanyanya.

“kalau lagunya Iwan Fals banyak itu. Salah satunya adalah lonteku. Tahu artinya lonte? Apa lonte? Tanyanya. “  Tidak ada santri yang mengetahui itu. Kemudian beliau memberitahu kami. “Lonte itu pelacur. Lagu dangdut juga ada. Di Indonesia banyak lagu-lagu tentang pelacur.” Jelasnya.

Setelah membicarakan lagu-lagu tentang pelacur, Ustadz Umar mempersilahkan santri yang ingin mengajukan pertanyaan. Santri yang ingin bertanya pun langsung mengacungkan tangannya. Dan lucunya, Ustadz Umar menghitung mereka dengan cepat. Ada enam santri yang mengacungkan tangannya. Mereka adalah Anam, Fatimah, Wigati, Teh Novi, Putri dan Siti Saudah.

Pertama, Ustadz Umar mempersilahkan Anam untuk menyampaikan pertanyaannya. Ia bertanya, “ Apa hukuman dalam Islam bagi orang yang mengelola situs prostitusi online itu?” Singkatnya, ia bertanya bagaimana hukuman bagi si germo.

Setelah Anam selesai menyampaikan pertanyaannya, Ustadz Umar memberikan  penjelasan tentang germo.

“ Germo adalah orang yang membuat, mengkoordinir, atau menjadikan bisnis. Jadi, perempuan  dianggap sebagai ayam-ayam istilahnya. Jadi yang mengelola bisnis pelacuran itu adalah germo.”  Jelas beliau.

Selain itu, beliau juga memberitahu para santri bahwa sebagai orang media kami harus tahu istilah-istilah seperti itu. Mulai dari istilah yang baik dan tidak. Seperti istilah germo tadi.

Nah, kesempatan kedua diberikan kepada Fatimah Nurul Jannah, santri jenjang 1 SMP untuk menyampaikan pertanyaannya. Ia bertanya, “Bagaimana tanggapan pemerintah Indonesia melihat kasus prostitusi online ini? mereka ngapain aja?”

Dan berikutnya, giliran Wigati yang menyampaikan pertanyaan. Santri asal Riau ini menanyakan, “ Anak SMP yang menjadi pelacur itu melayani siapa saja? Apakah bapak-bapak, remaja, atau dewasa?”

Selanjutnya pertanyaan datang dari Novia Handayani (biasa dipanggil Teh Novi) yang merupakan santri jenjang SMA 2 . Ia menanyakan, “Apa yang harus dilakukan IPB agar mahasiswanya tidak ada lagi yang menjadi germo?”

Saknah Reza Putri, santri asal Banjarmasin ini tidak mau ketinggalan untuk bertanya. Ia menanyakan, “berasal dari mana prostitusi online?”

Setelah Putri selesai menyampaikan pertanyaannya, Siti Saudah yang juga santri asal Banjarmasin langsung berbicara dan menyampaikan pertanyaannya. Sontak saja Ustadz Umar menyuruhnya untuk mengangkat tangan terlebih dahulu sebelum berbicara. Kemudian beliau mempersilahkannya untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan Siti adalah, “kenapa polisi tidak segera menangani kasus ini?”

Mendengar pertanyaan dari Siti, Ustadz Umar bingung karena pada kenyataannya polisi memang sudah bertindak. Buktinya, polisi telah menangkap mahasiswa IPB yang menjadi germo dalam kasus prostitusi online ini.

Alhamdulillah, sesi menyampaikan pertanyaan tela selesai . Dan sesi pertanyaan pun ditutup. Selanjutnya adalah sesi pembahasan pertanyaan-pertanyaan dari peserta . Oya,diskusi kali ini berlangsung dengan santai namun tetap fokus. Juga diselingi oleh candaan dari Ustadz Umar yang membuat para santri tertawa. Udara siang hari ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Udara di luar Pesantren panas karena sinar yang dipancarkan matahari. Meskipun udara di luar panas, para santri tetap semangat.

Pertanyaan  pertama yang dibahas oleh Ustadz Umar adalah pertanyaan dari Wigati. Sebelumnya Wigati menanyakan tentang anak SMP yang menjadi pelacur melayani siapa. Seperti biasa, sebelum menjawab pertanyaan itu, Ustadz Umar bertanya terlebih dahulu kepada para santri, siapa yang bisa menjawab.  Dan karena tidak ada yang menjawab, beliau pun bertanya lagi, “kalian pernah nggak mendengar bisik-bisik atau obrolan-obrolan tentang pelacuran? Misalnya temanmu mengajak pergi ke tempat lokalisasi. Lalu, siapa yang bilang itu apakah anak SMP,  SMA, atau dewasa?” tanyanya.

Jawaban dari santri berbeda-beda. Ada yang mengatakan anak SD dan SMP. Ada juga yang mengatakan orang dewasa. Kemudian Ustadz Umar bertanya lagi kepada santri, “ Pernahkah kalian mendengar temanmu yang pernah berzina? Jika pernah, dari manakah kalian mendengarnya, apakah SD atau SMP?”  Sebagian santri menjawab pernah yaitu anak SD dan SMP.  Untuk ketiga kalinya Ustadz Umar bertanya, “Pernahkah kalian mendengar teman kalian main seks  sama om-om?”.

Santri pun ada yang menjawab pernah dan tidak. Kemudian beliau menjelaskan.

“Di jaman dulu pelacur itu untuk mencari uang. Sedangkan di jaman sekarang, selain untuk uang, barang (misalnya Hand Phone) juga untuk happy fun atau hanya ingin mendapatkan kepuasan seks. Ya, walaupun kebanyakan adalah untuk mencari uang. Oleh karena itu, tinggal kepada siapakah yang punya uang. Berarti kepada orang yang sudah bekerja dan kaya. Ada juga orang yang tidak punya uang tapi melacur dengan pelacur murah yang ada di jalan-jalan. Walaupun yang  mahal sekalipun, itu masih murah. Seandainya ada harga 10 triliun untuk sekali berzina itu juga tetap murah. Karena surga Allah itu jauh lebih mahal dan bukan tidak mungkin gara-gara perzinahan dia, menyebabkan dia masuk neraka.” Jelasnya.

Kemudian beliau melanjutkan, “Orang –orang yang berzina pada peristiwa isro mi’raj  juga ada. Yang jelas, saat itu ada laki-laki yang memakan daging yang  sudah busuk sementara di sebelahnya ada daging yang enak . Ketika melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada malaikat Jibril, kenapa dia seperti itu? Lalu Jibril menjawab,  itu adalah laki-laki yang memiliki istri di rumah yang halal baginya, tapi malah mencari perempuan lain yang tidak halal bagi dia.  Nah, orang –orang yang suka pergi ke tempat pelacuran dan berzinah akan masuk neraka.”

Jadi, untuk jawaban dari pertanyaan Wigati adalah pertama anak SMP atau pelacur lain akan melayani orang yang punya duit. Yang secara umur tidak terlalu tua karena biasanya orang tua itu gaptek ( gagap teknologi) dan umurnya di bawah 50 tahun. Yang kedua adalah remaja yang memiliki wajah ganteng seperti artis dan terkenal  usianya mulai dari SMP. “

Ketika membahas pertanyaan dari Wigati ini, Ustadz Umar memberikan informasi tentang arisan seks yang terjadi di Jember, Jawa Timur.

“Arisan seks itu dilakukan antar teman sendiri, yaitu antar  teman SMA.  Misalnya ada 10 orang, lalu 10 orang itu mengumpulkan uang sebesar  Rp 10 ribu tiap orangnya. Nanti terkumpul  Rp 100 ribu. Dan yang menang  Rp 100 ribu, maka dialah yang pergi ke pelacur. Untuk minggu depan juga seperti itu. Mereka melakukan itu karena tidak mempunya uang untuk membayar pelacur. “ jelas beliau.

Nah, itu tadi jawaban utuk pertanyaan dari Wigati.

Selanjutnya adalah pertanyaan dari Siti yang akan dibahas. Ia menanyakan tentang mengapa polisi tidak segera bertindak. Lalu Ustadz Umar menjelaskan bahwa,” polisi sudah menangkap si pelaku. Sebenarnya pelacuran itu sudah banyak dimana-mana. Tapi  sering kali hanya diterbitkan pada bulan ramadhan. Misalnya di bulan Ramadhan disuruh ditutup, sedangkan pada malam hari dibuka lagi.”

Kemudian beliau menambahkan, “Jarang sekali kita mendengar polisi melakukan tindakan  terhadap prostitusi.  Yang ramai itu kan narkoba. Sedangkan yang prostitusi jarang . Sementara narkoba dengan prostitusi  aslinya kadar kriminalitasnya lebih berat prostitusi. Kalau narkoba itu kan ada uangnya, bisa jadi ini ada prostitusi yang diambil karena mulai dirasa uangnya besar.”  Jelas beliau lagi.

Setelah pertanyaan dari Siti dijawab, Ustadz Umar mengatakan bahwa di Jawa Timur juga banyak bencong-bencongnya.

Tak hanya itu, belia juga menceritakan tentang sejarah penyakit gonore atau kata lainnya adalah raja singa/kencing nanah. Nah, penyakit ini dimulai ketika perang salib. Para pelacur dibawa untuk melayani para tentara salib itu. Baru, ketika Pasteur Dagama ke India, ia membawa penyakit itu hingga akhirnya di india mulai terjangkitlah penyakit itu. Setelah  ke India, lalu penyakit ini dibawa oleh pedagang ke Cina tepatnya ke Kota Kangton. Pada akhirnya dalam waktu 10 tahun seluruh dunia terkena penyakit ini. Jalur perdagangan dan penjajahan juga dibawa oleh orang-orang Eropa. Tapi dibalik itu semua, beruntunglah penyakit itu tidak sampai ke wilayah Islam. Hanya Eropa saja yang membawa penyakit itu. Penyakit itu bisa disembuhkan dengan fenisilin. Namun, setelah fenilisin ditemukan akhirnya pelacuran semakin banyak.” Tutur beliau.

Setelah puas bercerita, kini tiba saatnya untuk membahas pertanyaan dari santri lain. Nah, giliran pertanyaan dari Fathimah Nurul  Jannah yang dibahas. Sebelumnya ia  menanyakan tentang bagaimana tindakan pemerintah dalam kasus prostitusi online ini.

Dan Ustadz Umar pun menjawab, “ Pemerintahan Indonesia adalah pemerintahan yang sekuler. Menganggap bahwa kasus prostitusi ini adalah urusan pribadi, bukan urusan Negara.  Sehingga negara tidak perlu dan tidak boleh mengurusi  urusan seks. Alasannya  karena hal itu adalah urusan pribadi. Jadi, pemerintah itu tidak mengurusi kasus ini. Biasanya, kasus hanya akan diurusi apabila ada uangnya. Pemerintah sekuler seperti  Indonesia  juga tidak mengurusi urusan moral.  Urusan moral hanya mencuat ketika diangkat oleh media massa dan diributkan oleh masyarakat. Nah, apabila tidak diributkan maka tidak akan dapat tanggapan. “  Jawab beliau.

Itulah tadi pembahasan dari pertanyaan Fathimah. Selanjutnya adalah giliran pembahasan untuk pertanyaan dari Teh Novi  yang menanyakan, “apa yang harus dilakukan IPB agar mahasiswanya tidak menjadi germo? “

Kemudian Ustadz Umar menjawab, “Perlu diketahui, dulu IPB terkenal  sebagai penghasil para da’i. Walaupun belajar  tentang ilmu pertanian. Sampai ada yang namanya FKH yaitu Fakultas kesehatan hewan diplesetkan menjadi Fakultas Kyai Haji.  Karena saking banyaknya sarjana kedokteran  hewan  yang  menjadi da’i. Namun, lama-lama IPB menurun. Justru sekarang ini IPB bukan menghasilkan ahli pertanian tapi germo. Saya malu sebagai lulusan dari IPB. “ jelas beliau dengan ada rasa kesal, kecewa dan malu.

Kemudian beliau melanjutkan, “Jadi yang harus dilakukan IPB adalah pertama, anak yang menjadi germo harus dikeluarkan, IPB harus meminta maaf karena tidak bisa mendidik mahasiswanya, dan semua guru agama dipecat.  Kedua, menegakkan syariat islam, pelajaran agamanya diperketat.  Dan yang ketiga, mahasiswa dilarang pacaran dan melakukan pelajaran aqidah yang benar.”

Pembahasan berikutnya adalah pertanyaan dari Puteri yang menanyakan, “ berasal dari mana prostitusi online?” Seperti biasa, Ustadz Umar bertanya kepada santri perihal siapakah yang mengetahui jawabannya. Santri ada yang menjawab Eropa. Kemudian Ustadz Umar giliran menjawab, “setahu saya, awalnya itu dari Amerika Serikat. Lalu ditiru oleh negara-negara yang sudah mengambil  teknologi  online di negaranya, mulai ke Eropa, Jepang, Hongkong, sampai  Indonesia. Anehnya di AS mereka melarang Prostitusi tetapi memperbolehkan  perzinahan. Mereka melarang orang berzina yang disuruh bayar.” Jawaban beliau

“Nah, Prostitusi online tidak boleh dijual dan dijadikan jasa. Misalnya Jasa pembunuh bayaran, mencuri emas, jasa tubuh perempuan online dll.” Tambahnya.

Setelah lima pertanyaan dijawab, berarti tinggal satu pertanyaan lagi. Dan pertanyaan belum dijawab dan dijelaskan adalah pertanyaan dari Ahmad Khoirul Anam, santri asal Sanggau, Kalimantan Barat. Ia menanyakan, “ dalam islam bagaimana hukuman bagi si pelaku/germo?”

Sebelum Ustadz Umar  menjelaskan, beliau bertanya dulu kepada santri, “Apa hukuman orang yang berzinah?” Para santri menjawab hukumnya adalah dirajam.

Kemudian Ustadz Umar member penjelasan bahwa,” orang yang berzinah bagi yang belum pernah menikah maka dicambuk sebanyak 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun. Sedangkan bagi yang pernah menikah maka dirajam. “ Kemudian beliau bertanya lagi,  “bagaimana dengan orang yang menjadi perantara  atau orang yang mengkoordinir?”

Karena tidak ada santri yang menjawab , jadi beliau meneruskan penjelasannya.

“UDi masa Nabi saw ada pria bernama  Abdullah bin ubai bin Salul. Dia adalah orang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dan  munafik. Dia mempunyai budak-budak wanita dan menyuruh mereka untuk melayani tamu atau pedagang  yang kala itu baru datang dari luar kota. Nah, ada seorang budaknya yang tidak mau melacurkan dirinya. Akhirnya Abdullah mengetahui hal itu dan ia pun pergi ke kamar budakwanita itu. Saat ditemui ternyata ia sedang sholat.” Ustadz Umar memberitahu bahwa beliau pernah membuat film tentang budak wanita itu yang At-Taibah/wanita yang bertaubat. Kemudian beliau melanjutkan kembali.

“Budak wanita itu pun dipukuli oleh Abdullah. Namun bagi budak wanita itu tidak apa-apa. Bagi seorang wanita yang telah masuk islam sejak saat itu kehormatan dirinya adalah segala-galanya. Ia tidak akan mau melacurkan diri waIaupun harus dibunuh sekalipun.  Karena itulah yang disebut orang yang bertaubat adalah orang yang tidak mau lagi berzinah.” Jelas beliau.

Itu adalah sekilas cerita tentang budak wanita yang bertaubat. Nah, lanjut lagi.

“Lalu bagi perantara atau orang yang mengkoordinir maka hukumannya adalah ta’jir. Tentu dilihat sejauh mana tingkat bahaya dan kriminalitasnya. Ta’jir itu dimulai dari yang ringan sampai hukuman mati. Lalu dikembalikan lagi kepada qodi (hakim) yang menanganinya. Nah, jadi begitu ya, Nam hukumannya.”

Alhamdulillah semua pertanyaan telah selesai dijawab dan dibahas. Sesi pembahasan pun ditutup. Tetapi sebelumnya saya harus memberitahu kesimpulan dari diskusi ini. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Umar Abdullah bahwa kesimpulannya sangat singkat. Yaitu, prostitusi online dalam islam itu tidak ada.

Ya, Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Diskusi kali ini edisi Rabu, 13 Februari 2013 ditutup pukul 12.00 WIB dengan doa kafaratul Majlis. Semoga diskusi ini bermanfaat untuk kita dan bisa diambil ibrohnya, amiin. Saya, Siti Muhaira mohon maaf apabila dalam tulisan ini terdapat kata-kata yang salah maupun kekurangannya.[Siti Muhaira, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas yang diberikan pemimpin diskusi aktual, dan menjadi bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>