“Bedah Kurikulum Tahun 2013″

Liputan Khusus Diskusi Aktual Pesantren Media Rabu, 5 Desember 2012

Rabu, 5 Desember 2012 Pesantren Media kembali mengadakan dikusi aktual. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya, diskusi aktual ini diadakan di lantai dasar Pesantren Media dengan diikuti seluruh santri Pesantren Media. Pada diskusi kali ini, tentunya kami membahas satu topik yang sedang hangat-hangatnya diberitakan di media massa, Yaitu mengenai “Bedah Kurikulum Tahun 2013.”

Seperti yang diberitakan (ANTARA News) – Pemerintah akan mengubah kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Sekolah Menengah Kejuruan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi.

Pesantren Media mengambil topik tersebut karena dinilai sedang aktual dan dianggap sangat penting terutama bagi para siswa yang akan mengalaminya. Namun Pesantren Media tidak terlalu pusing dengan perubahan kurikulum ini, karena Pesantren Media sudah lebih dulu menggunakan kurikulum tersebut.

Diskusi aktual kali ini sedikit berbeda dengan biasanya. Jika biasanya yang menjadi moderator adalah Ustad Umar Abdullah (direktur Pesantren Media), maka kali ini yang menjadi modertor nya adalah Hawari, salah satu santri Pesantren Media tingkat 1 SMA, dan yang menjadi notulen adalah Ahmad Khoirul Anam. Sudah kedua kalinya diskusi aktual ini dipimpin oleh salah atu santri.

Ustad Umar memang sengaja melatih santri-santri nya agar terampil berbicara di depan umum, selain melatih keberanian juga dapat melatih rasa percaya diri. Itulah Pesantren Media, Mencetak da’i di bidang media.

Diskusi pun akhirnya dimulai. Hawari membuka diskusi ini dengan membaca Hamdalah. “Alhamdulillah kita bisa kembali ketemu dalam acara Diskusi Aktual tanggal 5 Desember 2012, dan kali ini kita akan membahas tema tentang ‘Bedah Kurikulum Tahun 2013’.”

Jika biasanya Ustad Umar selalu memberikan pendahuluan atau kalimat pengantar sebelum memulai Diskusi, Hawari tidak memberikan pengantar apapun, ia tidak tahu harus mendahulukan dengan apa. Maklumlah, baru pertama jadi moderator. Namun keberanian dan kepercayaan dirinya menjadi seorang moderator patut dihargai.

Diskusi pun langsung dimulai dengan sesi pertanyaan. “Silahkan angkat tangannya yang mau bertanya!” Perintah Hawari, sang moderator.

Terlihat beberapa santri mengangkatkan tanganya. Tak tahu berapa persisnya, namun sepertinya tidak terlalu banyak.

Kemudian pertanyaan pun dibacakan satu per satu. Dimulai dari santri akhwat.

“Apa yang salah dengan pelajaran IPA?” Ini adalah pertanyaan dari Ira, santri asal Bogor jenjang 1 SMA.

“Pelajaran IPA dan IPS di SD kan rencananya akan dihilangkan, terus nanti di SMA jurusannya apa, apakah akan diganti juga atau bagaimana?” Pertanyaan yang bagus dari Mayla.

“Apakah perubahan kurikulum ini ada hubungannya dengan Islam, dan apa tujuan mengganti kurikulum ini?” Dua pertanyan ini berasal dari Novia, yang merupakan santri jenjang 2 SMA.

“mengapa bisa terjadi pembedahan kurikulum ini?” Ini adalah pertanyaan dari Wigati, santri asal Siak.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari Neng Ilham, yang juga merupakan salah satu santri jenjang 2 SMA. “Apa pengaruhnya jika kurikulum ini tidak diganti?”

Seluruh pertanyaan dari santri akhwat sudah selesai dibacakan. Diskusi pun dilanjutkan dengan membacakan pertanyaan dari santri ikhwan. “Angkat tangannya ikhwan yang mau bertanya!” Perintah sang moderator.

Ternyata hanya dua orang yang terlihat mengangkat tangannya, yaitu Yusuf dan aku sendiri (Ahmad Khoirul Anam). Kemudian pertanyaan pun dibacakan dimulai dari pertanyaanku sendiri. “Apa saja perubahan kurikulum yang terjadi pada tahun 2013 nanti?” Itulah pertanyaanku. Aku adalah santri yang berasal dari Sanggau, Kalimantan Barat.  Jenjang 1 SMA.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan Yusuf santri asal Sukabumi jenjang 1 SMP. “Bagaimana pemerintah memndang hal ini?”

Semua pertanyaan pun sudah dibacakan. Terhitung ada 7 pertanyaan yang harus dijawab dan didiskusikan. Kemudian Diskusi Aktual pun dilanjutkan dengan sesi menjawab pertanyaan, atau sesi diskusi. Dan pertanyaan yang pertama dijawab adalah pertanyaan dari Ira, “Apa yang salah dengan pelajaran IPA?”

“Ada yang bisa jawab, karena saya bukan ahli pendidikan jadi saya tidak tahu harus ngomong apa.” Ujar Hawari sang moderator yang merasa kesulitan menjawab.

Karena tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya, atau tidak ada yang mau menjawab, akhirnya Hawari sebagai Moderator berusaha menjawab menurut apa yang ia ketahui.

“Kalau menurut saya, seperti yang pernah dijelaskan oleh Ustadzah Lathifah Musa saat pelajaran Membaca Fakta, pelajaran IPA di SD itu seperti tidak ada manfaatnya, yang dipelajari terlalu banyak, seperti pelajaran kerangka, tulang-tulang. Masak anak SD disuruh belajar tulang-tulang, memangnya mau jadi dokter tulang. Dan memang tidak ditemui banyak manfaatnya jika anak SD diajari pelajaran IPA yang terlalu berat, sementara akhlaq nya belum diperbaiki.  Oleh karena itu, pemerintah ingin lebih memfokuskan pada pelajaran budi pekerti.” Itulah pendapat yang disampaikan Hawari.

Mendengar jawaban dari Hawari, sepertinya tidak ada yang mau menambahkan atau bertanya. Sehingga diskusi pun dilanjutkan kembali dengan mendiskusikan pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Mayla, mengenai penghapusan mata pelajran IPA dan IPS yang berhubunagn dengan jurusan SMA nanti.

“Siapa yang mau jawab, angkat tangannya!” Hawari bertanya terlebih dahulu sebelum langsung dijawab olehnya.

Tidak ada yang mengangkat tangannya. Dengan bingung Hawari menjawab. “Yang jelas saya bukan perancangnya ya, jadi kalau mau tahu lebih lanjut silahkan tanya kepada perancangnya, karena secara otomatis jika mereka merencanakan penghapusan pelajaran IPA dan IPS pada SD dan SMP, seharusnya mereka juga mempersiapkan rencana selanjutnya kepada SMA yang mungkin seperti yang dijelaskan oleh Ustadzah Lathifah Musa bahwa yang SMA pelajarannya lebih ke arah pendalaman, jadi apa yang telah diajarkan di SD dan di SMP lebih didalami di SMA, namun jelasnya jurusannya seperti apa saya sendiri belum tahu, karena saya bukan yang merancang.” Itulah sedikit penjalasan dari moderator.

“ada yang mau menambahkan.” Tambah Hawari.

Ustad Oleh yang juga mengikuti diskusi ini pun terlihat mengangkat tangannya, pertanda ia mau menambahkan.

Ustad Oleh menambahkan, bahwa menurut pengamtannya dan juga yang beredar di beberapa media massa, bahwa kurikulum ini nantinya tidak akan membebani masyarakat dan juga gurunya, karena nantinya akan lebih kearah penalaran dibanding hafalan. Dan menurutnya, untuk mengubah secara maksimal kurikulum ini, tidak cukup hanya dalam satu tahun. Karena perubahan itu terkait banyak hal nantinya, misalnya buku-buku paket, meskipun nantinya buku-buku ini akan disediakan oleh pemerintah. Beliau juga menambahkan bahwa pelajaran IPA dan IPS memang akan dihilangkan, tapi substansinya tetap ada pada pelajaran lain, misalnya pada pelajaran PKn, Matematika, bahasa dan lain-lainnya. Dan untuk jurusan di SMA nya Ustad Oleh mengaku bahwa dirinya juga tidak terlalu tahu mengenai hal itu. Ia hanya membenarkan seperti yang dikatakan Hawari tadi, yaitu mengenai pendalaman pelajaran pada SMA nanti.

Ternyata Ustad Umar juga menambahkan sedikit. Kalau biasanya ia menjawab sebagai moderator, sekarang ia menjawab sebagai peserta.

“Sebenarnya rencana kurikulum 2013 sudah bagus, yaitu anak-anak SD dikembalikan pada keterampilan CALISTUNG, membaca menulis dan menghitung. Karena sekarang ini kan banyak anak-anak yang tidak bisa menulis, walaupun bisa SMS, lihat aja di facebook, akhirnya tulisannya kayak anak-anak alay. Dan Matematika juga kebanyakan hanya hafalin rumus, tidak tahu gunanya apa. Dan dari segi itu lah, maka kurikulum 2013 itu bisa dikatakan bagus, sehingga yang ditekankan nantinya adalah CALISTUNG, membaca, menulis, menghitung. Sehingga IPA dan IPS akan digabungkan ke pelajaran lainnay seperti Bahasa dan PKn. Dan mengenai jurusan di SMA tadi, Kemungkinan besar tidak ada penjurusan. Jadi, nanti SMA itu benar-benar akan lebih mendalami IPA dan IPS itu, dan baru di Universitas nanti mereka bisa memilih apa yang akan didalami. Dan Pramuka juga nantinya akan dijadikan pelajaran wajib,  begitu juga dengan pelajaran bahasa akan lebih ditekankan.”

Itulah jawaban sekaligus tambahan dari Ustad umar. Kemudian diskusi pun berhenti sejenak, karena sang moderator perlu ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, diskusi pun kembali dilanjutkan. Selanjutnya menjawab pertanyaan dari Novia, yaitu mengenai hubungannya dengan Islam, dan apa tujuan digantinya kurikulum ini.

Tanpa menawarkan pertanyaan itu kepada kami. Moderator langsung menjawab pertanyaan dari Novia tersebut.

“Kalau hubungannya dengan Islam pasti ada ya, karena Islam itu memerintahkan agar umatnya berpendidikan, dan sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa untuk mendidik anak-anaknya. Apabila pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya itu salah, maka itu tentunya akan menjadi sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Sehingga saat kurikulum itu salah, maka kurikulum itu harus diganti. Nah jadi jelas sekali bahwa ini ada hubungannya dengan Islam, karena Islam memrintahkan kita untuk menuntut ilmu, dan banyak juga hadits-hadits dari Rasulullah yang menyruruh kita untuk menuntut ilmu. Bahkan di dalam Islam, menuntu ilmu itu wajib.”

Itulah jawaban dari Hawari mengenai hubungan Islam dengan Kurikulum. Lalu dilanjutkan  pertanyaan yang kedua dari Novia, yaitu mengenai tujuan digantinya kurikulum.

“Ada yang bisa jawab? angkat tangannya!”

Tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya.

“Tadi sepertinya sudah dijawab kan, yaitu karena ada beberapa penyebab seperti yang sudah disebutkan tadi. Ada yang mau menambahkan?” Tanya moderator kepada peserta lainnya.

Jadi karen pertanyaan ini sudah dijawab di depan tadi, jadi pertanyaan ini langsung dilewat saja dan sudah dianggap terjawab.

Ya, karena tidak ada yang mau menambahkan, maka diskusi dilanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Wigati, mengenai kenapa bisa terjadi pembedahan kurikulum.

“Tadi sudah dijawab kan.”

Karena pertanyaan Wigati juga  sudah terjawab di depan tadi, maka tidak dijawab kembali. Yaitu karena kurikulum sekarang, terutama pelajaran IPA dianggap tidak sesuai untuk anak SD, dan dianggap terlalu berat, ditambah lagi karena materi pelajaran yang banyak.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan dari Neng Ilham, yatiu pengaruh jika kurikulum tidak diganti.

Hawari sebagai moderator langsung menjawab. “Saya rasa jika tidak diganti, pendidikan Indonesia akan terus menerus dalam keterpurukan, seperti yang sering terjadi sekarang bahwa masih sering terjadi tawuran-tawuran, itu kan membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia perlu dibenahi, terutama budi pekertinya. Saya rasa begitulah. Ada yang mau menambahkan?”

Ternyata tidak ada yang mau menambahkan. Masih tersisa dua pertanyaan lagi yang belum terjawab, yaitu pertanyaan dariku dan dari Yusuf.

Diskusi pun dilanjutkan dengan pertanyaan dari aku sendiri,  yaitu mengenai apa saja perubahan kurikulum yang terjadi pada 2013 nanti.

“Mata pelajaran yang diganti diantaranya IPA dan IPS, dan sebenarnya tidak dihapuskan, tapi disatukan ke pelajaran lainnya, dan juga masalah ujian, katanya sih nanti ujian akan dilakukan tanpa pengawas, karena pada satu ruangan itu terdapat 20 paket, jadi setiap anak akan mendapatkan soal-soal yang berbeda.” Hawari menjawab dengan singkat.

Ya, tak terasa sudah 6 pertanyaan yang terjawab, tinggal satu pertanyaan lagi dari yusuf. “bagaimana pemerintah memandang hal ini?”

Ustad Oleh pun berkomentar. “jadi pertanyaannya ini belum jelas. Memandang hal apa? Kan yang buat kan pemerintah sendiri. Mungkin pertanyaannya adalah, mengapa mempertimbangkan untuk perubahan kurikulum 2013?”

Kemudian Hawari juga menambahkan. “Saya memiliki jawaban dari pertanyaan Yusuf, saya pemerintah memandang ini baik-baik saja.” singkat sekali jawaban dari Hawari.

Ya,  akhirnya semua pertanyaan pun telah berhasil terjawab, Namun sebelum sang moderator menutup diskusi ini. Ustad Oleh menambahkan sedikit mengenai diskusi kali ini.

“jadi saya berharap dengan diskusi itu, didapatkan jalan keluar dari pembahasan, sehingga ketika pulang kita punya jawaban kenapa membahas masalah ini? jadi karena ini memang penting bagi kita, karena kita memiliki kejelasan mengenai Islam, dan Islam yang akan di tawarkan kepada masyarakat dari diskusi ini, bahwa sejak dulu Islam sebenarnya sudah memiliki kurikulum yang jelas tentang pendidikan, dan kurikulum tersebut bertujuan untuk mengantarkan masyarakat yang akhlaqnya bagus, keimanannya kuat dan memiliki keilmuan. Dan kita patut apresiasi  bahwa pemerintah telah menyadari kesalahannya, agar bisa menjadi bagus. Jadi solusinya itu kembali kepada Islam.” Itulah sedikit tambahan dari Ustad Oleh.

Kemudian sebelum ditutup ternyata Ustad Umar juga mau menambahkan sedikit.

“tadi ada yang bertanya nggak mengenai apa itu kurikulum. Jadi kurikulum itu adalah rangkaian pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik untuk membentuk target pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, itulah kurikulum. Jadi kurikulum yang ada di dalam Islam itu dikuatkan pada Akidah Islam, kemudian pengetahuan-pengetahuan dasar yang harus dikuasai oleh seseorang dalam kehidupannya, seperti membaca al-Qur’an dan sholat. Bahkan dulu, pada zaman Nabi Muhammad, tawanan-tawanan Perang Badar itu diwajibkan mengajarkan minimal 10 orang anak atau orang yang belum bisa baca sebagai tebusannya. Jadi, nggak boleh orang Islam itu nggak bisa baca, karena membaca adalah hal yang paling dasar, kemudian berhitung, dan menulis. Jadi secara dasar rencana kurikulum 2013 itu sebenarnya sudah dilaksanakan oleh Pesantren Media sejak 2 tahun yang lalu. “

Itu adalah sedikit tambahan dari Ustad Umar.

“Baik, kesimpulan akhir saya, ternyata pemerintah itu meniru Pesantren Media ya.” Ujar Hawari dengan penuh canda.

Semua peserta pun tertawa mendengar ucapan Hawari barusan, termasuk Ustad Oleh dan Ustad Umar.

“Jadi menurut pemerintah, pendidikan di Pesantren Media itu patut di contoh ya.” Lanjut Hawari dengan candanya.

Akhirnya Diskusi pun kali ini berakhir, dengan permohonan maaf dan salam, Hawari pun mengakhiri Diskusi  ini. ”Sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Billahitaufik walhidayah, Wassalamualaikum warah matullahi wabarakaatuh.”

Dan saya sebagai notulen juga mohon maaf jika ada penulisan dan informasi yang salah. Wassalamualikum warah matullahi wabarakatuh.

[Ahmad Khairul Anam, santri kelas pertama SMA di Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini adalah sebagai tugas menjadi notulen pada diskusi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>