Liputan Khusus Diskusi Aktual “Apa Sebab Indonesia Terbebas dari Krisis Ekonomi”

Mohon maaf sebelumnya kepada para pembaca setia reportase hasil diskusi aktual mingguan yang diselenggarakan MediaIslamNet dan Pesantren Media. Sebabnya apa? Sebabnya saya menuliskan laporannya telat, sangat telat bahkan. Saya tidak hendak mengampuni diri sendiri sebagai alibi atas keterlambatan menuliskan laporan ini untuk disajikan kepada pengunjung dan pembaca setia website mediaislamnet.com. Tetapi sejujurnya memang sejak kamis pagi (17 November) hingga ahad sore (20 November) jadwal saya cukup padat, sehingga agak merepotkan membagi waktu untuk menuliskan laporan ini karena kegiatan saya juga memang didominasi dengan hal yang tak jauh dari menulis dan hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan remaja: mengisi seminar, mengisi workshop, siaran di radio, dan juga menulis beberapa artikel lain, ditambah harus mengecek tugas-tugas menulis para santri Pesantren Media dan juga mengelola beberapa website dan blog yang menjadi tanggung jawab saya dalam editing konten dan maintenance-nya. Jadi sekali lagi saya mohon maaf atas keterlambatan melaporkan hasil diskusi. Semoga belum informasinya belum basi.

 

Pada edisi 16 November 2011 lalu, diskusi  rutin ini dihadiri Burhan, Lucky, Junnie, saya sendiri, juga para santri Pesantren Media dan tak ketinggalan Ustadz Umar Abdullah dan Ustadzah Latifah Musa. Saya sendiri telat datang, lewat 15 menit dari waktu yang ditentukan (pukul 16.00 WIB). Peserta sudah kumpul dan pembahasan baru saja akan dimulai. Tema diskusi aktual yang dipilih adalah “Apa Sebab Indonesia Terbebas dari Krisis Ekonomi”. Ya, tema ini menarik sekaligus menggelitik. Sebelum diskusi dimulai, ketika publikasi diskusi ini dirilis di website mediaislamnet.com dan halaman facebook mediaislamnet, ada yang berkomentar bahwa Indonesia belum bebas dari krisis karena banyak rakyatnya yang miskin. Benarkah pernyataan ini? Tidak.

 

“Harus dibedakan antara krisis ekonomi dengan fakta kemiskinan. Krisis ekonomi lebih difokuskan kepada kondisi keuangan negara. Meski banyak rakyatnya yang miskin, tetapi jika kondisi keuangan negaranya baik, belum disebut sebagai negara yang sedang dalam krisis,” Ustadzah Latifah menyampaikan pendapatnya. Jawaban beliau atas opini di halaman facebook yang saya ajukan sekaligus menjadi pembuka diskusi aktual mingguan.

 

Dipertegas oleh Ustadz Umar Abdullah, “Ibarat seorang ayah, kepala keluarga, dia belum disebut keluarganya mengalami krisis ekonomi meskipun anak dan istrinya kekurangan secara finansial. Tetapi memang disebut dzalim saja. Menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.”

 

Ya, ini arah pembahasan diskusi dengan tema “Apa Sebab Indonesia Terbebas dari Krisis Ekonomi”. Dibanding Amerika Serikat yang babak belur kondisi keuangan negaranya, atau Yunani dan negara Eropa lainnya yang digerus krisis ekonomi global, Indonesia termasuk yang tahan banting. Tak terkena dampak tersebut. Apa sebab? Bahwa fakta kemiskinan di Indonesia masih banyak, memang benar. Bahwa fakta angka pengangguran di Indonesia kian tinggi, itu juga tidak salah. Namun secara umum, negara belum dikategorikan krisis secara ekonomi.

 

Menarik menyimak obrolan peserta diskusi. Abdullah, peserta diskusi dari kalangan anak-anak (kelas 4 homeschooling) yang ikut serta bertanya dengan polosnya, “Sebenarnya krisis itu apa sih?” Hadirin tertawa mendengar celetukannya. Apalagi dia mengembel-embeli bahwa pertanyaan tersebut dari Om Burhan. Abdullah, menjadi pencair suasana diskusi. Pertanyaan Abdullah tetap dijawab. Ustadzah Latifah Musa memberikan perumpamaan, “Ya seperti krisis air. Artinya kesulitan air” Abdullah tampak tersenyum puas. Rupanya dia mulai bisa menghubungkan istilah krisis dengan ekonomi. Jika digabung berarti kesulitan ekonomi.

 

Meski diskusi sempat melebar terlalu jauh dari pokok pembahasan,tetapi kemudian berhasil dikembalikan pada fokus permasalahan. Seperti ketika Ustadz Umar Abdullah mencoba membahas perbedaan antara krisis ekonomi dengan fakta kemiskinan yang jika tidak dihentikan dan diarahkan ke pokok bahasan akan melebar terlalu jauh.

 

Ustadzah Latifah Musa menyampaikan alasan mengambil tema diskusi pekan tersebut. Yakni, ketika dirinya mengajar di sebuah sekolah. Waktu itu ia melontarkan pertanyaan kepada murid-muridnya, “Apa kalian tidak tahu bahwa dalam minggu ini Kepala Negara kita berpidato dalam sebuah Pertemuan Tingkat Tinggi Negara-negara se-Asia Pasifik?”  Saya sedikit menyinggung tentang Pidato SBY dalam Forum Bisnis APEC tanggal 15 November 2011. “Tahukah Antum semua, bahwa Indonesia adalah negara yang sanggup bertahan dari krisis global?”

 

Lebih lanjut Ustadzah Latifah menjelaskan, “Di kelas satu ini, mereka semua sudah tahu bahwa saat ini AS sedang dalam krisis utang yang memalukan dan Uni Eropa sedang habis-habisan dihajar krisis yang sama. Tentulah dipandang membanggakan oleh pemerintah, ketika pengusaha-pengusaha multinasional menyimak dengan tekun penjelasan SBY tentang resep keluar dari situasi krisis ala Indonesia.”

 

Ketimbang Presiden SBY yang menjelaskan bahwa resep pemerintahannya terhindar dari krisis ekonomi adalah karena adanya formulasi tertentu di bidang ekonomi dan juga pemberantasan korupsi, seorang anak  di SMP Homeschooling tersebut menjawab sederhana, ““Rakyat Indonesia tahan krisis, karena sehari-harinya sudah biasa miskin, Bu!”, katanya. “Jadi tidak ada bedanya, krisis atau tidak krisis. Karena sehari-harinya sudah biasa krisis.”

 

Mencengangkan jawabannya, dan sekaligus menggelitik. Ada benarnya juga anak ini. Jawaban muridnya Ustadzah Latifah Musa yang diceritakan kembali oleh beliau dalam forum diskusi ini menjadi inspirasi untuk merumuskan dan menyimpulkan sebab-sebab Indonesia terbebas dari krisis ekonomi global. Penjelasan ini juga sekaligus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Junnie Nishfiyanti tentang apa saja yang dibahas dari Pertemuan Tingkat Tinggi Negara-negara se-Asia Pasifik (APEC).

 

Suasana diskusi makin asik ketika waktu sudah menunjukkan di kisaran angka 17. Sudah setengah jalan. Beberapa rumusan sudah mulai disiapkan karena diskusi sudah memasuki babak akhir. Ustadz Umar Adbullah sempat menceritakan bahwa Indonesia pernah mengalami krisis di tahun 1998. Beliau juga sempat beseloroh kepada beberapa santri Pesantren Media menanyakan apakah mengetahui peristiwa tersebut. Neng Ilham, salah satu santri akhwat menjawab bahwa pada saat itu usianya baru 2 tahun. Peserta diskusi terpancing tawanya dengan informasi tersebut.

 

“Indonesia mulai diterpa krisis ekonomi  sejak Agustus 1997. Banyak perusahaan tutup. Dolar naik hingga Rp 15.000 per dolar. Perusahaan bangkrut karena utang mereka dalam bentuk dolar. Ekspor Indonesia turun, meski impor agak naik. Bank dilikuidasi. Karena tidak berjalan sesuai mekanisme: simpan-pinjam, sedikit yang simpan, banyak yang pinjam,”demikian paparan singkat Ustadz Umar melengkapi informasi dalam diskusi ini.

Ustadz Umar Abdullah juga menjelaskan bahwa ada yang lucu dengan pemerintahan Amerika Serikat yang mulai panik dengan kebangkitan Cina. Obama sempat meminta Cina untuk tidak mempermainkan nilai mata uangnya untuk bertahan di level bawah, “Secara sistemik Cina tidak mau menaikkan nilai mata uang Yuan. Supaya produksi dan distribusi barang jadi murah. Ini mengakibatkan sektor produksi dan distribusi barang-barang AS tak kuat bersaing di pasar karena mereka mengandalkan nilai tukar mata uang dollar terhadap mata uang negara lain,” paparnya.

Secara sederhana untuk memahami masalah ini, Cina memang memberikan peluang bagi sektor produksi dan distribusi bagi para pengusaha di negaranya untuk bisa bersaing di pasar. Harga dibuat murah karena ongkos produksi dan distribusi murah disebabkan mata uang Yuan tak ikut beranjak naik meski mata uang dollar naik. Cina tidak mau menstandarkan mata uang Yuan ke dolar. “Amerika ini memang aneh. Kalah bersaing malah meminta pesaingnya menurunkan kekuatannya,” seloroh Ustadz Umar Abdullah menanggapi fakta tersebut.

Terbiasa miskin

 

Ustadzah Latifah Musa menyampaikan bahwa, “Sebenarnya Presiden  tak layak bicara tentang kehebatan-kehebatan timnya. Ketahanan terhadap krisis yang sesungguhnya itu ada pada seluruh rakyat. Mayoritas rakyat Indonesia yang miskin namun bermental baja dan berhati pualam. Presiden seharusnya bicara di hadapan pemimpin-pemimpin negara se-Asia Pasifik tentang kehebatan rakyat Indonesia yang ikut membantu negara terbebas dari krisis ekonomi”

 

Dalam diskusi ini, lalu disusun bersama poin-poin apa saja yang dimiliki umumnya rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini dalam ‘membantu’ pemerintah terbebas dari krisis ekonomi global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa. Poin-poin tersebut adalah bahwa rakyat Indonesia umumnya:

 

  1. Nrimo. Menyukuri hidup apa adanya. Bila harga beras naik tak terjangkau, maka mereka mengurangi jatah makan, mengganti menu dengan singkong atau ubi yang lebih murah. Bahkan ada pula yang telah menyumpal perutnya dengan nasi aking. Lebih tragis lagi, di salah satu pelosok negeri ini, ada rakyat yang sanggup memakan biji buah asam. Bukan karena suka, tetapi karena memang sudah tak ada lagi yang dimakan.
  2. Mayoritas masyarakat Indonesia yang miskin ini biasa hemat. Nasi dengan lauk kerupuk, nasi dengan lauk sayur dan nasi dengan lauk kecap, juga sudah biasa. Pedagang yang juga rakyat menyiasati dengan membuat kerupuk dan kecap yang rasanya lebih nikmat.
  3. Untuk menyiasati kenaikan harga-harga, rakyat bisa berkreativitas. Ketika harga daging ayam atau ikan melambung, muncullah menu telor penyét. Ketika harga telor pun melambung, muncullah menu tempe penyét. Harga beras mahal, menjamurlah sega kucing dengan lauk yang hanya sejumput-sejumput. Lidah masih bisa bergoyang walaupun anggaran makan terbatas.
  4. Seharusnya pemerintah berterima kasih karena rakyat kecil tak kenal pasar saham, tak kenal investasi dalam bentuk dollar, tak punya utang di bank. Tahun 2008, penipuan ala Madoff yang membangkrutkan dan memukul perekonomian AS tidak terjadi di sini. Di sini hanya ada Century yang sampai kini masih menyimpan misteri.
  5. Rakyat kecil terbiasa menahan lapar. Mayoritas rakyat yang beragama Islam terbiasa puasa, mulai dari puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, hingga puasa Daud (berselang seling hari). Ada rekan saya yang sengaja berpuasa Daud, karena memang benar-benar sedang kekurangan.
  6. Rakyat kecil mudah bersyukur dan bersedekah. Bagi kaum muslimin, Rasulullah Saw mengajarkan makanan untuk berdua bisa dimakan bertiga. Makanan bertiga bisa dimakan bersama-sama. Rakyat kecil tak pernah membiarkan rakyat kecil lainnya kelaparan. Sedekah membuat kehidupan yang secara hitungan statistik kurang menjadi cukup dan barakah.
  7. Rakyat kecil banyak bersabar, walau kebijakan pemerintah banyak yang  tak bijak sehingga tak layak lagi disebut kebijakan. Kehidupan kian sulit walaupun kata pemerintah ekonomi terus tumbuh. Kenyataannya subsidi banyak dihapus, bantuan banyak dikorup, kekayaan alam milik bangsa dirampok negara lain. Penguasa lebih suka melayani pemimpin penjajah daripada membuat rakyat lebih sejahtera.

 

Ustadzah Latifah Musa mengomentari hasil rumusan diskusi tersebut dengan pendapatnya, “Inilah sebenarnya potensi besar bangsa ini. Semua ini terpancar dari karakter keIslaman yang masih tersisa.”

 

Beliau juga menambahkan komentarnya dengan sindiran telak, “Sayangnya kita semua masih bodoh. Sekiranya kita menggunakan seluruh karakter keIslaman kita, seperti menjalankan perekonomian yang Islami, menghapuskan riba dan segala bentuk perdagangan yang fiktif, memberantasan korupsi yang adil dan tak tebang pilih, dan bagaimana menjadi pemimpin-pemimpin muslim dengan semangat jihad membela kedaulatan bangsa ini dalam rangka menyelamatkan aset-aset negeri yang terampas dan harga diri yang terinjak-injak. Dengan menampilkan seluruh karakter keIslaman mayoritas kita, niscaya tak sulit untuk meretas jalan menuju Indonesia Negara Adikuasa. Bagi rakyat kecil, statemen-statemen tentang keberhasilan Indonesia dalam Forum Tingkat Tinggi itu menjadi begitu kering, kosong dan hampa. Seperti Stand Up Commedy yang bahkan untuk tersenyum getir saja sudah tak bisa. Mengenaskan!”

 

Diskusi berakhir tepat saat adzan Magrib berkumandang dari masjid di komplek perumahan Laladon Permai. Kami semua berkemas sambil mendengarkan saya membacakan poin-poin penting hasil diskusi sebagai bahan untuk menuliskan laporan ini. Semoga Allah Swt memberkahi kita dan memudah segala urusan kehidupan kita. Diskusi dan hasilnya dalam bentuk laporan tertulis ini adalah salah satu bagian dari upaya kami untuk ikut berkontribusi dalam dakwah memperjuangkan tegaknya syariat Islam dan menyadarkan umat Islam akan kehebatan Islam sebagai ideologinya. Insya Allah [OS]