Tsunami di Negeri Miyabi

Oleh Umar Abdullah

Di mana Miyabi saat terjadi gempa? Sedang jalan-jalan di Bali atau sedang bikin film yang bikin syahwat bergempa? Entahlah. Ataukah ikut mati tergerus Tsunami? Yang jelas, saat saya berfikir tentang nasib kaum muslimin di Jepang, tiba-tiba tersebut salah satu kota yang terkena dampak gempa paling parah bernama Miyagi, mirip Miyabi. Kota inilah yang mengingatkan saya dengan nama Miyabi (Maria Ozawa), blasteran Jepang-Canada yang mencemarkan nama Maria (Maryam) dengan tingkah binatangnya.

Miyabi, hanyalah satu diantara jutaan masyarakat Jepang yang memilih liberalisme sebagai cara pandangnya. Sejak Kaisar Meiji di tahun 1868 M memutuskan untuk merestorasi Jepang menjadi negara Kapitalis, sejak saat itu Jepang mengalami dekadensi moral yang cukup parah. Muda-mudinya mengikuti Barat dalam cara berpakaian dan pergaulan.

Kemajuan teknologi perang yang pesat, membuat syahwat Jepang untuk menjajah gaya kapitalis pun bergelora. Dengan semangat nasionalisme, Formosa dikuasai (1895), Korea dianeksasi (1910), Manshuria dijajah (1931), berperang dengan Cina (1937), menghajar Amerika Serikat di Pearl Habour (1942) dan menyerbu kawasan Asia Tenggara (1942), termasuk Indonesia. Setelah takluk tanpa syarat terhadap Amerika Serikat yang mengebom Hiroshima dan Nagasaki bulan Agustus 1945, nafsu menjajah Jepang agak dikebiri, walau masih memungkinkan untuk bangkit lagi.

Dalam urusan menjajah Jepang memang sudah tidak terlalu liberal, tapi tidak dalam urusan liberalisme di bidang lain. Seorang teman yang pernah tinggal di Jepang bilang bahwa di Jepang agama sudah tidak berarti. Agama apa saja juga boleh. Mirip dengan perkataan tokoh liberal, Yudi Latif, yang mengusulkan bahwa sebaiknya di KTP WNI tidak perlu dicantumkan agama. Artinya orang tidak perlu lagi ditanya ”agamamu apa?”. Alasan Yudi, karena agama itu urusan pribadi. Ngomong-ngomong Yudi Latif itu punya agama atau tidak, ya? Teman saya bilang bahwa 90 % orang Jepang berpikiran seperti itu. Otak mereka hanya dipenuhi urusan kerja, kerja, dan kerja. Jadilah mereka Economic Animals.

Disamping tidak pusing dengan agama, ternyata 400 dewa masih juga disembah. Dulu Kaisar Jepang dianggap titisan Dewa Matahari (entah sekarang). Sehingga ketika menjajah Indonesia pun, tentara Jepang memaksa kaum muslimin Indonesia membungkuk hormat kepada bendera Jepang yang berlambang matahari merah.

Kemajuan teknologi Jepang terus berlanjut, walau tidak berbanding lurus dengan kemajuan pemikiran tentang Tuhan dan urusan esek-esek. Perusahaan-perusahaan dan penelitian-penelitian Jepang tersebar di seluruh dunia, termasuk di negerinya si Unyil ini. Kekayaan Jepang menumpuk bahkan mengalahkan guru liberal mereka, Amerika Serikat dan Eropa. Secara ekonomi, Jepang adalah negara adidaya dunia.

Gempa, Tsunami, dan Radiasi

Jumat 11 Maret 2011 jam 2 siang lebih Jepang diguncang gempa 8,9 SR. Beberapa menit kemudian gelombang Tsunami merangsek masuk daratan pesisir timur kota-kota Jepang. Walau sudah membuat teknologi yang mampu membuat gelombang Tsunami setinggi 11 meter menjadi hanya 4 meter, tetap saja gelombang Tsunami memporak-porandakan Jepang. Mobil dan kapal seperti pisang dan ubi dalam minuman kolak. Diperkirakan ribuan orang meninggal dunia akibat bencana ini. Atas musibah ini kami ucapkan “inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’ uun”.

Gempa memang menjadi langganan Jepang, karena Jepang terletak di pertemuan lempeng Pasifik dan lempeng Euro-Asia. Terakhir Jepang ditimpa gempa besar (7,2 SR) tahun 1995. Tepatnya tanggal 17 Januari di kota Kobe. Masih teringat dalam memori saya, bagaimana televisi menayangkan jalan layang yang patah mengerikan. Gempa ini menjadi jalan sekitar 6.000 nyawa lepas dari tubuh-tubuh orang Jepang.

Tsunami juga langganan Jepang. Nama Tsunami pun berasal dari Jepang yang kemudian diadopsi oleh dunia untuk menyebut gelombang laut yang membumbung tinggi. Dan sekarang ada tambahan ancaman baru bagi masyarakat Jepang, yakni radiasi radioaktif karena kebocoran reaktor nuklir akibat gempa, sebuah ancaman yang tidak kalah dahsyatnya dibanding Tsunami. Sampai tulisan ini dibuat, satu reaktor di Fukushima dinyatakan bocor karena gempa, dua reaktor lagi terancam bocor. Tiga orang dinyatakan sudah terkena radiasi radioaktif.

Kemuliaan, Peringatan, dan Siksaan

Gempa, Tsunami, dan Radiasi adalah musibah yang sudah ditakdirkan Allah. Semua telah tercatat dalam Lauhul Mahfudz

Maaaa ashaaba min mushiibatin fil ardhi wa laa fiiii anfusikum illaa fii kitaabin min qabli annabra`aHaa. Inna dzaalika ’alaallaaHi yasiir.

[Tidak ada suatu mushibah (bencana) yang terjadi di bumi atau yang mengenai diri kalian melainkan telah tercantum dalam kitab catatan sebelum Kami laksanakan terjadinya. Sesungguhna hal yang sedemikian itu bagi Allah adalah suatu hal yang mudah sekali]. (QS. Al-Hadid: 22)

Jika ada kaum muslimin di Jepang yang meninggal tertimpa reruntuhan akibat gempa, atau tergulung gelombang tsunami, maka hal itu adalah sebuah kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya. Hal tersebut adalah syahadah. Mereka tergolong mati syahid (syahid akhirat). Rasulullah saw bersabda:

AsysyuHadaa`u khamsatun: al-Math’uunu wal mabthuunu wal ghariiqu wa shaahibul Hadmi wasy syuhadaa`u fii sabiilillaaH.

[Mati Syahid itu ada lima macam: 1. Mati karena penyakit kolera. 2 Mati sakit perut, 3. Mati tenggelam, 4. Mati tertimpa sesuatu, 5. mati pada jalan Allah (misal ketika menuntut ilmu]. (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun bagi kaum muslimin di Jepang ataupun dimanapun, termasuk di Indonesia, jika ia selamat dari musibah yang dahsyat tersebut, semoga hal itu menjadi peringatan baginya agar ia bertaubat (kembali ke jalan Allah). Allah telah memperlihatkan betapa kecilnya manusia sehingga dengan sapuan dan guncangan kecil saja sudah tak berdaya. Allah memperlihatkan betapa dengan mudahnya Ia memusnahkan harta, menghancurkan teknologi manusia dalam hitungan detik. Bahkan jika Allah berkehendak, dalam sekejap Ia mampu melenyapkan Kepulauan Jepang dari muka bumi. Maka tak ada yang bisa menolong kecuali Allah. Tak ada yang patut disembah kecuali Allah. Tak ada yang patut ditaati perintah dan larangannya selain Allah.

Likaylaa ta`sau ’alaa maa faatakum wa laa tafrahuu bimaaaa aataakum. WallaaHu laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuur.

[Perlunya ialah supaya kamu semua tidak berduka cita terhadap apa yang lepas dari tanganmu dan tidak pula bangga terhadap apa yang diberikan Allah kepadamu. Allah tidak  mencintai setiap orang yang sombong serta membanggakan diri sendiri]. (QS. Al-Hadid: 23)

Namun bagi orang-orang Jepang penyembah 400 dewa, penyembah Dewa Matahari, atau orang-orang Jepang yang menganggap agama sudah tidak berarti, gempa, tsunami, dan radiasi adalah siksaan dari Allah di dunia sebagai persekot siksaan di akhirat. Sebagian dari orang-orang kafir ini berusaha membuat opini agar jangan dihubung-hubungkan antara bencana dengan kekafiran mereka. Dengan alasan, bahwa orang-orang mu’min pun terkena bencana. Mereka lupa, bahwa bencana bagi mereka dengan bencana bagi kaum yang beriman kepada Allah adalah berbeda.

Ya, tapi begitulah, bagi orang-orang yang fasik apalagi kafir, bencana tidaklah akan membuat mereka bertaubat, tapi akan semakin jauh dari Allah. Jangankan bencana, kenikmatan dari Allah pun sering membuat mereka makin durhaka. Naudzu billaahi min dzalik. Kisah Negeri Saba’ bisa menjadi ibrahnya.

15. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

16. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.

17. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

18. Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.

19. Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. (QS. Saba`: 15-19)[]