Mencari Pinjaman Tanpa Riba

Tanya:

Aslmkm saya rudi dari lampung, saya mau tanya ada tdk suatu lembaga keuangan islam yg membantu pinjaman modal usaha utk umat islam yg ingin membuka usaha,pinjaman tsb yg tdk memakai bunga/riba dan tdk ada jaminan/agunan serta tdk mempersulit umat islam dlm mendptkan pinjaman tsb,jika ada tlg beritahu saya melalui sms/tlp krn saya jarang mendengarkan radio, dmn bisa saya dpt kan pinjaman tsb,seblm nya saya ucapkan byk trimaksh waslmalkmwrtlh… (+6281272097xxx)

Jawab:

‘alaikumussalam wr wb

Rudi di Lampung, sebetulnya dalam kehidupan berbasis perekonomian kapitalisme termasuk di Indonesia tentu saja tidak akan pernah ada yang disebut dengan lembaga keuangan Islami, sebab antara sistem perekonomian kapitalisme dengan perekonomian Islam adalah bertentangan satu sama lain secara mendasar dan diametral. Perumpamaannya, yang satu berada di ufuk timur dan yang lain berada di ufuk barat, atau yang satu berada di kutub utara dan lainnya di kutub selatan. Artinya, Ideologi Kapitalisme dan Ideologi Islam mustahil berada secara bersamaan dalam satu waktu kecuali jika salah satunya diposisikan sebagai bagian alias sub ordinan dari yang lain.

Inilah yang terjadi di Dunia Islam termasuk di Indonesia, yakni istilah syariah Islamiyah atau disingkat syariah ditempel-paksakan kepada realitas institusi perekonomian kapitalistik, baik itu perbankan maupun non bank. Bank Muamalat Indonesia (BMI) adalah yang pertama kali muncul lalu diklaim sebagai bank syariah di tengah belantara perbankan konvensional ribawi dengan slogan “Pertama murni syariah”. Setelah itu tidak dapat ditahan lagi muncul berham-buran berbagai bank syariah yang merupakan office channeling alias sub divisi dari perbankan konvensional yang telah lama eksis di Indonesia. Demikian juga di arena asuransi, ada asuransi syariah atau bahkan sengaja menggunakan istilah Berbahasa Arab yakni takafful. Pegadaian pun tidak mau ketinggalan untuk ikut bermain dalam arena itu dengan menjelmakan Pegadaian Syariah. Suatu saat akan muncul juga yang lebih “serem” dari itu yakni Kapitalisme Syariah, seperti sebelumnya telah digagas oleh sebuah orpol berbau Islam tentang demokrasi religius yang dengan proses “malu-malu kucing” mengarah kepada demokrasi syariah.

Oleh karena itu, selama sistem perekonomian yang diberlakukan dalam suatu negara adalah kapitalisme, maka selama itu pula tidak akan pernah ada lembaga keuangan Islami kecuali sekedar kosmetik, atau asesoris, atau lips service (hiasan bibir) dan yang pasti itu dilakukan demi kepentingan para konglomerat agar mereka semakin kokoh kuat dalam mempertahankan posisinya sebagai pengendali utama roda perekonomian. Namun demikian, Rudi bisa saja mencoba menghubungi BMI maupun perbankan yang bermerek syariah yang ada di seluruh Indonesia termasuk di Lampung. [Ust. Ir. Abdul Halim]

You may also like...