Kapan Mulai Puasa?

Oleh Umar Abdullah

“Om, kapan mulai puasa?” begitu keponakan saya di Surabaya bertanya via SMS. Mungkin banyak dari kita juga akan bertanya seperti keponakan saya yang masih kelas 1 SMP itu. Pertanyaan yang wajar.

Untuk tahu kapan mulai puasa, harus tahu kapan 1 Ramadhan. Untuk tahu kapan 1 Ramadhan harus tahu kapan 1 Sya’ban. 1 Sya’ban tahun ini (1431 H) jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 13 Juli (2010 M).

Untuk diketahui, Bulan Rajab tahun ini digenapkan 30 hari. Hari Ahad 11 Juli 2010 adalah tanggal 29 Rajab 1431 H. Malam Senin dilakukan Ru’yatul Hilal Sya’ban, namun hilal (baby moon, bulan sabit awal bulan) secara internasional tidak terlihat. Maka bulan Rajab 1431H digenapkan menjadi 30 hari. Sehingga hari Senin 12 Juli adalah tanggal 30 Rajab 1431 H dan hari Selasa tanggal 13 Juli 2010 adalah tanggal 1 Sya’ban 1431 H.

SELASA MALAM RABU
Dua puluh delapan hari kemudian yaitu tanggal 29 Sya’ban pasti hari Selasa. Begitu cara menghitung mudahnya (anak kecil juga tahu, Om). Kalau di kalender Masehi, hari Selasa 29 Sya’ban bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2010. Nah, pada petang harinya (sudah masuk malam Rabu), sesaat setelah matahari terbenam akan dilakukan Ru’yatul Hilal Ramadhan, untuk mengetahui apakah hari Rabu esok harinya sudah masuk 1 Ramadhan 1431 H atau masih 30 Sya’ban.

HISAB MEMBANTU, RU’YAH PENENTU

Allah ingin memudahkan kaum muslimin dalam beribadah. Untuk menentukan kapan mulai puasa maka dilakukan dengan Ru’yatul Hilal agar semua orang bisa menjadi saksi masuknya bulan Ramadhan. Dan dengan ilmu Hisab (Perhitungan) yang dilakukan para ahli, kaum muslimin terbantu untuk menentukan kapan dan dimana hilal bisa dilihat. Jika sudah ditunggu pada waktu dan tempat yang diperkirakan oleh ahli hisab, namun hilal tertutup mendung maka solusinya juga mudah, genapkan saja 30 hari. Dan kaum muslimin mulai berpuasa pada dua hari kemudian. Beres!

Diriwayatkan al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Berpuasalah kalian karena melihat bulan (Ru’yatul Hilal) dan berbukalah kalian karena melihat bulan (Ru’yatul Hilal). Maka jika mendung menghalangi penglihatan kalian, maka sempurnakanlah Sya’ban menjadi 30 (hari).”

Ru’yatul Hilal adalah melihat bulan sabit (babi moon yang menandai lahirnya bulan baru) dari permukaan bumi. Ru’yatul Hilal dilakukan beberapa saat setelah matahari terbenam.

Untuk tahun 1431 ini, ahli hisab di Indonesia memperkirakan bahwa terjadinya Ijtima’ / Konjungsi (posisi bulan tepat di antara matahari dan bumi) pada hari Selasa (29 Sya’ban/ 10 Agustus) jam 10: 08:28 WIB. Sehingga secara perhitungan, bulan sudah berganti menjadi bulan baru pada jam tersebut.  Secara perhitungan pula, Di Jakarta, pada saat matahari terbenam sore harinya, bulan “yang masih bayi” (hilal) akan nampak di atas ufuk dengan ketinggian 02° 26′ 37”. Arahnya 281° 16′ 21″ (arah barat agak ke utara sedikit). Bentuk hilal hampir terlentang (seperti bibir orang tersenyum sedikit miring ke kiri) dengan cahaya 0,25 %.

Secara perhitungan pula, hari itu matahari terbenam pada jam 17:54:32 WIB, dan bulan sudah terbenam di ufuk pada jam 18:06 :27 WIB. Maka Hilal tampak hanya 11 menit 55 detik sejak matahari terbenam. Nah, disinilah mulai berperan ru’yatul hilal. Apakah hilal terlihat atau tidak. Dengan mengikuti angka-angka di atas, buat anda di sekitar Jakarta, bisa ikut melihat hilal Ramadhan. Selamat mencoba!

Jika hilal terlihat, maka bagi yang melihat harus segera memberitahukan ke negara agar diumumkan bahwa malam Rabu sudah masuk 1 Ramadhan. Namun, jika tidak ada satu pun yang melihat hilal, maka Bulan Sya’ban digenapkan 30 hari, dan baru malam Kamis masuk 1 Ramadhan 1431 H.

Jadi, tunggu saja keputusan pemerintah Indonesia pada malam Rabu ini. Biasanya diumumkan sekitar jam 19.00 WIB. Cek juga keputusan pemerintah di negeri-negeri Islam lainnya, karena mestinya secara perhitungan di negeri-negeri sebelah barat Indonesia, seperti India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq, Kuwait, UEA, Bahrain, Qatar, Oman, Yaman, Saudi Arabia, Yordania, Palestina, Suriah, Libanon, Turki, Cyprus, Mesir, Aljazair, Tunisia, dan Maroko, hilal mestinya terlihat lebih tinggi, lebih lama, dan lebih terang dibanding yang terlihat di Indonesia.  Cek juga di lembaga-lembaga yang memantau hilal, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, khususnya Daar Al-Ifta di Mesir yang selama ini memantau dan mengumumkan hasil ru’yatul hilal setiap bulannya. Buka www.daar-alifta.

Insya Allah www.mediaislamnet.com akan ikut membantu mengumumkan hasil Ru’yatul hilal di Indonesia dan di luar Indonesia, pada malam Rabu hingga menjelang fajar. (kalau Adminnya nggak ketiduran lho… he.. he..).

Tanpa bermaksud mendahului hasil ru’yatul hilal, melihat dari ketinggian hilal, menurut saya, kemungkinan terlihatnya hilal Ramadhan tahun ini di Indonesia cukup besar, apalagi di negeri-negeri sebelah barat Indonesia. Sehingga kemungkinan besar puasa dimulai Rabu.[]

Sumber:

  1. Shahih Bukhari (Terj). Penerbit Widjaya. Jakarta. 1992
  2. Pedoman Puasa. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. PT. Pustaka Rizki Putra. Semarang. 2005
  3. Tuntunan Puasa Berdasarkan Qur`an dan Hadits. Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor. 2010.
  4. Data Rukyatul Hilal Awal Ramadhan 1431 H. Syarif Hidayat, S.Ag., Anggota Tim BHR Prop.DKI Jakarta. Upload 13/07/2010.
  5. Wawancara dengan asy-Syaikh Dr. H. Abdurrahman al-Baghdadi

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>