Hubungan Pendidikan Anak di Rumah dan Perilakunya di Sekolah

RADIO TALK SCRIPT | Program : VOICE OF ISLAM | Rubrik: Keluarga Sakinah | Narasumber: Ir. Ratu Erma Rahmayanti (Pembina Forum Mar’ah Shalihah Pusat Pengembangan Islam Bogor) | Tema: Hubungan Pendidikan Anak di Rumah dan Perilakunya di Sekolah

Pengantar

Dalam sebuah buku yang berjudul “Child Psychiatry “, termuat hasil penelitian terhadap sejumlah anak yang mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah, juga mengalami kesulitan dengan teman-temannya dalam pergaulan. Salah satu kasus seorang anak memperlihatkan ekspresi wajah kurang gembira. Ia terlihat lebih banyak murung dan menyendiri. Ia lamban sekali menjawab pertanyaan. Angka-angka yang dicapainya di sekolah kurang dari cukup. Ibu anak itu sedih dengan keadaan anaknya yang demikian.

Dari ibu anak itu diperoleh beberapa keterangan. Keterangan pertama adalah bahwa anak itu ternyata belum cukup umur ketika dimasukkan sekolah. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menentukan. Keterangan kedua ialah bahwa ayah itu adalah seorang lelaki bertipe kasar, sering marah-marah, terlalu galak terhadap istri dan anaknya. Bersikap kasar, sering dia perlihatkan terhadap si anak. Akibatnya anak itu sering merasa tegang di bawah ancaman dan sikap kasar ayahnya. Situasi inilah kemudian menyebabkan perilakunya di sekolah menjurus kurang normal. Ia suka menyendiri. Terhadap guru lelaki, terutama yang mirip dengan ayahnya, ia merasa takut. Melihat lelaki dengan profil seperti ayahnya membuat ambang bawah sadarnya teringat akan figure ayah berikut kekejamannya.

Kasus lain adalah seorang guru yang sering kesal melihat kenakalan seorang anak lelaki berusia enam tahun. Ia sulit diatur. Berkali-kali guru memperingatkannya agar tenang dan tidak menganggu teman-temannya. Tetapi ia tidak memperdulikannya. Sering ia merebut dan memakan bekal makanan teman-temanya, memperlakukan teman-temanya sebagai pesuruhnya dan berbagai sikap lain yang menjengkelkan yang kadang-kadang berakhir dengan perkelahian. Setelah diselidiki, ternyata kedua orangtuanya memperlakukan anak itu dengan sikap manja berlebihan. Orang tua mendidik si anak dirumah dengan cara memenuhi segala keinginannya. Mereka kurang menyadari bahwa dampak negatif cara mendidik yang keliru di rumah, menyebabkan perilaku si anak di sekolah sangat menjengkelkan guru, maupun teman-temannya.

Ahli psikologis dan ahli pendidikan hampir sependapat, bahwa sikap dan cara orang tua mendidik anak di rumah, mempengaruhi perilakunya di sekolah. Anak yang ada di rumah memperoleh pendidikan yang tepat dan benar serta baik, umumnya akan memperlihatkan sikap dan perilaku yang normal di sekolahnya. Ia dapat bergaul baik dengan temannya. Ia mungkin bukanlah murid yang menarik bagi temannya, tetapi setidak-tidaknya, kehadirannya di lingkungan sekolah tidak menjengkelkan. Cara mendidik anak yang tidak edukatif, dapat menimbulkan dampak negatif, antara lain termanifestasi di dalam pergaulan anak di sekolahnya. Sebuah nasehat bijak dalam hal ini ialah. “Jika Anda tidak ingin anak anda mengalami kesulitan dan hambatan di lingkungan sekolahnya, berikanlah mereka pendidikan yang tepat di rumah.

T: Ustadzah, cuplikan cerita diatas dengan jelas menyatakan bahwa ada kaitannya perilaku anak diluar rumah (dalam hal ini sekolah) dengan pola asuh di rumah.  Bagaimana ustadzah menanggapi hal ini?

J:  Tentu saja demikian, pola asuh anak di rumah oleh orangtua mereka atau pun oleh keluarganya, sangat menentukan kepribadian anak.  Jauh sebelumnya Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Anak-anak itu dilahirkan dalam keadaan suci bersih, kedua orangtuanya lah yang menjadikan mereka Majusi, Yahudi, atau Nasrani”. Statemen rasul ini bertemu faktanya yang salah satunya adalah petikan cerita diatas.  Orang sekarang seolah meliha fakta baru bahwa ada keterkaitan antara pola asuh di rumah dengan perilaku anak diluar rumah.  Dalam pembahasan psikologi, melalui penelitian seperti diatas, baru ditemukan kaitannya.  Tetapi Islam, melalui lisan Rasulnya telah memberitakan itu jauh sebelum ilmu psikologi itu ada.  Oleh sebab itu,kita sebagai orangtua harus sangat hati-hati dalam merencanakan dan melakukan pendidikan dan pengasuhan anak di rumah.  Karena rumah khususnya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.  “Al-ummu madrosatul aula”.

T:  Apakah benar bahwa perangai orangtua (apakah baik ataupun buruk) bisa diwariskan pada anak-anak, atau dengan kata lain apakah perangai/sifat itu merupakan gen yang bisa diturunkan?

J: Pernyataan ini tidak benar.  Pertama, secara faktual ada kisah dalam sebuah majalah seorang ayah yang mencari nafkah keluarganya dengan cara mencopet dan menjambret.  Istri dan anak-anaknya tidak mengetahui bahwa suami atau ayah mereka berprofesi seperti itu.  Mereka akhirnya tahu setelah anak-anak dewasa dan mereka bersekolah bahkan ada yang sampai mengecap bangku perguruan tinggi.  Ini menunjukkan bahwa perilaku orangtua bukan sifat yang bisa diwariskan.  Kedua, lain halnya bila ayah mengajak anaknya untuk melakukan hal serupa.  Hingga anak-anaknya mempunyai profesi yang sama dengan ayahnya.  Ini bukan persoalan gen tetapi merupakan pemikiran/pemahaman keliru yang diwariskan pada anak-anaknya.  Lain hal dengan kondisi pertama dia tahu bahwa mencuri itu tidak benar, tetapi ia sangat ingin anak-anaknya sukses dan tidak mengikuti sepak terjang ayahnya.  Ketiga, Islam melarang perbuatan jahat, bila seseorang melakukan kejahatan itu disebabkan ia tidak tahu bahwa Islam melarangnya (jadi ini faktor kebodohan/jahil), atau ia tahu itu perbuatan jahat tetapi ia lalai untuk terikat dengan aturan karena lemahnya kesadaran, atau karena ia kalah melawan godaan syaithan.  Jadi seseorang melakukan kejahatan bukan karena keturunan atau sifat yang diwariskan.

T:  Bagaimana dengan ungkapan bahwa buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya ustadzah? Ungkapan ini banyak dipakai dalam khasanah pendidikan orangtua

J:  Ungkapan para orangtua dulu boleh jadi ada benarnya, bahwa bisa saja anak itu mempunyai perilaku yang tidak berbeda jauh dengan orangtuanya.  Jika orangtuanya baik, anaknya tentu akan baik.  Jika orangtua buruk perangainya, maka anaknya juga tidak akan jauh berbeda.  Boleh jadi ungkapan ini dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap Islam.  Yaitu bahwa orangtua yang baik akan mengajari anak-anak mereka dengan kebaikan.  Sebaliknya, orangtua yang buruk tentu akan memberi contoh buruk kepada anak mereka dan ini akan mempengaruhi perilaku anak.  Hanya saja ini bukan masalah faktor genetis atau bukan.  Melainkan masalah pola pengasuhan anak terhadap anak-anak mereka.  Untuk ini diperlukan kesadaran yang tinggi pada orangtua tentang pendidikan dan pengasuhan anak.

T:  Bagaimana pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh orangtua terhadap anak mereka?

J:  Dalam konsep perbuatan manusia, Islam menjelaskan bahwa ada imbalan untuk perbuatan baik dan ada balasan untuk perbuatan yang buruk. Perbuatan baik akan mendapat pahala dan kemudian nanti mereka berhak untuk tinggal di surga sebagai tempat kembali yang terbaik.  Sedangkan perbuatan yang butuk akan dibalas dengan siksa dan bila tidak segera beraubat, pelakunya akan masuk ke neraka.  Begitupun dalam proses pendidikan anak, Islam mengenalkan bagaimana pendidik harus memberi reward (pujian, imbalan, penghargaan) dan juga punishment (kritikan, sanksi) kepada anak didik sesuai jenis perbuatannya.  Pendekatan ini merupakan pendekatan kealamiahan yang sesuai dengan karakteristik manusia.

5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. 6.Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),. 7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.8. Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[1580], 9. Serta mendustakan pahala terbaik, 10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

[1580] Yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.

… Dan Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

15. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, Maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, Maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.

Jadi, berilah anak-anak itu kabar gembira dan peringatan.  Untuk apa? Tentu kabar gembira dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk selalu mengerjakan kebaikan.  Dan peringatan tentu saja agar mereka menghindari perbuatan yang tidak baik.  Pemberian pujian dan teguran tentu saja menyesuaikan dengan usia anak.  Sebelum nalar atau daya cerna informasinya jalan, mereka dominan dengan isyarat atau visualisasi yang menunjukkan pujian atau celaan.  Maksudnya begini, jangan sampai anak tidak bisa membedakan antara marah dan tidaknya orangtua.  Karena orangtuanya tidak pernah marah, akhirnya dia tidak tahu mana perbuatan dia yang baik dan mana yang tidak.  Begitupula bila orangtua lebih dominan marah, maka anak tidak tahu sebenarnya perbuatan seperti apa yang disebut baik itu.  Baik dan buruk seperti tidak ada bedanya.  Padahal pada masa itulah si anak menerima pembelajaran tentang baik buruknya suatu perbuatan.

T:  Bagaimana orangtua mengenalkan nilai-nilai perbuatan itu baik atau buruk?

J:  Yang paling mendasar adalah orangtua mempunyai visi dalam mendidik anak.  Kemudian visi ini akan diwujudkan dengan strategi yang tepat.  Pertama, tentu dengan contoh (uswah), orangtua harus melakukan perbuatan baik yang diperintahkan Allah SWT.  Orangtua melakukan hal ini dengan tujuan mengajari anak untuk melakukan hal tersebut.  Jangan sesekali melakukan perbuatan yang dilarang tanpa disertai pembetulan atau ralat, saat anak kita mengingatkan.  Bila kita terlanjur melakukan perbuatan tidak baik di depan anak-anak, jangan tunda waktu untuk segera menjelaskan dan memberi pengertian serta meminta maaf.  Walhasil, pendekatan dengan contoh ini memerlukan kesadaran yang ekstra.  Kedua, dengan pembiasaan.  Biasakan kita menentukan objektif dalam segala hal yang terkait pendidikan dan pengasuhan anak.  Objektif tertinggi orangtua adalah menghendaki anaknya menjadi anak sholih, taat pada Allah dan Rasulnya, berbakti pada orangtua dan berguna bagi umat.  Untuk menuju kesana tentunya melewati berbagai tahapan.  Setiap tahapan tentunya mempunyai rincian apa yang hendak dilakukan.  Untuk itu objektif nya pun berlainan dalam setiap tahapan.  Seperti bagaimana agar anak menjadi anak yang berbakti pada orangtua.  Gambaran anak berbakti harus dimiliki oleh orangtua, kemudian dia menentukan cara supaya anaknya bisa seperti itu.  Ada tahapan yang dilalui dan setiap tahapan mempunyai target sendiri-sendiri.  Contoh, bagaimana agar anak mandiri dalam mengurusi keperluan sekolahnya, mulai dari membereskan buku, menyiapkan pakaian seragam sekolahnya, dsb.  Targetnya anak mandiri dan disiplin terhadap tugasnya.  Secara teknis orangtua akan membuatkan jadwal kegiatan anak sehari-hari, mulai dari bangun pagi hingga malam menjelang istirahat.  Sepanjang waktu itu apa saja yang akan dikerjakan anak, dan apa yang menjadi target dari aktivitas tersebut.  Tentunya semua ini memerlukan kesungguhan dan kesabaran dari pihak orangtua.  Karena yang akan kita bentuk adalah pola hidup atau kebiasaan.  Ketiga, pendekatan persahabatan.  Senantiasa mengkomunikasikan apapun yang menjadi harapan dan keinginan orangtua. Gambarkan filosofis (dasar) dari sebuah perbuatan yang dituntun oleh syariah Islam.[]