Pelacur Kuta Bali vs Pelacur Gang Dolly

Oleh Umar Abdullah

detik.com

Di akhir April 2010 ini kita disuguhi dua berita yang terkait pelacur. Yang satu laki-laki pelacur. Biasa disebut gigolo. Yang lainnya wanita pelacur, yang biasa disebut WTS (Wanita Tuna Susila).

Di Bali, pemerintah dan masyarakat Kuta Bali resah dengan beredarnya cuplikan film Cowboys in Paradise di internet yang mengangkat fenomena gigolo di Pantai Kuta Bali. Mereka tidak terima jika Kuta diidentikkan sebagai tempat mangkalnya para gigolo. Walaupun kenyataan lapangan, dan masyarakat Kuta pun tidak menyangkal, bahwa memang ada gigolo di Pantai Kuta. Namun mereka tidak menginginkan adanya gigolo di sekitar mereka. Faktor religiusitas lebih mereka kedepankan dibanding faktor duit. Setidaknya, begitulah yang tertangkap dari kegeraman Gubernur Bali.

Sementara di Surabaya, Pemerintah Daerah ingin menutup Gang Dolly, lokalisasi WTS yang konon terbesar se-Asia Tenggara, karena menjadi sumber penyebaran HIV/ AIDS. Namun masyarakat yang tinggal di Gang Dolly menolak rencana itu, dengan alasan akan mematikan penghasilan mereka. Menurut mereka, para WTS dan laki-laki pezina yang datang ke Gang Dolly adalah objek mereka mencari rizki (baca: yang haram). Tidak risih lagi bahwa tempat mereka hidup dan tempat mereka mencari rizki adalah tempat mangkalnya para wanita pelacur.

Saya pernah ke Bali, termasuk ke Pantai Kuta. Dari lukisan-lukisan orang Bali, nampaknya mereka tidak menabukan ketelanjangan. Mirip dengan masyarakat Hindu India yang juga tidak menabukan ketelanjangan. Mungkin ini yang menyebabkan mereka tidak risih dengan para turis asing yang bertelanjang. Wanitanya hanya memakai swimsuit. Sebagian malah tanpa malu berjemur dan berjalan menyusuri tepian Pantai Kuta (maaf) tanpa memakai BH. Tapi untuk urusan seks nampaknya mereka tidak setuju dengan pelacuran.

Saya juga orang Surabaya asli. Biasa disebut Arek Suroboyo. Umumnya orang Surabaya adalah muslim. Mereka menabukan ketelanjangan. Lihatlah pakaian Cak dan Ning Surabaya. Yang perempuan bahkan pakai kerudung. Kisah Pak Sakerah dari Bangil sangat melekat di benak orang Surabaya. Kisah yang menggambarkan bagaimana berselingkuh adalah sesuatu yang sangat tabu. Apalagi melacur! Tapi mengapa sekarang, orang-orang di Gang Dolly yang mengaku muslim tidak merasa malu hidup dan mencari rezki dari pelacuran?[]

You may also like...

1 Response

  1. ZETA says:

    Itu memang sudah tanda akhir zaman. jadi, sekuat apapun kita mencegahnya, hal itu akan sangat sulit untuk di berantas. islam kan ada tingkatannya. indonesia memiliki penduduk muslim paling banyak. namun yang levelnya mukmin hanya sedikit. apalagi yang muttaqqin. banyak yang fasiq. dan hanya orang2 beriman yang selamat. muslim belum tentu beriman lho.
    terima kasih, maaf jika ada kesalahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>