Depresi Pasca Pemilu

Program: Voice of Islam | Rubrik: Konsultasi Surat | Narasumber: Ir. Lathifah Musa | Topik: DEPRESI PASCA PEMILU

Assalaamu’alaikum. Kerabatku sampai habis-habisan hartanya untuk mencalonkan diri sebagai caleg. Terus terang aku khawatir dengan kondisinya. Bagaimana kalau tidak kepilih ya? 0813485xxxx

Ustadzah, mulai banyak kekhawatiran terhadap banyaknya orang stress sesudah pemilu. Termasuk dari kalangan keluarga caleg. Apa benar sih kondisi ini harus diwaspadai?

Pernyataan ini memang terlontar dari pihak RSJ. Jajaran RSJ dan staffnya di beberapa daerah bahkan sudah mulai berkoordinasi untuk mempersiapkan kalau ada caleg gagal yang mengalami depresi bahkan sampai gila. Karena memang pernah terjadi di suatu daerah ada calon bupati gagal yang kemudian menjadi gila. Mengingat adanya potensi depresi yang besar pasca pemilu, maka wajar kalau pihak yang terlibat dalam urusan orang-orang depresi ini harus bersiap-siap

Bagaimana indikasi tingkat stress atau depresi yang besar pasca pemilu?

Ini karena begitu banyaknya caleg. Jumlah caleg 11868 org dari 38 partai. Jumlah kursi 550 itu baru DPR, belum yang DPRD-I dan DPRD-II. Dalam pemilu legislatif ini, masing-masing harus kampanye. Dana kampanye sangat besar. Apalagi karena kemenangan berdasarkan suara terbanyak, maka masing-masing caleg bekerja sendiri untuk mengkampanyekan diri sendiri. Bagi yang tidak kaya maka solusi ditempuh dengan hutang sana-sini, menggadaikan mobil, sertifikat rumah dll. Rumah pegadaian saat ini cukup ramai dengan gadai-menggadai ini. Kalau jabatan diperoleh, ibaratnya bisa menutupi hutang. Tapi kalau tidak, maka hutang sudah telanjur menumpuk. Jelas ini berpotensi menimbulkan stress.

Menurut pernyataan pihak RSJ, saat ini perkiraan jumlah orang strass  pada Pemilu Legislatif 2009 akan semakin besar dibanding tahun 2004 lalu.

Karena tidak sedikit caleg yang mengeluarkan dana besar untuk mempromosikan” dirinya sehingga sangat potensial mereka akan stres atau depresi saat gagal menenuhi ambisinya.

Bagaimana dengan pihak RSJ? Berarti yang kena masalah dong?

Sebenarnya tidak juga, karena bagi RSJ ini dianggap juga sebagai peluang untuk bisnis. RSJ menyediakan ruangan-ruangan bersih, ber-AC, dengan fasilitas sping bed dan televisi serta jasa psikiater. Tapi tentunya ada biaya. Tau yang penting ada keluarga yang menjamin  biayanya. Yang repot kalau tidak ada yang membayari. Maka yang terjadi adalah masyarakat terancam dengan berkeliarannya orang-orang stress.

Bagaimana bentuk persiapan RSJ?

Salah satu RSJ di Surabaya telah menyiapkan 30 bed dalam kamar VIP dari 240

bed yang tersedia. Dari total kamar itu, sudah terisi sekitar 50 hingga 60

persen pasien. Rata-rata tiap pasien dirawat selama satu hingga dua bulan.

Selain itu, pihaknya juga sudah menambah tenaga paramedis, yakni delapan tenaga psikiatri, 10 dokter umum dan satu unit ambulans penjemput. “Semuanya untuk antisipasi.

Adanya persiapan khusus karena memang dianggap pasien-pasien adalah orang-orang berpendidikan.

Apa sebenarnya yang menyebabkan orang depresi?

Karena ada yang tidak terpenuhi. Manusia memiliki kebutuhan fisik dan naluri. Ketika kebutuhan fisik tidak terpenuhi, bisa membawa kepada kematian. Ketika naluri tidak terpenuhi bisa membawa pada kegelisahan. Tingkat kegelisahan yang tinggi bisa menyebabkan depresi. Ini berpengaruh pada kemampuan memenuhi kebutuhan fisik. Orang susah tidur, susah makan, tidak ada motivasi hidup lagi dll. Kalau sudah begini tentu bisa menjurus kepada kematian. Atau ketika kegelisahan sudah tidak terbendung sementara akalnya sulit untuk berpikir, maka ada korslet pada sel syaraf otak. Ini berpengaruh pada kemampuan berpikir. Muncul gejala-gejala seperti halusinasi, rasa takut berlebihan, rasa  kecewa berlebih, sehingga ybs bisa tiba-tiba marah, bisa tiba-tiba menangis dan bisa tiba-tiba tertawa.

Ini kondisi akal yang sudah tidak mampu mengendalikan naluri. Secara medis dikatakan gangguan psikologi, jiwa. Masyarakat menganggap gila.

Mengapa sampai ada media nasional yang membahas bahwa caleg-caleg ini berpotensi depresi atau mungkin gila?

Banyak media yang membahas masalah ini. Ini karena penelusuran terhadap perilaku caleg sudah tidak realistis lagi. Di saat krisis yang menurut mayoritas masyarakat sudah sulit mencari pendapatan lagi, begitu banyaknya uang terhambur untuk hal-hal yang tidak realistis. Misalnya, bagi-bagi kaos, bikin spanduk, bagi-bagi uang, sewa grup musik dangdut dll. Biayanya minimal 200 juta untuk satu orang. Padahal ini tidak berkorelasi positif dengan hasil pemilihan. Masyarakat sekarang sudah bisa berpikir. Kalau dibagi uang, ambil uangnya, tapi contreng mana, itu persoalan lain.

Apakah kondisi ini kesalahan individu atau penyimpangan system?

Sistemnya salah, individunya terseret dalam kesalahan. Pemilu sekarang tidak merepresentasikan asporasi rakyat. Mekanisme sistemnya juga membentuk demikian. Partai politik lebih banyak berperan sebagai calo untuk mendudukkan anggotanya dalam legislative. Di satu para caleg berharap menjadi aleg adalah pekerjaan, jabatan atau kedudukan yang bersifat materi, Bukan pengabdian atau perjuangan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Sangat sedikit caleg yang didukung oleh rakyat/grassroot. Jadi anggota DPR atat DPRD seperti cari kerjaan saja. Yang dikejar adalah gajinya, tunjangannya, peluang-peluang bisnisnya bukan yang lain. Tapi memang seperti itulah system politik demokrasi.

Bagaimana seharusnya politik menurut Islam?

Politik itu adalah riayatus syu’uni ummah. Mengurusi urusan umat. Dalam kedudukan sebagai penguasa, ia adalah pelayan umat. Sehingga orientasinya melayani umat. Seorang pemimpin takut apabila urusan umatnya terbengkalai. Di dalam Islam seorang pemimpin adalah orang yang terakhir kenyang, terakhir tidur dan terakhir istirahat. Dia belum akn bisa tidur ketika rakyatnya masih kelaparan dan masih kedinginan karena tidak ada perlindungan. Sementara partai politik bagaikan guru bagi rakyat. Parpol menjalankan fungsi edukasi/pendidikan politik. Mengajari bagaimana seharusnya urusan rakyat diselesaikan sesuai dengan hukum-hukum Allah. SEorang politikus partai adalah Ustadz-ustadz bagi masyarakat. Berpikir selalu bagaimana mencerdaskan rakyat. Masyarakt yang cerdas adalah masyarakat yang memahami bagaimana persoalannya bisa diselesaikan sesuai dengan syariat Allah SWT. Masyarakat cerdas ini yang akan mampu senantiasa meluruskan kepemimpinan. Kondisi kenyataan demokrasi sangatkan memprihatinkan. Karena ternyata para politikusnya justru berpeluang untuk bisa terserang gangguan jiwa. Ini sangat jauh dari tuntunan Islam[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *